MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Sebelas : Keributan


__ADS_3

Kanaya berjalan menuju ruang tengah sambil membawa nampan yang berisi suguhan untuk kedua orang tuanya. Kanaya menyajikannya di atas meja, menyajikan kue kering serta kopi susu spesial untuk ayahnya dan coklat hangat untuk ibunya, setelah itu Kanaya kembali duduk di samping ibunya.


"Sepertinya kita butuh liburan sejenak. Sudah lama kita tidak liburan bersama bukan,"tutur Herdi yang sambil terlihat memijat-mijat keningnya yang mulai terasa pusing.


"Setujuuu.......Kanaya setuju, ayah."Kanaya begitu bersemangat saat mendengar kata 'liburan'. "Kita akan liburan kemana, ayah?" tanya Kanaya.


"Ibu juga setuju, sepertinya kita harus beristirahat sejenak. Terakhir kita liburan bersama sudah sekitar 5 tahun yang lalu kan?" ucap Anna.


"Benar, bu. Saat itu kita pergi liburan ke Singapura, walau tidak lama tapi sangat berkesan. Apalagi saat koper ayah tertukar dengan koper nenek-nenek cerewet itu, hahahaha...... itu sangat lucu kan, bu?" Kanaya melihat reaksi ibunya.


Anna pun mengangguk, sambil menahan tawanya. Sepertinya sangat susah untuk menahan tawanya, sampa Anna pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Ibu ingat tidak saat ayah diomelin nenek-nenek itu, padahal ayah sudah berniat baik untuk mengembalikkan koper. Nenek itu mengira kalau ayah telah mencuri kopernya dengan sengaja, haahaa." Kanaya terdiam saat melihat ayahnya yang memandang dirinya dengan tatapan sinis.


"Ayah, kali ini kita akan pergi kemana?"Kanaya kembali bertanya lagi.


"Kita akan pergi ke Bali,"ucap Herdi sembari menyeruput kopi susu buatan putrinya.


"Bali..?Kerenn, di sana aku bisa menikmati pemandangan pantai yang indah serta semilir hembusan angin pantai, setidaknya aku bisa melupakan Bram saat aku berlibur,"batin Kanaya.


Herdi dan Anna memeluk putrinya bergantian sesaat sebelum meninggalkan kediaman putrinya. Kanaya melambaikan tangannya kepada ibu dan ayahnya yang sudah berada di dalam mobil. Anna dan Herdi pun membalas lambaian tangan putrinya. Mesin mobil dinyalakan dan Herdi segera menginjak gas melaju meninggalkan rumah putrinya.


Rumah yang berdesain 2 lantai plus rooftop. Aksen perpaduan batu alam, finish concret semen, permainan bidang yang tegas khas rumah box house. Kini kembali tampak sepi setelah kepergian Anna dan Herdi. Kanaya masuk ke dalam rumahnya, membereskan semuanya sebelum ia bersiap untuk menuju ke butik. Kanaya harus menyelesaikan pesanan di butik sebelum Kanaya pergi berlibur.


Pekerjaan Kanaya yang mengharuskan dirinya bertemu dengan orang-orang berbeda setiap harinya membuat dirinya harus tampil nyaman dan stylish. Pemilihan baju kerja setelan atasan jas dengan celana panjang menjadi pilihan favorit Kanaya, Jas model klasik dapat membuat penampilan dirinya tampak lebih profesional dan percaya diri. Terlebih di usianya masih muda, dengan bakat yang dimiliki terkadang Kanaya masih merasa minder kepada senior-seniornya yang sesama desainer. Dengan menggunakan Aksen seperti sabuk pada jas dapat membuat penampilan Kanaya terlihat lebih menarik. Gaya baju kerja seperti ini sangat cocok bagi Kanaya yang aktif dan harus bertemu dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya.


Merias wajahnya dengan riasan natural dan menggunakan warna-warna soft di bagian-bagian tertentu wajahnya, sudah menjadi pilihan Kanaya sejak dulu. Rambutnya yang tebal telah ditata dengan gaya ikal dengan low pony tail. Lebih membuat Kanaya terlihat rapi dan elegan.


Kini dirinya sudah siap untuk pergi ke butik. Diraihnya sebuah tas kelly bag serta kunci mobil yang berada di atas tempat tidur, bergegas keluar kamar dan berlari kecil menuruni anak tangga. Setelah menekan tombol-tombol yang berada di pintu, Kanaya segera masuk ke dalam mobil yang masih berada di garasinya. Kanaya dengan perlahan mengeluarkan mobilnya dari garasi menuju keluar pagar rumahnya. Kini Kanaya melajukan mobilnya lebih cepat, membelah jalan raya yang di padati kendaraan lainnya. Sekitar 35 sampai 40 menit, Kanaya menghentikan mobilnya di depan butik miliknya. Keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam butik, semua karyawan membungkukkan tubuhnya saat melihat Kanaya masuk ke dalam butik dan melewati mereka. "Tolong bawakan beberapa desain yang harus di selesaikan bulan ini!" titah Kanaya kepada salah satu karyawan kepercayaannya.

__ADS_1


"Baik, nona. Akan saya bawakan ke ruangan, nona," ucap karyawan tersebut sambil membungkukkan tubuhnya.


Di tempat lain Bram yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah dengan menggunakan handuk kecil.


Brakkkkkk.....!!


Sontak Bram sangat terkejut, tiba-tiba saja pintu kamar tidurnya terbuka dengan kasar sampai menghantam dinding. Di lihatnya sosok pria yang sangat ia kenal tentunya, pria muda berpostur tinggi tegap sudah berdiri di sana dengan nafas yang memburu, dan tatapan tajam setajam elang akan menangkap mangsanya, ia adalah Aldo Alford Wijaya.


"Aldo apa yang kamu lakukan!" seru Bram.


"Apa papa sudah tidak menganggap Aldo sebagai anak papa lagi? Papa benar-benar membuat ku geram." Aldo mengungkapkan kekesalannya kepada pria paruh baya yang berdiri beberapa meter berhadapan dengannya. Bram yang baru selesai mandi tiba-tiba di kejutkan oleh kedatangan putranya dengan cara yang sangat mengejutkan dirinya, tentu saja saat ini Bram masih syok dengan sikap putranya itu.


"Aldo, kalau mau bicara dengan papa itu yang sopan, untuk apa kamu pakai kekerasan untuk membuka pintu kamar papa?Apa kamu tidak lihat papa baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk begini. Jika ingin bicara dengan papa nanti setelah papa sudah rapi." Bram tidak habis pikir putranya akan bersikap seperti itu. Bisa-bisanya dia datang dengan cara seperti itu.


"Aldo tidak suka dengan cara papa, untuk apa papa kembali ke rumah pacar Aldo?" ucap Aldo kesal. Bram masih dengan santai berbalik melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian dan memilih pakaian yang akan ia kenakan ke kantor.


"Bukan begitu, pah. Pokoknya mulai saat ini, papa jangan pernah lagi untuk mengganggu pacar Aldo."Aldo mulai mengencangkan suaranya. "Ingat pah, dia calon istri Aldo. Apa papa tega merebut kebahagian Aldo?"


Bram terdiam sejenak mendengar ucapan putranya, "merebut kebahagian" hahh?" gumam Bram dalam hati. Bram menutup kembali pintu lemari pakaiannya dan berbalik menghampiri Aldo. Kini Bram berdiri berhadapan dengan Aldo putranya sekaligus musuhnya dalam hal memperebutkan seorang wanita.


Malam itu setelah Aldo pergi meninggalkan rumah pacarnya, dari kejauhan Aldo melihat mobil papa nya masuk ke daerah perumahan pacarnya itu. Aldo putar balik, dan memang benar dia melihat papanya turun dari mobil dan masuk ke dalam.


"Apa kamu sangat mencintai Kanaya?"


"Sangat....sangat mencintainya, pah."Dengan suara lantang Aldo menjawabnya.


"Apa kamu ingin Kanaya menjadi pendamping hidupmu?"


"Sudah pasti itu keinginan dan tujuan Aldo."

__ADS_1


"Papa akan bertanya sagu hal lagi."


"Apa itu?" tanya Aldo.


"Apa kamu mau menyerahkan Kanaya untuk pria lain, termasuk papa?"


Aldo mulai terpancing emosi, tangannya mulai mengepal."Jelas Aldo tidak akan menyerahkan Kanaya untuk siapapun, Kanaya hanya milik Aldo, pah."


Bram pun tersenyum akan jawaban putranya itu. Aldo semakin bingung dengan reaksi papanya. "Apa papa sudah mengalah dan mau menjauh dari Kanaya?" batin Aldo.


"Begitu juga papa. Papa sangat mencintai Kanaya, menginginkan dirinya menjadi pendamping hidup papa, dan papa tidak akan merelakan Kanaya untuk pria lain termasuk.....kamu," tegas Bram sambil mencengkram bahu Aldo sambil menepuk-nepuknya.


"Aldo akan pastikan, papa tidak akan bisa mendekati Kanaya lagi?"ucap Aldo dengan suara lebih tinggi daripada suara papanya.


"Tiga hari lagi, Aldo akan pergi ke bali bersama keluarganya Kanaya. Om Herdi meminta papa untuk ikut bersama. Aldo harap papa bisa meluangkan waktu untuk ikut bersama kami, dan tolong jangan merusak acara Aldo dan Kanaya di sana."


Aldo berlalu di hadapan Bram. Baru beberapa langkah Bram menghentikan langkahnya dan berbalik, "Tiga hari lagi, Aldo akan menunggu papa di bandara jam 2 siang. Jangan sampai papa membuat masalah." Setelah mengatakan itu Aldo benar-benar pergi meninggalkan Bram sendirian.


Brakkkkk.....!!


Bram memukul pintu lemari pakaian, amarahnya kini sudah berada di ubun-ubun. Putra yang sejak kecil di besarkannya seorang diri kini sudah menjadi musuhnya dalam memperebutkan pendamping hidup. Walau dalam hati kecilnya terasa berat karena nantinya salah satu diantara mereka berdua akan ada yang terluka tapi ini masalah hati yang tidak bisa seenaknya di gantikan dengan orang lain.


Berat untuk Bram merelakan pujaan hatinya dimiliki seutuhnya oleh Aldo. Bram tidak akan sanggup apabila hari-harinya ke depan nanti akan melihat Kanaya sebagai menantunya.


"Papa berharap kamu akan mengalah, nak!" ucap Bram dalam hatinya.


Bram melanjutkan kegiatannya tadi, mengambil stelan jas berwarna hitam yang tergantung di dalam lemari pakaiannya. Meraih dasi yang terletak di dalam meja kaca yang berada di ruangan ganti miliknya. Dengan menggunakan sepatu pantofel kulit berwarna hitam membuat tampilan Bram seperti pria muda.


Bram mulai merapikan rambutnya dengan sentuhan gel di tangannya, agar susunan model rambutnya bisa bertahan lebih lama. Bram menuruni anak tangga, meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar dari rumah, Bram buru-buru pergi ke kantor karena 30 menit lagi ada rapat yang harus di hadiri oleh dirinya.

__ADS_1


__ADS_2