MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Dua Belas : Liburan


__ADS_3

Waktu liburan yang di janjikan pun tiba, siang ini Kanaya beserta kedua orang tuanya akan pergi berlibur ke Bali. Kanaya berpenampilan santai casual dengan memakai celana jeans, dalaman kaos putih berleher V-neck yang di kombinasikan dengan blazer berwarna hitam. Kanaya juga memakai sepatu sport berwarna putih untuk melengkapi penampilannya siang ini.


Kanaya sudah membereskan pakaiannya. Barang-barang yang akan dia gunakan nanti di Bali sudah tersusun rapi di dalam koper. Kanaya bersama Herdi dan Anna akan pergi menggunakan pesawat pribadi milik Herdi, ayahnya. Kanaya tidak di beritahu oleh Anna dan Herdi bahwa tujuan liburan mereka kali ini adalah untuk mengetahui isi hati Kanaya yang sesungguhnya.


Zertttttt.....zerrttttt!


Ponsel Kanaya pun bergetar dengan di iringi sebuah lagu favorit Kanaya yang berjudul Selamanya Cinta. Kanaya meraih ponselnya yang berada di nakas. "Ibu..."


"Iyah...bu, ada apa?" tanya Kanaya.


"Apakah semuanya sudah siap, sayang?" ucap ibu dari sambungan telponnya.


Kanaya melihat lagi ke dalam isi kopernya, memastikan sekali lagi apa benar-benar sudah tidak ada yang tertinggal,"Sudah siap semua, bu. Jam berapa ibu akan pergi ke bandara?"


"Satu jam sebelum keberangkatan kita semua harus sudah berada di bandara sayang,"jawab Anna.


"Oke....Sebentar lagi Kanaya akan berangkat, biar tidak keburu-buru di jalan. Kita akan bertemu di bandara saja ya, bu." Kanaya menurunkan kopernya yang sudah di tutup rapat dari atas tempat tidurnya.


"Kalau begitu hati-hati di jalan sayang, sampai bertemu di bandara yah,'' ucap Anna sebelum mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana Kanaya, bu? Apa dia sudah siap?" tanya Herdi.


"Sudah, yah. Ini Kanaya sebentar lagi akan berangkat menuju bandara. Tapi yah, apa tidak apa-apa kita tidak memberitahu putri kita kalau sebenarnya kita berlibur bukan hanya bertiga, tapi berlima." Ibu tampak mulai cemas, takut jika putrinya akan marah besar karena rencana ini.


"Sudahlah bu, tidak usah di pikirkan. Salah sendiri dia berbohong. Ayah memang tidak menyetujui hubungan putri kita bersama Bram, tapi ayah juga tidak mau kalau putri kita nantinya menjalani sebuah pernikahan karena terpaksa, itu akan lebih menyakitkan nantinya. Ayah ingin melihat pilihan hati Kanaya sendiri, dan perjuangan dua pria bodoh itu." Herdi langsung memijat-mijat keningnya saat teringat Bram dan Aldo yang ribut karena memperebutkan hati putrinya.


"Ayah tidak habis pikir, hidup seperti apa yang akan mereka jalani nanti jika putri kita memilih salah satu diantara mereka?" Herdi kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Anna tertawa, membayangkan apa yang diucapkan oleh suaminya. "Seperti judul sinetron dong, yah. Sahabatku adalah menantuku, hehehe."


Herdi melirik ke Anna yang seperti puas menertawakan dirinya. "Mungkin juga lebih cocok begini, Putriku menikahi om-om," ucap Herdi sambil tertawa puasa menatap Anna yang raut wajahnya berubah jadi kesal.


"Kenapa kita jadi ikutan bersikap konyol seperti ini, bu. Pokoknya kita berdoa saja, semua yang terbaik untuk Kanaya, semoga saja bukan Bram jodohnya," ucap Herdi sembari mengajak Anna untuk segera masuk ke dalam mobil menuju bandara.


Kanaya menggeret kopernya keluar dari dalam kamar tidurnya. Dia menuruni anak tangga dengan mengangkat kopernya. Di luar rumah sudah ada salah satu supir pribadi Herdi yang membantu Kanaya untuk membawa koper miliknya ke dalam mobil. Dan siap mengantar Kanaya ke bandara.


"Apa sudah semua, non?" tanya pak supir.


Kanaya mengangguk,"Sudah semua kok, pak." sahut Kanaya.


"Kita berangkat sekarang saja, non!" Pak supir membukakan pintu untuk majikannya. "Silahkan, non," ucap pak supir.


Kanaya masuk ke dalam mobil,"Terima kasih, pak."


Pak supir tersenyum, dan menutup kembali pintu mobil tersebut setelah Kanaya masuk ke dalamnya. Lalu segera pak supir membuka pintu mobil untuk dirinya dan segera masuk ke dalam. Supir menghidupkan mesin mobil dan berlalu menuju bandara. Kanaya mengirimkan pesan kepada Anna, jika dirinya sudah berada di perjalanan menuju bandara.


"Hati-hati di jalan,non." ucap pak sopir.


"Terima kasih, pak." Kanaya tersenyum dan melangkah pergi sambil menggeret koper miliknya.


Saat Kanaya sampai di satu ruangan khusus untuk para VIP, Kanaya di kejutkan dengan keberadaan Bram dan Aldo yang sedang bersama kedua orang tuanya, kedua mata Kanaya terfokus pada tas koper yang Bram dan Aldo bawa. "Ka-kalian kok ada di sini, terus koper ini?? Ibu....ayah, ada apa ini, coba jelaskan."


"Ayah mengajak sahabat ayah dan putranya untuk berlibur bersama, tidak ada salahnya kan. Ayah ingin mengenal calon menantu ayah lebih dekat?" ucap Herdi.


"Tapi, kenapa ayah tidak memberitahu Kanaya?"jawab Kanaya kesal.

__ADS_1


"Ini kejutan untukmu, sayang. Bukankah kita akan segera menikah, aku ingin mengenal calon mertuaku lebih dekat juga." Aldo memeluk sang kekasih di hadapan semua orang di sana, dan hal itu memancing kecemburuan Bram, hatinya seperti terbakar melihat adegan itu di depan matanya. Kanaya hanya tersenyum datar tanpa membalas pelukan Aldo. Kanaya melirik ke arah Bram yang memalingkan wajahnya ke arah lain, Kanaya tahu pasti Bram sedih, dan marah melihat Aldo memeluknya seperti ini. Aldo melepas pelukannya dari tubuh Kanaya, menarik sebuah kursi yang berada di samping tempat duduk Aldo, dan meminta sang kekasih duduk di sana. Kedua mata Kanaya masih sesekali mencuri pandang ke arah Bram. Reaksi itu terlihat jelas oleh Herdi dan Anna yang berada di ruangan itu.


Setelah Aldo duduk di kursinya, Aldo mencengkram dan menggenggam jari jemari tangan Kanaya, seperti sengaja membuat Bram marah. Kanaya menarik tangannya, namun genggaman Aldo semakin kuat. Aldo tidak ingin melepaskan tangan Kanaya. Kanaya hanya bisa pasrah membiarkan tangannya dalam genggaman Aldo.


Tokk...tokkk.....!


"Permisi, tuan. 10 menit lagi semuanya sudah siap," ucap salah satu anak buah Herdi.


"Baiklah." ucap Herdi.


Sebelum Aldo meraih tangannya, Kanaya langsung berinisiatif merangkul lengan Anna yang sedang berjalan menuju masuk ke dalam pesawat. "Ibu...tunggu Kay," seru Kanaya sambil berlari kecil.


Aldo mengikuti Kanaya yang berada di samping Anna, sedangkan Bram berjalan beriringan dengan Herdi. Herdi merangkul sahabatnya itu, "Semangat dong, jangan lemas seperti itu."


"Kamu bukan sahabatku, kamu sengaja merencanakan ini semua biar aku sakit hati dan menjauh dari putrimu, itu tujuan kamu adakan liburan bersama ini." Bram yang kesal berjalan lebih cepat dari pada Herdi, dan meninggalkan Herdi tertinggal di belakang.


Herdi hanya tersenyum dengan sikap sahabatnya itu. "Maafkan aku Bram, kalian tidak akan cocok bersama, akan banyak rintangan nantinya jika kalian bersama, aku hanya ingin putriku bahagia," ucap Herdi dalam hati.


Kanaya menaiki tangga pesawat, dia duduk berhadapan dengan Anna ibunya. Sedangkan Aldo duduk bersebrangan dengannya, Kanaya menoleh ke depan dan belakang seperti sedang mencari-cari sesuatu. Kanaya mencari keberadaan Bram. Bram yang duduk di kursi belakang Aldo berhadapan dengan ayahnya, tampak tersenyum sesaat saat kedua mata mereka saling bertatapan. Kanaya pun membalas senyuman itu dan segera kembali ke posisi awal. Kanaya mengambil sebuah masker wajah dari dalam tasnya dan memakainya. Kanaya ingin kulit wajahnya tetap lembab saat sampai di Bali nanti.


Pesawat mulai lepas landas, Kanaya memejamkan kedua matanya menikmati perjalanannya. Perjalanan sekitar 1 jam 45 menit. Akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Gusti Ngurah Rai Bali pukul 16:45 waktu setempat. Anna, Herdi, Bram, Kanaya dan Aldo keluar dari badan pesawat. Di luar sana sudah ada jemputan dari salah satu resort mewah yang akan kita tempati selama berada di Pulau Bali.


Kanaya berjalan beriringan dengan Aldo dan menghampiri ayah, ibu dan Bram yang lebih dulu turun dari pesawat. 2 buah mobil limousin Mercedes siap membawa Kanaya dan lainnya menuju resort. 50 menit pun berlalu, kami tiba di sebuah resort mewah yang berada di tepi pantai dan berdiri di atas 150 meter permukaan Samudera Hindia. Dengan background pemandangan yang sangat menakjubkan. Resort mewah ini juga memiliki pantai pribadi. Semua fasilitas di dalamnya sangat lengkap, bahkan bisa bersantai di kolam renang yang berada di tepi tebing dan bermain tenis di lapangan rumput.


Kanaya memilih untuk beristirahat di kamarnya. Kamar dengan suasana elegan yang menyatukan budaya tradisional Bali dengan kemewahan modern yang membuat Kanaya merasa seperti berada di surga yang sesungguhnya. Dengan kamar yang luas dengan pemandangan yang indah, pemandangan laut yang menenangkan.


Kanaya yang tengah berbaring di atas kasur dengan merentangkan kedua tangannya menatap ke langit-langit kamarnya. "Niatku untuk liburan agar bisa melupakannya, tapi bagaimana bisa melupakan kalau orangnya saja sekarang ada bersamaku di sini, huhhh!" Kanaya membuang napas kasar.

__ADS_1


Tokkk....tokkk...tokkk!!


Suara ketukan pintu yang semakin keras,"Siapa sih yang mengetuk pintu sekasar itu?"


__ADS_2