MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Delapan Belas : Mencuri hati


__ADS_3

Di sebuah cafe yang mempunyai konsep monokrom hitam putih dengan hiasan berupa ornamen-ornamen kayu, seperti tas, wadah, vas, dan sebagainya. Aldo yang tengah berkumpul bersama sahabat-sahabat lamanya di sana tengah asik menikmati makanan yang di tawarkan di sana ada fresh fruit bowl, pittaya bowl, mushroom risotto dan spicy chicken lime. Sedangkan, minuman yang mereka nikmati ada jus, smoothies, kopi dan bir.


Mereka tengah asik menceritakan kesibukan masing-masing dan sudah pasti menceritakan kisah cinta mereka sekarang. Aldo jadi teringat akan sang kekasih yang sejah tadi belum ada menghubunginya, Aldo jadi merasa bersalah karena tidak bisa menemani kekasihnya untuk hari ini.


Aldo meraih ponselnya yang berada di meja, Aldo mencoba untuk menghubungi Kanaya, namun sayangnya Kanaya belum juga mengangkat telepon dari Aldo.


Sekali lagi Aldo mencoba menghubungi Kanaya. Kali ini masih sama, Kanaya belum juga mengangkat telepon darinya. Aldo mulai kesal, karena Kanaya tidak juga mengangkat telepon darinya. "Percuma saja punya handphone kalau tidak bisa di hubungi," kesal Aldo.


"Sayang kamu itu kemana sih, aku udah coba hubungi kamu tapi ngga juga kamu jawab." Aldo mengirim pesan tersebut kepada Kanaya.


Tak butuh waktu lama pesan baru pun masuk ke dalam ponsel Aldo. Pesan itu dari Kanaya. Aldo membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya tersebut.


"Maaf, aku lagi tidak bisa mengangkat telepon sekarang. Aku lagi pengen sendiri, kamu nikmati saja waktu bersama sahabat-sahabat mu itu."


Aldo langsung membalas pesan dari Kanaya.


"Aku tahu kamu kesal padaku, tapi tolong angkatlah teleponku."


Tak berapa lama satu pesan lagi masuk dari Kanaya.


"Maaf, sekarang aku tidak bisa."


Aldo kembali membalas pesan tersebut.


"Oke.....oke...., kalau begitu kamu jangan lupa makan ya sayang."


Satu pesan lagi masuk di ponsel Aldo dari Kanaya.


"Memangnya aku sudah pikun, sampai-sampai makan saja aku tidak ingat."


Aldo masih membalas pesan dari Kanaya itu.


"Kok gitu sayang ngomongnya, aku kan khawatir kamu nanti kamu sakit kalau sampai telat makan. Nanti kalau kamu sakit, aku juga ikut sakit."


Satu pesan masuk kembali ke ponsel Aldo dari Kanaya.

__ADS_1


"Kalau aku sakit, aku akan ke dokter, kita bukan saudara kembar, dari mana aku sakit kamu juga ikut sakit. Ya sudah aku mau jalan-jalan lagi, kamu bersenang-senang saja dengan sahabat-sahabat mu itu, jangan mengganggu ku."


Aldo yang merasa aneh akan sikap sang kekasih padanya, akhirnya mencoba kembali untuk menghubungi Kanaya, tapi Aldo terkejut karena nomor Kanaya kini sudah tidak aktif lagi. Dia juga mengirim pesan pada Kanaya, tapi pesan tersebut tidak terkirim.


"Owh my god.......!!"


Aldo mengusap wajahnya kasar, lalu mengacak-ngacak rambutnya asal. Dia menjadi pusing karena kini merasa Kanaya sedang marah pada dirinya. Dirinya menyesal karena tidak bisa menemani kekasihnya berjalan-jalan. Mau bagaimana lagi, sudah lama Aldo tidak bertemu dengan sahabat-sahabat nya, dan kali ini kesempatan yang langka, karena besok sahabat-sahabat nya akan kembali ke kesibukannya masing-masing.


Bram segera menghapus semua pesan yang dikirim oleh Aldo. Dia juga mematikan ponsel Kanaya. Bram yang tengah menunggu Kanaya selesai mandi, tanpa sengaja mendengar ponsel Kanaya berbunyi.


Bram sengaja membalas semua pesan yang masuk ke dalam ponsel Kanaya. Sengaja membuat Aldo kesal itulah tujuan Bram. Tetapi Aldo tetap berusaha menelpon Kanaya, sampai akhirnya Bram memutuskan untuk menonaktifkan ponsel Kanaya. "Sebagai seorang pacar seharusnya Aldo bisa menemani Kanaya, kasian kan seorang wanita berkeliling Bali seorang diri, nanti di culik om-om baru tahu Aldo. Eh...kok om-om, kan aku juga om-om, heeee tapi aku kan beda, aku om-om idola banyak wanita yang malah memintaku untuk menculik mereka." Bram terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


Kanaya keluar dari kamar mandi, Bram memasang wajah manisnya. Dia juga sudah meletakkan ponsel Kanaya di tempatnya semula tadi pada saat dia mengambilnya.


"Brammm.....kita lihat-lihat keluar yuk!" ajak Kanaya yang terlihat sangat antusias.


Suara gemericik sungai, juga nyanyian burung di sekitar memang sangat menenangkan. Tak ada suara selain nyanyian burung dan gemericik air. Tak ada polusi selain wangi hutan yang menyegarkan. Kanaya dan Bram bisa langsung merasakan segarnya air sungai yang ada di depan rumah sepuasnya dan tak akan ada gangguan. Kanaya melihat ada anjing dan kucing juga di sana yang bisa menemani hari-hari mereka menikmati segarnya pemandangan hijau dan sungai.


"Liburan di sini memang pilihan yang terbaik dijadikan tujuan untuk menenangkan diri dari penatnya kehidupan perkotaan," ucap Kanaya.


Kanaya dan Bram tengah bersenang-senang menikmati suasana hutan yang asri dan hijau. Kanaya memakai playsuit tanpa lengan berwarna deep blue, dengan model kerah V dengan cutting regular fit. Baju yang sedikit menampakkan belahan kedua pegunungan.


"Brammmmm......kamu sengaja yah berpenampilan seperti itu, untuk terbar pesona padaku?" Kanaya menatap dengan tatapan sinis ke arah pria paruh baya itu.


Bram pun tertawa, "Aku.....aku kamu bilang tebar pesona padamu? Ngga lah, asal kamu tahu Kay, tanpa aku berpenampilan seperti ini juga, kamu memang sudah terpesona padaku, kannnn" Bram kembali menggoda Kanaya.


Wajah Kanaya berubah menjadi kemerahan karena malu, dia langsung saja pergi meninggalkan Bram sendirian. Kanaya berjalan jauh meninggalkan Bram seorang diri. Bram pun tertawa melihat kepergian sang pujaan hati karena malu.


Beberapa saat kemudian Bram pun berlari kecil mengejar sang pujaan hati, Bram memeluk tubuh Kanaya dari belakang agar Kanaya berhenti dan tak pergi lagi meninggalkan nya. Kanaya yang terkejut akan pelukan dari Bram berusaha berontak melepaskan diri dari Bram, namun semua itu sia-sia.


"Sayang, jangan marah lagi dong," ucap Bram di telinga Kanaya dan memberikan kecupan kecil pada telinga Kanaya.


"Apaan sih, aku tidak marah," ketus Kanaya.


"Kamu juga memiliki perasaan yang sama padaku kan?" udah Bram.

__ADS_1


Kanaya hanya diam dan tertunduk berusaha agar wajah merahnya tidak terlihat oleh Bram. "Jangan ke pedean kamu, Bram."


"Tatap mataku," Bram pun ingin melihat tatapan mata dari Kanaya.


"Apaan sih, Brammmm." Kanaya pun mendorong Bram agar menjauh.


Bram meraih wajah Kanaya dengan kedua tangannya. Bram menatap kedua mata Kanaya yang begitu indah, membuat Bram saat itu juga terdiam membisu untuk beberapa saat.


"Katakanlah sayang, jika kamu juga memiliki perasaan yang sama padaku," ucap Bram.


"Ah aku juga tidak tahu dengan apa yang kurasakan," ungkap Kanaya.


Bram pun tersenyum. Ucapan Bram memang benar, dirinya sudah bisa menebak kalau Kanaya juga memiliki perasaan yang sama. Akhirnya Bram bisa masuk dalam kehidupan Kanaya. Kini Bram memiliki tempat tersendiri di hati Kanaya dan mulai masuk ke dalam hidupnya Kanaya.


Matahari mulai terbenam. Pemandangan indah itu tidak di sia-siakan oleh Kanaya dan Bram. Dia mengambil sebuah foto berdua dengan Bram, Bram dan Kanaya tertawa bahagia. Kanaya melepaskan semua kelelahan nya bekerja dan menikmati indahnya alam bersama pria yang mulai ia sayangi.


Semua ini berkat Bram, dirinya bisa merasakan liburan di tempat yang seindah ini walau hanya sesaat. Bram juga merasakan hal yang sama, ini semua berkat sahabatnya Pandu, jadi Bram bisa membawa pujaan hatinya berlibur bersama. Bagi Bram ini kali pertama selain bersama mamanya Aldo, dirinya melakukan hal yang menyenangkan bersama seorang wanita. Seperti yang di ketahui biasanya Bram hanya bermain-main semalam l dengan wanita. Hanya bermain di atas ranjang setelah itu hubungan dengan wanita itu pun selesai.


Bram memperlakukan Kanaya selayaknya seorang tuang putri, Bram sangat lembut memperlakukan gadis pujaan hatinya, Bram sangat takut akan kehilangan gadis muda yang sudah berhasil mencuri hati seorang Casanova.


Kanaya dan Bram duduk di atas rumput di tepi sungai yang jernih. Dari sana Kanaya dan Bram dapat melihat dengan jelas indahnya matahari terbenam. Bram merebahkan kepalanya di atas pangkuan Kanaya. Bram meraih tangan Kanaya dan mengecupnya dengan mesra.


"Bram....bolehkah aku bertanya?" tanya Kanaya.


"Tanyakan saja sayang," jawab Bram.


"Bram....apa yang kamu suka dari wanita sepertiku?" tanya Kanaya.


"Semua yang ada di dirimu aku suka, sikap lemah lembut mu membuatku merasa nyaman jika di dekatmu," jawab Bram.


Kanaya pun menunduk menatap Bram yang berada di pangkuannya, "apa itu saja alasannya kamu menyukai ku?" tanya Kanaya kembali.


"Saat kamu sedang marah-marah mengusirku pergi kamu tampak begitu manis sehingga aku tidak pernah ingin pergi saat kamu sedang marah, aku suka melihatmu marah-marah kamu terlihat sangat imut dan lucu," jawab Bram.


"Kanaya mendelik, jawaban macam apa itu?" ketus Kanaya.

__ADS_1


Bram pun tertawa melihat respon yang di berikan oleh Kanaya. "Aku tidak tahu apa yang membuat ku sangat mencintaimu, mencintai pacar dari putraku, tapi saat aku jatuh hati padamu aku benar-benar tidak mengetahui kalau kamu adalah pacar putraku, itu sebabnya aku tidak ingin mengalah pada putraku, tapi jika aku mengenal dirimu saat Aldo memperkenalkan kamu sebagai kekasihnya, aku pasti akan membuang perasaan yang tumbuh di hatiku, karena itu salah. Tapi aku mengenalmu saat Aldo berada jauh darimu dan menurutku perasaan itu tidak salah tumbuh dan berkembang, kini tinggal menunggu hasilnya, apakah akan berakhir bahagia atau kah menyedihkan," tutur Bram.


Kanaya terdiam akan ucapan Bram. Yang di ucapkan Bram memang benar. Dia mengenal Bram saat dirinya dan Aldo jauh dan belum memulai hubungan dengannya. Karena Aldo berada di Inggris, Kanaya hanya berteman dekat dengan Aldo. Setelah kepulangan Aldo barulah mereka meresmikan hubungan mereka itupun Kanaya lakukan karena tidak bisa menolak Aldo yang terlalu baik memperlakukan dirinya. Kanaya ingin mencoba membalas kebaikan Aldo dengan menerima dirinya sebagai kekasih. Tapi sepertinya Kanaya malah akan menyakiti Aldo saja. Karena rasa itu mulai tumbuh malah bersama papanya Aldo.


__ADS_2