
Tokk...tokk...tokk!
"Iya.....sebentar." Kanaya bergegas menuju pintu. Membuka ya perlahan, "Ayah....!" seru Kanaya.
"Haaahaaaa, pasti kamu kira Bram yang mengetuk pintu, kan?" ejek Herdi.
"Kanaya menjadi salah tingkah, "Akh, tidak." Kanaya menjadi gugup.
"Ibumu dan para pelayan sedang menyiapkan makan malam, kamu bersiaplah baru turun kebawah." Herdi mengusap-ngusap kepala putrinya itu sebelum melangkah pergi.
Kanaya masuk kembali ke dalam kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karena keringat. Di bawah Herdi dan Anna sibuk membantu pelayan menyiapkan makan malam, menata berbagai masakan di meja makan. 20 menit berlalu Kanaya pun sudah wangi dan cantik, dirinya sengaja berdandan sedikit lebih berwarna dari biasanya. Setelah semua siap Herdi, Anna dan Kanaya menunggu Bram dan Aldo yang belum hadir di meja makan. Kanaya berpenampilan elegan dengan memamerkan bentuk bagian atasnya yang terlihat sangat kencang. Bentuk tubuh indah yang dia miliki di dapat dengan cara yang tidak mudah. Kanaya sebagai wanita harus menjaga makan, rajin berolah raga, dan selalu makan makanan yang sehat.
Terdengar suara langkah Bram dan Aldo. Makan malam kali ini di atur outdoor oleh Anna. Dengan sebuah tempat makan yang di tata unik dan romantis oleh Hanna dan Herdi serta di bantu para pelayan di sana, di tepi pantai yang indah, menawarkan suasana makan malam di kursi yang nyaman di tepi laut.
Pelayan juga tidak lupa memasang kain putih di sekelilingnya, agar terlihat lebih cantik dan privat. Sehingga semuanya bisa menikmati suasana secara lebih eksklusif.
Selain itu, makanan yang dimasak langsung di tepi pantai sehingga akan sangat menarik dan cukup berbeda dari makan malam biasa. Saat malam hari, temaram cahaya lampu dan lilin serta deburan ombak akan menjadi suasana yang berkesan. Kanaya langsung berdiri di samping kursi meja makan. Dia ingin terlihat sempurna di depan dua pria itu malam ini. Senyum mengembang, Kanaya menyambut Aldo yang malam ini tampil rapi dengan stelan jas navy nya.
"Malam, sayang." ucap Aldo sembari mengecup pipi kiri dan kanan Kanaya.
"Malam juga,"jawab Kanaya.
"Selamat malam, sayang," seru suara pria paruh baya yang berada di samping Aldo. Pria paruh baya itu langsung menghampiri Kanaya, dan mengecup kening Kanaya.
Kanaya tersentak, dan melirik ke arah pria paruh baya yang berpenampilan maskulin dengan perpaduan jas dan kaos turtleneck. Sosok yang sangat dia kenal dan membuatnya selalu terbayang-bayang semua yang ada di diri pria itu.
"Om Bram," seru Kanaya.
"Kamu sangat cantik malam ini, Kanaya," ucap Bram.
__ADS_1
Aldo, Herdi dan Anna membulatkan kedua matanya, dengan apa yang barusan terjadi. Anna pun tertawa kecil karena melihat suaminya yang masih terlihat syok dengan kejadian barusan. Sedangkan Aldo sudah pasti cemburu dengan papanya. Tangannya sudah mengepal, namun masih berusaha ia tahan.
Kanaya menjadi canggung, setelah mendapat kecupan dari Bram, apalagi semua orang di sana melihat itu.
"Te-terima kasih, Om," balas Kanaya dengan senyuman yang dipaksakan. "Silahkan duduk, om dan juga Aldo. Ayah dan ibu sejak tadi sudah menunggu kedatangan kalian."
Dengan sengaja Aldo meraih tubuh Kanaya, mendekap tubuhnya dalam pelukan Aldo. "Kamu jangan jauh-jauh dariku," ucap Aldo sambil tersenyum melepaskan tangannya dari pinggang Kanaya.
Tentu saja kejadian barusan tidak lepas dari mata tajam Bram dan Herdi, yang membuat Bram tersulut api cemburu. Kini hatinya terasa terbakar, sakit seperti di sayat-sayat. Terlebih lagi malam ini pujaan hatinya terlihat sangat cantik dan mempesona. Sungguh Bram tidak bisa menerima jika Aldo putranya memeluk apalagi mengecup pujaan hatinya itu.
"Selamat malam Aldo, Bram," ucap Herdi dan Anna sambil mempersilahkan keduanya untuk duduk bersama. "Om benar-benar terkejut kalau Aldo dan Kanaya sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Bisa-bisanya om dan tante tidak mengetahui hal ini.
"Iya, benar om. Aldo sudah menjalin hubungan dengan Kanaya satu tahun belakangan ini. Aldo sudah sering ingin menemui om dan tante, tapi Kanaya selalu menundanya, sampai sekarang ini, Om," tutur Aldo. "Tapi om dan tante merestui hubungan Aldo dan Kanaya kan?"
Herdi dan Anna saling bertatapan sesaat sebelum menjawab ucapan Aldo, "kalau om sih terserah pada Kanaya saja, karena dia yang menjalani hidupnya, dia juga yang akan hidup bersama pria pilihannya. Yang terpenting untuk om dan Tante Anna, Kanaya hidup bahagia."
Herdi sesekali melirik ke arah sahabatnya Bram, yang duduk di sampingnya. Herdi tahu ucapannya barusan mungkin melukai hati sahabatnya itu, tapi sebagai seorang ayah, itulah yang Herdi inginkan. Walau ada rasa tidak enak hati kepada Bram, tapi Herdi harus jujur. Dirinya sangat menginginkan kebahagiaan untuk putri semata wayangnya itu.
"Kamu jangan bawa-bawa persahabatan kita, lagian juga kenapa kamu harus mencintai putriku sih. Kamu boleh menikah atau bermain-main dengan wanita muda manapun, asalkan jangan dengan putriku Kanaya, "batin Herdi.
"Hati sudah memilih, Her. Hatiku sudah memilih Kanaya untuk menjadi pendamping hidupku. Aku sudah tidak pernah bermain-main wanita lagi semenjak aku jatuh cinta pada putrimu. Mengertilah, setujuilah perasaan tulusku ini," batin Bram.
"Tidak bisa, aku tidak bisa Bram. Kalau aku merestui, nantinya Kanaya akan terluka. Akan banyak penolakan hubungan kalian di kehidupan sosial. Apa pandangan mereka terhadap putriku uang masih muda? Putriku bisa di cap pecinta om-om, atau cewe matre karena sudah menikah dengan pria yang jauh lebih tua dari usianya. Mengertilah Bram, aku seorang ayah. Aku hanya menginginkan kebahagiaan untuk putriku," batin Herdi.
Anna mencubit perut Herdi, Herdi yang tersentak kesakitan membuat Bram terkejut. Herdi dan Bram akhirnya memutuskan komunikasi telepati mereka.
Herdi merangkul sahabatnya itu sambil tertawa, "sebentar lagi kita akan menjadi besan," Herdi mencengkram jari-jarinya lebih kuat pada lengan Bram. Sebagai penekanan akan kata "Besan."
Bram menatap Herdi dengan wajah datar, "awas saja kamu ya, Her. Benar-benar kamu ini keterlaluan," batin Bram kesal.
__ADS_1
"Mari kita makan malam dulu, setelah makan malam baru kita berbincang-bincang santai sambil menikmati pemandangan pantai di malam hari," ajak Anna.
"Iya, ayo kita makan dulu. Kanaya sudah lapar nih sejak tadi," sambung Kanaya.
Semuanya setuju untuk makan malam dulu baru melanjutkan perbincangan panas mereka. Herdi yang duduk di kursi utama, diapit oleh Bram dan Anna istrinya, sedangkan Aldo duduk di samping Bram, Kanaya duduk di samping Anna. Anna membantu Herdi untuk mengambil makanan, sedangkan Kanaya membantu Aldo mengambil makanan juga. Bram tidak ada yang melayani, dia menatap hidangan yang ada di meja makan, dan mengambil 1 sendok sup daging.
Celepuk....celepuk....!!
Suara sendok yang di keluar masukkan ke dalam kuah sup daging secara berulang-ulang oleh Bram. Saat yang lainnya mulai menikmati hidangan makanan, Bram hanya memainkan kuah sup di mangkoknya dengan sendok. Lama kelamaan Herdi pun mulai terganggu dengan ulah Bram, tapi Herdi masih berusaha mengabaikannya.
Celepuk....celepuk....!!
"Bram....apa yang kamu lakukan?" ucap Herdi.
"Aku tidak sedang melakukan apa-apa?" jawab Bram.
"Papa....sudahlah, sebaiknya papa makan dengan tenang. Makanlah hidangan yang ada, kalau papa tidak suka sup nya, ganti dengan yang lain," tutur Aldo yang mulai kesal dengan sikap papanya.
"Papa suka kok sama supnya."
"Ayo kita lanjutkan makannya," ucap Anna.
Kanaya mengerti apa yang di lakukan Bram, tapi Kanaya tidak bisa berbuat apa-apa. Bram masih saja melakukan ulahnya itu. Kanaya melihat ke sekelilingnya, melihat wajah Herdi dan Aldo yang sudah tampak kesal, dan melihat Bram yang belum makan apa-apa sejak tadi. Akhirnya Kanaya berinisiatif mengambilkan makanan untuk Bram. Kanaya beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah piring kosong dan mengisinya dengan berbagai macam hidangan yang ada, lalu memberikannya kepada Bram.
"Ini, Om. Cobain deh masakan yang ini, mungkin Om Bram akan suka," ucap Kanaya sembari menyodorkan piring yang sudah terisi oleh berbagai makanan.
Senyuman pun mengembang di wajah Bram, "Terima kasih, Kanaya," ucap Bram dengan lembut seraya tersenyum manis.
"Papa.......kau sangat tidak tahu diri, kau membuatku kesal, apa sih maunya papa?" batin Aldo kesal.
__ADS_1
Akhirnya makan malam berjalan dengan lancar dan tenang. Semua menikmati makanan yang ada, tidak ada lagi gangguan-gangguan yang di buat oleh Bram.