MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Dua Puluh : Wanita misterius


__ADS_3

Saat Bram dalam perjalanan menuju bandara, dia kembali menelpon Pandu, "Pandu tolong kamu suruh salah satu anak buah mu untuk memantau Kanaya dari jauh," pinta Bram.


"Dasar tua bangka bucin," ejek Pandu. "Baiklah aku akan menyuruh anak buah ku untuk melindungi Kanaya."


Tak butuh waktu lama Kanaya, Pandu dan Alissa sampai di resort. Herdi, Anna dan Aldo sudah menunggu kedatangan mereka.


"Apa liburan kalian menyenangkan," ucap Anna sambil memeluk putrinya dan Alissa secara bergantian.


Kanaya dan Alissa mengangguk bersamaan. Aldo pun memeluk sang kekasih dan juga Alissa, sudah pasti mereka saling mengenal dari orok, karena persahabatan orang tuanya membuat mereka juga bersahabat.


"Alissa, makasih udah jagain kekasih hatiku," ucap Aldo lebay.


"Kamu seharusnya berterima kasih pada papamu, karena dia lah yang menjaga Kanaya," batin Alissa.


"Memangnya aku anak kecil," sahut Kanaya.


Kanaya mengajak Alissa untuk bersantai di tepi kolam renang sambil menikmati indahnya pemandangan pantai.


"Kenapa Pacarmu begitu cepat pergi, aku belum berkenalan dengannya," tanya Kanaya.


"Dia terlalu sibuk, Kay. Dia hanya punya waktu beberapa hari di Indonesia dan kini harus kembali ke Amerika.


"Apakah kamu benar-benar mencintai Diki, Al?" tanya Kanaya.


"Ya, kami saling mencintai. Kami merencanakan untuk menikah setelah semua pekerjaan dia selesai nanti," jawab Alissa.


"Wah....aku turut bahagia mendengarnya," jawab Kanaya.


"Kita juga akan segera menikah kan, Kay," sambar Aldo yang tiba-tiba sudah berada di samping Kanaya sambil merangkulnya.


Kanaya menatap Aldo dengan mata malas, Alissa tertawa melihatnya, "Haii playboy, apa kamu sudah putuskan hubungan mu dengan wanita-wanita di luar sana, jangan sampai pada saat ijab kabul nanti ada yang datang meminta pertanggung jawabanmu?" ucap Alissa.


"Apaan sih, Al. Aku bukan pria seperti itu?" sahut Aldo.


"Jadi kamu pria seperti apa?" tanya Alissa.


"Aku adalah pria tampan, sukses dan setia," jawab Aldo dengan sangat PD.


Serempak Kanaya dan Alissa memutar malas mereka dan mengabaikan ucapan Aldo barusan.

__ADS_1


Alissa, Kanaya dan Aldo sedang asik mengobrol di tepi kolam renang. Sedangkan Herdi, Anna dan Pandu tengah memperhatikan mereka dari ruang keluarga. Sebelum makan siang mereka menghabiskan waktu dengan curhatan Herdi.


"Menurut kamu, Ndu. Bagaimana perasaan Kanaya terhadap Aldo?" tanya Herdi.


Pandu terdiam, sedikit keraguan dalam dirinya untuk memberitahu yang sebenarnya kepada Herdi dan Anna, perihal perasaan Kanaya.


"Perasaan yang bagaimana?" tanya Pandu berlagak tidak mengerti.


"Anna tersenyum melihat reaksi Pandu. "Kamu kurang jelas tuh, yah. Coba kamu perjelas pertanyaan mu pada Pandu," ucap Anna.


"Kamu lihat mereka di sana." Herdi menunjuk ke arah Kanaya dan Aldo. "Kamu sudah mengenal Kanaya sejak dia kecil, bisa di bilang kamu juga orang tua Kanaya, kamu sebagai orang tuanya juga tentu bisa melihat, apa putrimu Kanaya itu memiliki perasaan yang sama pada Aldo?" tutur Herdi.


"Tidak," jawab Pandu singkat.


Herdi terkejut mendengar jawaban Pandu yang sangat singkat. "Maksudmu, tidak??"


"Kanaya sudah sama seperti Alissa, aku menganggap dia sebagai putriku juga. Aku tidak melihat adanya cinta di diri Kanaya untuk Aldo. Mereka terlihat akrab dan nyaman bersama itu karena dari kecil sampai sekarang mereka selalu bersama. Di mana salah satu ada yang kesusahan yang lain saling membantu. Tidak ada cinta di sana," ungkap Pandu.


"Kepada siapa Kanaya menaruh hati, apakah Bram?" tanya Herdi.


"Kamu yakin bertanya itu padaku," sahut Pandu.


"Kepada Bram, Kanaya menaruh hatinya. Mungkin ini juga salah kalian dari awal," ucap Pandu sambil menatap Herdi dan Anna.


Herdi dan Anna kembali menatap Pandu, "Salah kami?" ucap Herdi dan Anna bersamaan.


"Sejak kecil Kanaya di besarkan oleh sosok Mbok Narsih, kalian berdua sibuk mengurus bisnis, sesekali Kanaya kecilku dulu tidur di rumah bersama Mbok Narsih, karena Kanaya kesepian dan masih ingin bermain bersama Alissa. Kanaya tumbuh tanpa sosok ayah yang selalu di sampingnya. Bisa dibilang dia hanya tau kamu adalah ayahnya, tapi belaian dan kasih sayang sebagai ayah tidak kamu berikan. Aku mengerti kalian sedang merintis usaha pada saat itu, dan itu semua demi Kanaya. Tapi, mungkin itu lah sebabnya Kanaya menaruh hati kepada Bram. Bram bisa mencuri hati Kanaya karena Bram adalah sosok ayah yang membesarkan Aldo seorang diri, terlebih lagi Bram seorang Casanova, Bram paham betul apa yang di lakukan terhadap gadis seperti Kanaya, semua lengkap ada di diri Bram. Semua yang Kanaya inginkan ada di sosok Bram, ayah, pria sejati, tanggung jawab mapan dan semuanya. Berbeda dengan Aldo, pemuda tampan, sukses dan dia tidak bisa memberikan kenyamanan yang Bram berikan kepada Kanaya," ungkap Pandu.


Herdi dan Anna tercengang mendengar penjelasan dari Pandu, dan semua yang di ucapkan Pandu itu benar.


" Tapi aku tidak bisa menerima Bram beda usia terlalu jauh dari Kanaya," ucap Herdi.


"Kalau soal itu aku tidak bisa menjawab. Itu terserah padamu, Anna dan Kanaya. Aku akan mendukung yang terbaik untuk Kanaya. Tapi satu pesanku, jangan sampai karena keegoisan kita sebagai orang tua, akhirnya membuat anak kita bersedih seumur hidupnya. Kalau sudah terjadi yang paling menyesal dalam hidup ini adalah kita, karena kita yang telah membuatnya seperti itu," ucap Pandu.


"Bram sudah berusia, sedangkan Kanaya masih muda, apa Bram tidak takut Kanaya dilirik oleh pria muda lainnya. Bram akan semakin tua, tapi Kanaya masih muda, kalau Kanaya nantinya berpaling bagaimana?" ucap Herdi.


"Husssttttt," serentak Anna dan Pandu meminta Herdi u tuk diam. "Jangan bicara yang tidak-tidak," ucap Pandu dan Anna.


"Aldo malah berniat menjodohkan Bram dengan teman wanitanya," ucap Herdi.

__ADS_1


Pandu metotkan matanya, "Serius kamu, Her." Pandu seakan tak percaya dengan apa yang di dengar nya barusan. " Tapi Bram tidak ada bercerita hal itu padaku, apa Bram setuju dengan usulan Aldo itu?"


"Bram jelas tidak mau lah, dia malah tidak merestui hubungan Aldo dan Kanaya, papa dan anak sama memperebutkan Kanaya," ucap Herdi sambil memijat-mijat keningnya yang serasa pusing saat mengingat kejadian makan malam semalam.


"Sudah kita lanjutkan nanti, kita makan siang dulu yuk," ajak Anna.


Mereka beranjak dari duduknya dan menuju tempat makan, Pandu menghampiri anak-anak yang masih tengah asik mengobrol.


"Aldo, apa kamu sudah hubungi papamu. Apa dia sudah terbang?" tanya Pandu.


"Sudah om, baru saja papa naik pesawat, om," jawab Aldo.


"Mari kita makan siang dulu yuk." Anna memanggil semuanya untuk makan bersama-sama.


"Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini, hanya saja sayang Bram sudah kembali dan kamu Pandu kenapa Anita tidak di bawa," ucap Anna.


"Kalian tahu sendiri kan Anita tuh wanita karir, sibuk sekali dia," jawab Pandu.


"Iya tante, jarang sekali Alissa bertemu mama dalam waktu lama, terlalu sibuk mama. Tapi Alissa mengerti mama dan papa bekerja keras demi Alissa. Untungnya sekarang Alissa ada Diki, walau hanya bisa berhubungan lewat telepon setidaknya Alissa tidak kesepian lagi," tutur Alissa.


"Dengar-dengar Diki itu usianya lebih tua dari kamu ya, Al?" tanya Herdi.


"Iya, om. Heeee. Tapi kami sling mencintai, untungnya papa dan mama tidak keberatan dengan hubungan kami. Beda 10 tahun sih om, tapi Alissa lihat di luar sana banyak juga pasangan yang sama umur malah banyak yang berpisah, jadi menurut Alissa umur itu bukan patokan untuk menjalin sebuah hubungan," ucap Alissa.


Pandu tersenyum akan jawaban dari putrinya. Setidaknya dengan ucapan Alissa barusan Herdi bisa berpikir untuk hubungan Kanaya dan Bram.


"Nanti saat aku sudah menikah dengan Kanaya, kita akan sering-sering adakan makan bersama begini ya, sayang," ucap Aldo sembari menyenggol sikut Kanaya dengan sikutnya.


Kanaya pun tersedak, " uhukkk.....uhukkk."


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Aldo memberikan secangkir air putih kepada Kanaya.


Kanaya menggelengkan kepalanya. Dan mereka pun menikmati makan siang mereka dengan lahap. Malam ini Alissa dan Pandu tidur di resort tempat Herdi menginap karena besok mereka semua akan pulang dan kembali ke jakarta bersama-sama. Padahal Aldo meminta Kanaya untuk tinggal sehari lagi menghabiskan waktu berdua dan berjalan-jalan, karena Aldo belum sempat menemani kekasihnya, tapi Kanaya menolak ajakan Aldo dengan alasan masih banyak yang harus di kerjakan dan harus segera kembali.


Bram meraih ponselnya dan mendial sebuah nomor yang tersimpan di ponselnya.


"Apa kamu masih menyukai papaku?" ucap Aldo yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Baiklah, aku menyetujui jika kamu masih mau mendekati papaku," ucap Aldo sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2