
"Bener-bener Aldo mau menguji kesabaranku. Dengan sengaja dia bermesraan di hadapanku."
Malam semakin larut, Aldo memutuskan untuk mengadakan pertemuan kembali di lain waktu untuk menentukan hari baik untuk pernikahan Viona dan Bram. Aldo juga akan mempercepat pernikahannya dengan Kanaya setelah pernikahan papanya selesai. Awalnya Aldo ingin melaksanakan pernikahan bersama-sama dengan Viona dan papanya serta dirinya dan Kanaya, namun Kanaya tidak setuju untuk melakukan itu. Kanaya meminta kepada Aldo untuk melaksanakan pernikahan dirinya setelah Viona dan Bram sudah menikah.
Aldo mencium punggung tangan Kanaya dengang mesra, "aku setuju denganmu, sayang. Kita akan menikah setelah papa dan Viona sudah menikah."
"Putri sayang, apa kamu ingin ice krim? Bagaimana kalau kita membelinya di luar." Bram tersenyum kepada Putri.
"Boleh, pah. Putri mau, tapi kita ajak mama juga ya. Sudah lama kita tidak jalan-jalan bertiga seperti keluarga," ucap Putri. Putri di memang masih kecil, tapi karena kemandirian yang ia lakukan sejak kecil, membuat Putri seperti tumbuh dewasa sebelum waktunya.
"Boleh, ajak saja mamamu. Yang terpenting Putri bahagia," ucap Bram.
Putri, Viona dan Bram beranjak dari duduk mereka kemudian berpamitan kepada Aldo dan Kanaya lalu melangkah keluar dari restoran.
Kanaya yang sejak tadi hanya diam menatap ke bawah, kini dia berusaha mencuri-curi pandang melirik Bram yang keluar dari restoran bersama Viona dan Putri. Menatap tubuh Bram yang semakin lama semakin jauh dan menghilang dari pandangan mata Kanaya.
"Kita pergi juga yuk, sayang." Aldo mengajak Kanaya untuk pergi dari restoran itu, karena hari semakin larut.
Kanaya mengangguk dan tersenyum. " Ayo..."
Aldo dan Kanaya beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari restoran menuju mobil milik Aldo.
Sedangkan Bram yang bersama Viona dan putrinya sedang asik berjalan-jalan di tengah kota yang masih terlihat ramai.
"Bram, boleh aku bertanya padamu?" ucap Viona yang sesekali menatap wajah Bram yang berjalan di sampingnya.
"Tentu saja, ada apa?" sahut Bram.
Viona menjadi bingung dan ragu, apa harus dia tanyakan hal ini pada Bram. Viona takut pertanyaan ini akan membuat Bram berpikir kalau dirinya sangat mengharapkan pernikahan ini terjadi secepatnya. Biasa seorang wanita selalu memikirkan gengsinya lebih dulu daripada hatinya. Tapi jika Viona tidak bertanya dia semakin penasaran.
"Bram.....! Hmmm, apakah kamu masih ingin menikah dengan ku seperti dulu. Eh maksudku, apa kamu masih memiliki perasaan yang sama kepadaku seperti dulu?" tanya Viona.
Bram terdiam sesaat sebelum dia menjawab pertanyaan itu. "Aku juga tidak tahu, Vi. Dulu benar aku ingin menolongmu dengan menikahimu. Tapi sekarang..."
"Sepertinya ini sudah larut malam, bagaimana kalau kita pulang saja, sayang." Viona sengaja memotong ucapan Bram yang belum selesai, Viona takut Bram akan menolak rencana pernikahan ini. Viona beralasan mengajak Putri untuk pulang.
__ADS_1
"Di mana rumah kalian?" tanya Bram.
"Di gang mawar nomor 104," jawab Viona.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian aku antar sampai ke rumah." Bram mengajak Viona dan putrinya untuk masuk ke dalam mobil. Bram segera melajukan mobilnya agar cepat sampai, dan mengakhiri pertemuan malam ini.
"Calon istri Aldo cantik, sepertinya dia seumuran denganku," ucap Viona yang mencoba memecah keheningan di dalam mobil sepanjang perjalanan.
"Ya, dia memang sangat canti. Bukan hanya cantik, dia memiliki hati yang sangat baik" sahut Bram.
Viona cukup tercengang mendengar jawaban lengkap dari Bram. Walau Viona merasa sedikit aneh tapi ia coba untuk tidak memikirkannya. Mungkin karena Kanaya dan Aldo sudah berpacaran lama jadi Bram sangat tahu sifat calon menantunya itu.
"Sampai. Ini bukankah seperti kost-kostan?" tanya Bram yang melihat sebuah rumah besar namun mempunyai banyak pintu di lantai satu dan dua, seperti kost-kostan.
"Iya benar, kami tinggal di kost-kostan ini, di lantai dua yang paling pojok," jawab Viona.
"Terima kasih, pah. Papa Bram sudah mau mengantar Putri pulang sampai di rumah," ucap Putri.
"Sama-sama sayang," sahut Bram.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Kamu hati-hati di jalan," ucap Kanaya yang sudah sampai di rumah.
"Selamat malam, Sayang." Aldo memeluk kembali Kanaya sebelum masuk ke dalam mobil. Memberikan sebuah kecupan di kening kekasihnya.
"Aku masuk dulu." Kanaya melambaikan tangannya sebelum dirinya berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Bram kembali masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya ke arah jalan pulang. Sedangkan Kanaya melangkah masuk ke dalam rumah. Menekan beberapa tombol dan pintu terbuka. Kanaya berjalan dengan gontai, kakinya terasa lemas. Menatap anak tangga yang banyak yang harus ia naiki satu persatu membuat dirinya semakin lemas dan tak sanggup. Dengan perlahan Kanaya naik ke lantai dua menuju kamar tidurnya.
Bram kini sudah berada di depan rumah Kanaya. Berusaha membuka pintu pagar namun tidak bisa, karena sudah terkunci. Tapi Bram tidak habis akal. Awalnya dirinya berniat memanjat pagar, tapi saat dirinya hendak melakukannya tiba-tiba Bram tersadar, kalau ada yang melihat dirinya nanti dikira maling, habis babak belur nanti di hakimi massa. Bram mengurungkan niat tersebut, dan berpikir kembali mencari cara lain.
Bram coba untuk menghubungi ponsel Kanaya. Beberapa panggilan terlewatkam begitu aaja tanpanada jawaban dari Kanaya. Kembali Bram mendial nomor Kanaya sampai pada akhirnya teleponnya di jawab oleh Kanaya.
"Ada apa?" sahut Kanaya.
__ADS_1
"Aku ingin masuk ke dalam, Sayang. Tolong bukakan pintu pagarnya," pinta Bram.
"Untuk apa lagi om kemari, Kanaya sudah mau tidur," ketus Kanaya.
"Tolong lah, biarkan aku masuk. Kalau tidak, aku akan panggil anak buahku untuk menghancurkan pintu pagar ini," ucap Bram.
"Brammm.......!" Kanaya kini berteriak, setelah mendapat sebuah ancaman dari Bram.
Telepon pun terputus begitu saja. Bram yakin kalau Kanaya akan membukakan dirinya pintu. Tidak mungkin pujaan hatiku membiarkan pria tua ini kedinginan di luar sini.
Pintu rumah terbuka, terlihat Kanaya dengan raut wajah yang tidak enak di lihat berjalan keluar rumah menuju pintu pagar. Dengan tidak sabarnya Bram masuk dan memeluk tubuh pujaan hatinya. Bram hanya diam, tapi kedua tangannya semakin erat memeluk tubuh mungil Kanaya. Sampai akhirnya Kanaya berontak dan melepaskan pelukan Bram dari tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Walau dalam hati kecil Kanaya, ingin sekali dirinya memeluk erat tubuh pria paruh baya yang ada di hadapannya itu. Namun karena Kanaya masih kesal dan marah padanya, Kanaya berusaha menahan rasa itu.
"Kamu setuju kalau aku menikah dengan Viona?" tanya Bram.
"Bukan aku yang setuju, tapi dirimu sendiri yang menyetujui pernikahan itu," ujar Kanaya.
"Apa kamu bisa melihat aku menikahi wanita lain, jujurlah, Sayang. Kamu tidak menyetujui semua rencana Aldo ini kan. Karena kamu dan aku memiliki perasaan yang sama." Bram menatap wajah Kanaya lebih dekat. Terlihat kedua mata Kanaya yang mulai berkaca-kaca.
"Bram...., mengertilah. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama. Tidaka ada kecocokan diantara kita."
"Jangan begini, Sayang," lirih Bram.
"Apa aku tidak tampan, apa aku tidak cukup baik untukmu, apa kurangnya aku di banding putraku? jawab Kay!" Bram menghempas tangannya ke sembarang arah, mengacak-ngacak rambutnya.
Kanaya bingung untuk menjelaskan dengan cara apa lagi kepada Bram. Situasi yang kini tengah mereka hadapi sangatlah tidak me mungkin mereka untuk bersama.
"Pasti karena perbedaan usia kita, coba singkirkan itu dari pikiranmu dan cobalah ikuti kata hatimu sendiri," geram Bram. "Aku tahu kamu juga mencintaiku, hati kecilmu mengatakan itu."
"Please, lupakan aku Bram," pinta Kanaya.
"Tidak akan pernah!!" ucap Bram dengan suara yang lebih nyaring dari suara Kanaya. "Rasa ini tidak akan mudah begitu saja di lupakan. Semakin aku melihat kamu dekat dengan putraku, hatiku semakin hancur. Katakanlah yang sejujurnya, Kay. Kalau kau juga mencintaiku. Setelah itu kita akan menikah. Semua belum terlambat."
...Aku bingung harus bagaimana...
Ku harus memilih diantara dua. Kupilih cinta Aldo hatiku terluka. Tapi saat aku memilih Bram, hati banyak orang yang akan terluka. Aku harus bagaimana agar tidak ada yang terluka. Siapa yang harus ku pilih?
__ADS_1