
Pagi yang cerah ketika matahari memancarkan sinarnya dari timur dunia, pohon- pohon rindang dengan daun- daun hijaunya yang masih basah oleh embun semalam. Tampak riang berceloteh sekelompok burung pipit yang terbang, melompat dan hinggap di dahan ranting pohon. Mereka asyik berdiskusi membicarakan satu tempat dengan hamparan sari- sari bunga dan biji- biji buah yang telah matang untuk di santap sebagai sarapan pagi mereka.
Masih pukul 5.30 pagi. Bram telah bersiap melakukan kegiatan rutin paginya dengan bersepeda mengelilingi kota Jogjakarta tempat dia tinggal. Dengan sepeda gunung warna biru dan kamera poket yang diselempangkan di pinggangnya, Bram pun bersiap kemudian semangat mengayuh pedal sepedanya menanti bersihnya udara pagi. Menyegarkan pandangan mata menikmati pemandangan kota dan mengambil moment- moment indah dengan kamera poketnya.
Pagi itu jalan begitu lenggang, belum banyak kendaraan yang lalu lalang, udara segar masih bisa dinikmati dan belum dikotori oleh asap- asap kendaraan- kendaraan yang membuat bumi ini kelabu oleh tumpukan polusi yang bisa merusak ozon. Sambil menikmati suasana pagi dengan kayuhan pasti Bram teringat sebuah buku yang pernah dibacanya tentang di sebuah negara, tapi Bram lupa nama negaranya yang transportasi umumnya adalah sepeda. Semua masyarakat kotanya menggunakan sepeda dalam melakukan aktifitas. Baik itu orang kantoran sampai tukang sapu. Jadi tidak terlihat perbedaaan yang kaya dan miskin. Jika tidak memakai sepeda maka masyarakat berjalan kaki. Dan untuk perjalanan jauh, mereka menggunakan kereta cepat bawah tanah.
Telah jauh berjalan Bram melewati sebuah pasar yang sejak subuh tadi telah ramai oleh para pedagang yang mempersiapkan dagangan kebutuhan pokok rumah tangga. Sayur- sayur segar yang langsung di datangkan dari kota- kota luar Jogjakarta, kentang- kentang segar, tomat- tomat beriring dalam keranjang diturunkan dari mobil buk pick up. Brokoli- brokoli segar, lombok dan cabe yang dihamparkan dipelataran pasar. Para pedagang itu telah siap tempur dengan para pembeli. Lalu Bram pun berhenti sebentar untuk mengabadikan moment yang ditemuinya di pasar itu. Mulai dari pedagang daging yang sedia akan mengkapak daging segar dengan pisau besar persegi empat, para tukang becak yang bederet rapi diluar pagar pasar yang sedia mengangkut barang dan penumpang yang akan berbelanja. Ibu- ibu yang ramai memadati bersamaan para mahasiswi yang akan belanja kebutuhan sehari- hari yang masih memakai baju tidurnya.
Kemudian Bram melanjutkan perjalanan paginya, ia terus mengayuh sepedanya dan sampailah pada sebuah tugu yang menjadi symbol kota pelajar itu, ialah tugu Jogja yang senantiasa menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Jogja. Kemudian mengitari melewati Malioboro yang juga menjadi symbol sebagai tempat perbelanjaan di kota pelajar ini. Dimana di dalamnya tidak hanya ditemui orang-orang yang berjual beli, namun secara tidak langsung dapat ditemukan juga budaya-budaya serta kebiasaan orang-orang Jawa.
Telah hampir berselang perjalanan pagi dilewati oleh Bram, dia pun berhenti pada suatu simpang dimana banyak berkumpul orang-orang yang melakukan aktifitasnya. Pemuda itu berhenti di tempat pembuangan sampah di mana banyak berkumpul para pekerja dengan bak-bak sampah beroda dua berwarna kuning dan orange terbuat dari besi. Mengais dan mengumpulkan sampah kemudian memindahkan sampah-sampah itu ke bak mereka masing-masing hingga penuh. Suatu pemandangan tersendiri buat si Bram yang kemudian di abadikannya dalam kamera poketnya. Betapa dia harus amat bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya sekarang ini. Terlihat dengan ikhlas orang tua yang memindahkan sampah- sampah yang bau tanpa tau lagi aroma bau itu seperti apa karena telah terbiasa akan hidangan aroma paginya. Tampak seorang ibu yang menarik kereta sampah yang telah penuh. Dengan peluh dan keringat mereka menjalankan itu semua demi menyambung hidup. Membuat Bram termenung dan berfikir.
Namun di sudut lain tempat pembuangan sampah itu ada pemandangan yang amat janggal di lihatnya. Bukan seharusnya pemandangan itu di letakkan di sana. Tampak seorang wanita muda berkulit putih bersih dengan menggunakan pakaian santai untuk berolahraga. Wanita itu tidak lain adalah Kanaya. Bram berfikir seharusnya apa yang dilihatnya bukan disitu tempatnya. Apa yang Kanaya lakukan di tengah-tengah sampah dan para pekerja.
__ADS_1
Bram yang berada sedikit jauh dari tempat pembuangan sampah itu mengambil gambar para pekerja yang sedang mengumpulkan sampah-sampah. Namun saat itu dia tertegun oleh senyum simpul Kanaya yang tampak jelita melemparkan senyumnya kepada para pekerja. Tampak Kanaya mendeketi salah seorang ibu pekerja dan memberikan sebungkus besar barang di dalam plastic hitam yang ternyata isinya adalah nasi kotak yang bisa terbagi dan cukup buat semua para pekerja yang ada. Bram yang tertegun cukup lama dan tak ingin kehilangan moment, Bram langsung mengangkat kamera poketnya memotret beberapa kali Kanaya yang tengah tulus memerikan bantuan sarapan pagi bagi para pekerja.
Tampak senyum puas diwajah Kanaya, Bram pun bertanya-tanya ntah mengapa Kanaya bisa ada di sana. Tak beberapa lama, masih dalam pantauan Bram, Kanaya kemudian pamit pada semua pekerja di sana. Sambil menyalami santun seorang ibu pekerja wanita tanpa risih dan takut tangannya kotor, Kanaya kemudian berlalu menaiki sepeda motor maticnya. Sebelum berlalu pergi sambil membelakangi Bram, tampak tarikan nafas panjang akan kepuasaan ketulusan amal dari Kanaya. Pemandangan yang janggal dan merasa bukan pada tempatnya telah menyentuh hati Bram. Layaknya daun kering yang terbasahi dan tertetesi embun pagi, sama seperti pagi yang indah ini. Perasaan berkelebat tak menentu .
Sepanjang perjalanan pulang Bram termenung memikirkan Kanaya. Dia sudah tidak lagi menikmati pemandangan di kanan kirinya, seperti pemandangan hari itu telah cukup sudah tergantikan oleh sosok Kanaya yang sangat tulus terhadap sesama manusia yang baru saja di lihatnya tadi. Dengan semangat mengayuh sepeda Bram tersenyum sambil memegang kamera pocketnya dan berkata dalam hati “ potret dirimu tak hanya di kameraku, tapi juga telah terpatri di pikiranku”
Sampainya Bram di rumah, dia segera bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Kanaya. Dengan menggunakan kemeja berwarna putih polos di dipadupadankan dengan blazer polos berwarna navy serta memakai celana jeans biru tua dan sepatu oxford berwarna coklat menjadi pilihan gaya Bram hari ini. Rambut coklat yang sudah di potong dengan model under cut mulai di tata rapi dengan sentuhan gel dan di sisir ke arah belakang. Dan yang paling penting dari penampilan Bram hari ini adalah sentuhan parfum, karena hari ini adalah hari spesial baginya, Bram menggunakan parfum yang special juga. Parfum legendaris yang ada sejak tahun 1990 an. Perpaduan aroma lavender, lemon dan jeruk menghasilkan aroma segar sekaligus maskulin, di jamin bisa membuat para wanita terpikat. Bram mulai menyemprotkan di titik- titik sensitif tubuhnya.
Kini Bram berdiri di depan cermin besar, "Kamu memang yang terbaik, Bram. Aku yakin kali ini bisa meluluhkan hati Kanaya," ucap Bram dengan penuh percaya diri.
Bram keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil. Mesin mobil di nyalakan, Bram mengendarai mobilnya ke luar gerbang menuju jalan raya dengan cukup kencang. Tapi tiba-tiba Bram menginjak rem secara mendadak, mobil pun berhenti tepat di depan toko Coklat. Bram keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam toko, menatap ke sekeliling sudut toko berbagai macam kue coklat dan bentuknya yang beragam. Akhirnya Bram memilih coklat berbentuk buket bunga. Kali ini Bram memilih coklat berbentuk bunga karena melambangkan cintanya dan cinta Kanaya yang tidak akan pernah layu dan akan selalu tetap manis. Dan sudah pasti coklat ini sangat cocok untuk Kanaya yang manis.
Perjalanan pun di lanjutkan menuju rumah sang pujaan hati yang tidak terlalu jauh. Mobil pun berhenti tepat di depan pagar rumah Kanaya. Dengan senyuman manis Bram keluar dari dalam mobil dan masuk melalui pintu pagar yang tidak terkunci dan memilih menunggu Kanaya di teras rumah sambil duduk santai.
__ADS_1
Sedangkan Kanaya masih merias diri di dalam kamarnya. Kanaya memilih mengenakan pakaian bergaya santai dan nyaman di pakai. Memakai inner kaos lengan pendek berwarna putih polos di kombinasikan dengan Long cardi dan celana kulot berwarna coklat yang memiliki tali obi yang menempel di pinggang karet celana. Membuat Kanaya terlihat sangat cantik dengan rambut hitam bergelombang yang di biarkan terurai indah.
Bram yang menunggu cukup lama akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam, karena sejak tadi pintu rumah Kay terbuka lebar, seperti menyambut kedatangan Bram. Bram yang sudah masuk ke dalam rumah tidak melihat sosok Kanaya di sana. Bram menaiki anak tangga perlahan dan melihat salah satu ruangan yang berada di lantai dua tidak tertutup rapat. Perlahan Bram mendekati ruangan itu, Bram melihat sosok Kanaya yang berada di dalam masih bersiap diri.
Bram masuk ke dalam kamar tidur Kanaya tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Kanaya pun terkejut melihat ada sosok pria yang ada di dalam kamar tidurnya. Bram pun tersenyum manis.
"Om Bram!!" bentak Kanaya yang sangat terkejut.
" Nga-ngapain di sini, om tunggu saja aku di bawah,"Kanaya berkata sedikit gugup.
"Sayang, aku bosan menunggumu di bawah sendirian sejak tadi, lebih baik aku di sini menunggumu sambil ngobrol," ucap Bram.
Kanaya mendelik mendengar nya. "Owh..maaf om. Kanaya telat karena tadi pagi-pagi sekali ada urusan mendadak jadi sekarang telat deh," kata Kanaya.
__ADS_1
Bram pun tersenyum menatap ke arah Kay. Kini tubuh Bram sudah mendekati Kanaya.