MENCINTAI CALON PAPA MERTUA

MENCINTAI CALON PAPA MERTUA
Enam Belas : Berkunjung ke wisata


__ADS_3

Kanaya , Bram, Aldo, Herdi dan Anna sudah selesai sarapan bersama. Bram, Aldo dan Herdi bersiap-siap untuk menemui rekan bisnis mereka yang kebetulan sedang berlibur di Bali juga. Sedangkan Anna hari ini ada janji untuk bertemu teman lamanya, teman semasa kuliah dulu. Hanya Kanaya seorang diri yang akan pergi berpetualang hari ini keliling pulau Bali.


Aldo mendekati sang kekasih sebelum dirinya pergi, memeluknya serta mendaratkan sebuah kecupan di kening sang kekasih, "Kamu jadi pergi jalan-jalan hari ini?" ucap Aldo.


Bram menghela napas kasar dan berlalu begitu cepat meninggalkan Aldo dan Kanaya. Pagi ini Bram tidak membuat keributan, entah apa yang sudah direncanakan oleh Bram hari ini, yang jelas dirinya lebih terlihat sabar ketimbang saat makan malam bersama tadi malam.


Kanaya merapikan kembali jas yang di kenakan oleh Aldo. "Iya, aku akan berkeliling pulau Bali hari ini, apa kamu mau mengantarkan ku?" tanya Kanaya.


"Sepertinya hari ini tidak bisa sayang, maaf ya. Setelah pertemuan dengan rekan bisnis Om Herdi dan papa aku akan keluar sebentar menemui teman lamaku. Bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan bersama?" sahut Aldo.


"Hmmmm, baiklah. Aku mengerti."


Aldo dan Kanaya keluar dari ruang makan, mereka menuju lift yang memang ada di resort mewah tersebut. Lift terbuka, Aldo dan Kanaya keluar. Kanaya mengantar Aldo sampai ke dekat mobil, sebuah mobil sport mewah sudah terparkir rapi di sana, sesuai dengan permintaan Aldo kepada pemilik resort. Aldo pun masuk kedalam mobil dan tancap gas pergi meninggalkan Kanaya yang masih berdiri di halaman resort, melaju menyusul Herdi yang duluan pergi.


Bram muncul dari belakang Kanaya dan berlalu melewatinya. "Nanti sore aku akan menjemputmu." Bram membelai lembut puncak kepala Kanaya, " ingat jangan sampai kau lupa."


Kanaya terkejut mendengar itu. "Bram mengajakku berkencan berdua? Hahhh, yang benar saja, bagaimana bisa, apa dia tidak takut ketahuan apa dengan ayah," batin Kanaya. Kanaya hanya terdiam dan belum merespon ucapan Bram tadi.


Dengan gerakan cepat Bram mengambil kesempatan itu, segera Bram mendaratkan kecupan di kening dan di bibir mungil Kanaya. Kanaya pun membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Bram. Kanaya segera menengok ke kiri dan kanan bahkan belakang. Kanaya takut kalau ibunya melihat kejadian barusan. Kanaya memberikan hadiah sebuah pukulan yang mengenai dadnya Bram.


"Akh...sakit sayang," ucap Bram sambil tersenyum manis.


"Brammmmmmmmm........!" seru Kanaya kesal.


Bram bergegas berlari menuju mobil mewah, segera Bram masuk kedalam dan menyalakan mesin mobilnya, lalu melambaikan tangan nya kepada Kanaya. Bram pun berlalu dari sana. Kanaya pun kemudian langsung masuk ke dalam resort lagi menuju kamar tidurnya. Kini Kanaya sudah berdiri di depan lemari kaca, di cermin Kanaya bisa melihat jelas wajahnya yang penuh dengan banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban.


Bram sampai di tempat yang di tuju, Hotel Platinum Ballroom. Dengan jendela dari lantai ke langit-langit menyambut di bawah sinar matahari alami dan pemandangan taman, sementara langit-langit yang tinggi menciptakan ruang yang lega, untuk pertemuan yang santai ini. Lingkungan taman yang subur menawarkan pengaturan yang sempurna untuk jamuan kali ini.

__ADS_1


Bram keluar dari dalam mobil dengan gagahnya. Wanita-wanita yang berada di sekitar hotel memandang Bram tanpa berkedip, wanita-wanita itu mengagumi sosok Bram yang tampan.


Bram masuk ke dalam lift dan menekan angka teratas menuju ruangan yang sudah di janjikan dan di beritahu oleh Herdi. Pintu lift terbuka kembali, dan saatnya Bram keluar dan langsung menuju ke ruangan pertemuan. Saat Bram masuk kedalam sudah ada beberapa orang asing di sana. Selain Aldo, Herdi dan dirinya ternyata Pandu juga ada di sana, dan ada juga Mr. Smit, Mrs. Adelina, Mr. White. Bram membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada tamu mereka hari ini.


"Pagi, Bram," sapa Pandu.


"Pagi juga, Ndu," balas Bram.


Bram duduk di samping Pandu, dan meeting pun dimulai. Mulai dari membahas kerjasama sampai lokasi yang akan di gunakan, semua di bicarakan secara terperinci.


Di saat meeting masih berlangsung, Bram malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Bram sibuk mengetik di ponselnya, sepertinya Bram sedang menulis chat. Setelah meng-klik tombol send, barulah Bram fokus kembali dengan meeting nya.


Zerrttttt......zerrtttt......!


Ponsel Pandu bergetar, Pandu meraih ponselnya yang berada di saku jasnya. Tertera notifikasi chat dari "Bram", Pandu rasa tak percaya, teman yang duduk di sebelahnya mengechatnya. Pandu melirik ke arah Bram yang pura-pura tidak melihatnya dan fokus untuk mendengarkan meeting nya. Pandu penasaran apa yang Bram chat padanya. Pandu pun membuka chat tersebut.


" Pandu, kamu kan sahabatku kali ini aku benar-benar minta tolong padamu. Aku ingin mengajak Kanaya jalan-jalan. Bisa kah kamu atur semuanya. Dan jangan sampai ada yang tahu, terutama Herdi dan Aldo, Pleaseeeeeeee. Ku mohon."


Zerrttttt......zerrtttt......!


Kini ponsel Bram bergetar, Bram meraih ponselnya yang berada di atas meja, tertulis "Pandu", Bram pun langsung menoleh ke arah sahabatnya itu, namun kali ini gantian Pandu seakan tidak melihat reaksi Bram yang sedang menatapnya. Pandu malah fokus untuk meeting. Dengan penasaran Bram membuka chat tersebut.


"Kamu itu beneran jatuh cinta, sama pacar anakmu sendiri?"


Bram pun mulai mengetik balasan chat tersebut, "Aku jatuh cinta pada Kanaya, titik."


Pandu yang mendapat balasan seperti itu menghela napas panjang, "Hahh....kamu yakin dengan perasaanmu itu. Kamu ngga main-main dengan Kanaya, dari sekian banyak wanita di luar sana yang pernah One night love denganmu, tidak ada lah yang membuatmu tertarik? Ini malah Kanaya yang membuatmu tergila-gila," balas Pandu.

__ADS_1


Bram yang telah membaca balasan dari Pandu, langsung mengetik kan chat balasan juga yang tidak mau kalah dengan ucapan pandu tersebut. "Kamu pernah dengar istilah orang berkata, jagain jodoh orang? Aldo pacaran lama dengan Kanaya tapi nikahnya bakal sama aku, atau istilah Petrus, Pepet terus, jangan kasih kendor sampai dia menjadi milikmu!" Bram pun menahan tawanya sendiri seletelah mengirim chat tersebut.


Pandu yang menerima balasan tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Jadi.....apa yang harus ku lakukan," balas Pandu. Mereka berdua yang tengah asik balas membalas chat, sesekali mereka fokus ke meeting.


"Aku ingin membawa Kanaya pergi ke Broken Beach, aku ingin membawanya liburan berdua sebelum kami kembali. Aku ingin kamu membantuku untuk menyiapkan semua, dan termasuk ijin dari Herdi, kalau Herdi tahu putrinya pergi bersamaku habis aku," balas Bram.


Pandu memijat-mijat keningnya, tiba-tiba dirinya merasa pusing secara tiba-tiba setelah membaca chat dari Bram itu. Pandu berpikir sejenak, apa yang harus ku lakukan. "Jika aku bantu si Bram sama saja aku mengkhianati Herdi. Tapi kalau aku tidak bantu si Bram kasian juga mereka. Ya aku tahu mereka saling mencintai tapi Herdi saja tidak merestui hubungan mereka. Kalau sampai aku ketahuan oleh Herdi, aku telah mengkhianati kepercayaannya, tamat lah persahabatan kita." Pandu bingung dia pun mulai mengacak-ngacak rambutnya asal, tapi Pandu tetap terlihat keren walau rambutnya di acak-acak. heehee


Pandu melirik ke sahabatnya itu, yang menatapnya sejak tadi dengan wajah memelas, "Sial, kenapa aku harus ikut terlibat dalam percintaan yang rumit ini," batin Pandu.


Kini Pandu menatap Herdi, "Maafkan aku, Her. Aku terpaksa mengkhianati persahabatan kita. Aku harap kamu mengerti kalau Putrimu dan Bram saling mencintai," ucap Pandu dalam hati. Pandu berharap keputusannya untuk membantu Bram tidak salah.


"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi ingat jangan kau apa-apa kan gadis itu. Kalau kamu berbuat nekat, bukan Herdi yang akan menghabisimu, tapi aku sendiri yang akan lakukan itu." Pandu mengirim pesan itu kepada Bram.


Kini Bram hanya membalas singkat pesan dari Pandu. "Ok... aku berjanji. Aku memang tidak akan berbuat macam-macam sebelum dia sah menjadi muhrimku," Bram mengirim pesan tersebut kepada Pandu.


Kini perjanjian selesai, Bram dan Pandu langsung melanjutkan fokus mereka pada meeting tersebut tanpa ada gangguan lagi.


Masih di resort, "Sayang.....ibu pergi dulu ya. Kamu kalau jalan-jalan hati-hati yah. Tidak apa kan kamu berkeliling sendiri hari ini," ucap Anna sedih.


"Ibu hati-hati ya di jalan. Kanaya tidak apa-apa bu. Kanaya sudah besar jangan perlakukan Kanaya seperti anak berusia 10 tahun," ucap Kanaya.


Anna pun tersenyum, "Baiklah, sampai jumpa."


"Selamat bersenang-senang, bu," seru Kanaya.


Pagi ini begitu cerah, mentari dan lalang kendaraan bermotor berangkat kota Singaraja. Kanaya pun bersiap-siap untuk memulai mengunjungi tempat-tempat yang indah di Bali. Yang pertama Kanaya akan kunjungi adalah Pura Ulun Danu Beratan. Pura yang terletak di desa Candi Kuning, Nedugul Tabanan Bali. Pura yang memiliki keindahan yang Eksotik, karena letaknya berada di bibir danau Baratan. Tempat yang merupakan ikon Wisata Bali dan juga sebagai gambar di mata uang lima puluh ribu. Kanaya bisa menghirup udara segar di tempat ini, karena di hapit pergunungan masih banyak pepohonannya. 

__ADS_1


Kanaya pun melanjutkan perjalanannya menuju ke Tanah Lot. Tanah Lot yang terletak di pesisir selatan kabupaten Tabanan, Bali. Tepat pukul 11:30 siang Kanaya sampai dikawasan Tanah Lot dan Kanaya langsung membeli tiket masuk, tiket masuk seharga 10 ribu untuk satu orang. Kanaya terus berjalan kaki sepanjang gang menuju Pura Tanah Lot. Suasana sudah ramai dengan pengunjung dari domestik maupun luar negeri. Pura tanah Lot yang keberadaannya menjorok ke laut. Di pura ini juga pengunjung bisa melihat deburan ombak pantai selatan, melihat ular suci dan minta air suci yang sudah dilakukan oleh pemangku Pura. 


Kini waktu sudah menunjukkan puk 12:40. Kanaya mulai merasa lapar dan memutuskan untuk mencari tempat makan siang. Kanaya menuju ke Dewi Sinta Restaurant Tanah Lot yang lokasinya berada di pusat tempat wisata Tanah Lot. Hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit dengan berjalan kaki dari pura Tanah Lot untuk sampai ke lokasi Dewi Sinta Restaurant Tanah Lot. Dengan semangat Kanaya pergi ke sana.


__ADS_2