
Pagi harinya Dira terbangun melihat jam yang sudah pukul 8 pagi.
" Hoamm ngantuk banget sii "
Setelah itu Dira beranjak dari ranjangnya Dira membersihkan tubuhnya setelah itu membuat sarapan pagi yang sederhana baginya.
Dibukanya lemari es yang hanya berisi satu mie instan. Dira menghela nafas nya secara perlahan. Sebelum memasak mie tersebut Dira berdoa. Setelah itu Dira memasak satu bungkus mie itu untuk mengganjal perutnya.
Setelah selesai sarapan Dira mencari cari sesuatu di lemarinya. Tak sengaja Dira menjatuhkan sebuah amplop coklat. Dira mengambil amplop tersebut. Dira mulai mebaca isi surat didalam amplop coklat tersebut.
Isi surat...
" Nak mamah sudah memepersiapkan semuanya untuk mu.Mungkin saat kamu sudah membaca surat ini mamah sudah tidak ada lagi disamping mu. Maafin mamah juga yaa nak. Tidak memberi tahu kan penyakit mamah ini kekamu mamah takut kamu akan berhenti kuliah saat kamu tahu akan penyakit mamah ini. Ohh..iya nak mamah sudah nabung buat keperluan kamu. Kamu pakai dengan baik yaa nak. Kamu harus lulus kuliah buat mamah bangga yaa nak meskipun mamah tidak bisa mendampingi kamu lagi. Sayang mamah mau kamu jadi anak yang mandiri. Jaga diri kamu baik baik yaa nak mamah sayang kamu Anindira. Putri mamah yang paling mamah sayang "
Tanpa sadar air mata Dira lolos begitu saja saat selesai membaca surat dari mamahnya.
" mamah....hiks...Dira merasa ngga...hiks...berguna..hikss... " tangis Dira semakin terisak.
Membayangkan betapa sakitnya tubuh mamahnya melawan penyakitnya sendiri.
Setelah itu Dira mengambil sebuah ATM. Lagi lagi air mata Dira lolos begitu saja. Dira tidak habis fikir. Selama itu mamahnya memendam penyakitnya dan ia masih menyempatkan untuk menabung.
__ADS_1
* * *
" Siapkan mobil !!! " titah Wiliam
" tuan muda mau kemana? " tanya asisten William yang melihat William sudah rapih dengan pakaian kasualnya tidak seprti biasanya.
" hari ini saya akan menemui teman saya Le "
" baiklah tuan mari saya antar " ucap Leon yang sudah bukan menjadi sekertaris lagi melainkan asisten William.
" tidak perlu Le, saya akan membawa mobil saya sendiri tanpa Supir!! ucap William menekan kata Supir.
" baiklah tuan "
* *
Tok tok tok
tak lama pintu pun terbuka lebar...
" kamu... " ucap Dira terkejut melihat William mengunjungi rumahnya yang sangat sederhana.
__ADS_1
William menatap mata Dira yang sedikit bengkak seperti habis menangis pikirnya.
" mata mu " ucap William sambil mengelus lembut pipi Dira.
Dira yang mendapatkan sentuhan lembut yang tidak pernah ia dapati lagi setelah ibunya pergi. Seketika tangis Dira pun pecah saat mendapatkan sentuhan lembut yang sering ibunya lakukan dulu.
William yang melihat Dira langsung memeluk erat tubuh mungil Dira, didada bidang milik seorang pengusaha muda.
" ada apa cerita dengan ku?" tanya William
William tidak mendapat respin dari Dira melepas pelukannya secara perlahan dan menuntun Dira untuk masuk kemobilnya. Tidak ada penolakan dari Dira William pun ikut masuk kemobilnya setelah itu ia tidak langsung melajukan mobilnya.
William mengusap pipi Dira yang sudah basah terkena air matanya.
" sudah jangan menangis lagi " ucap William dengan lembut.
Dira yang mendengar ucapan William mendongakan wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk.
" nahh kan kalo seperti ini terlihat baikan " ucap William dengan senyuman manisnya yang jarang sekali terekpo.
Kalo ada tiponya tadai yaa..
__ADS_1
jangan lupa Like biar author makin semangat :)