
Sesampainya dirumah sakit Willyam segera memanggil suster. Tak lama suster tersebut menghampiri dirinya dan membawa Dira masuk.
Willyam panik ntah apa yang sudah terjadi dengan Dira. Saat berkutik dengan pikirannya pintu UGD tersebut terbuka.
Wilyam menghampiri dokter yang menangani Dira.
" bagaiman keadaannya? " tanya Dimas
" dia hanya kelelahan dan mengakibatkan tubuhnya demam "
" ohhh baiklah terimaksih Dok "
" baiklah saya permisi dulu, nona Dira akan segera dipindahkan keruangan rawat "
Wilyam hanya menganggukan kepalanya. Ia pun melihat Ara dengan wajah yang sangat pucat ntah apa yang Dira lakukan disaat hujan lebat seperti tadi, itulah yangan ada dipikiran Willyam saat ini.
* * * * * * * *
__ADS_1
Dilain tempat Brayen sedang tersulut emosi mengetahui bahwa Dira masuk rumah sakit itu karna ulah dari bibi Wilyam. Sebenarnya selama ini Braten sudah mengetahui akan hal buruk yang akan menimpa Dira maka dari itu ia mengirimkan anak buah yang akan mengawasi Ara. Brayen sangat tahu betul seperti apa keluarga Wilyam. Saat mengetahui Dira bertemu dengan bibinya Wilyam. Brayen ingin sekali menampar mulut dari wanita paruh baya tersebut yang sudah lancang merendahkan Dira.
Brayen segera menuju rumah sakit. Dengan sangat cepat ia mengendarai mobilnya sampai polisi pun mengejarnya dan membuat Brayen hadus memberhentikan mobilnya.
"tu...tuan " ucap pisi tersebut gugup.
Bagaimana tidak gugup saat mengetahui yang berada didalam mobil mewah yang hanya ada lima dinegara tersebut. Yang sedang dikendarai anak pengusaha nomor satu membuat para polisi tersebut memilih mundur dari pada harus berurusan dengan anak pengusaha nomor satu yang sangat kejam dalam hal perbisnisan.
Brayen pun segera melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
Sebenarnya ia sangat tidak menyukai melanggar lalu lintas dan membuat polisi tersebut takut karna mengetahui dirinya adalah anak seorang pengusaha kaya raya nomor satu seasia.
" permisi tuan Wilyam Giirdan Wijaya " ucap Brayen dengan senyuman mengejek.
Wilyam pun mengepalkan tangannya jika ia tidak mengingat bahwa dirinya sedang dirumah sakit mungkin ia sudah menghajar wajah Brayen.
" bagaimana apakah kau sudah puas tuan Wilyam " ucap Brayen
__ADS_1
Wilyam tak mengerti apa yang dimaksud Brayen.
" oohh oke akan saya jelaskan. Bibi mu yang bau tanah itu menghampiri Dira dan merendahkan Dira hingga ia jatuh sakit seperti ini itu ulah bibi mu yang tidak bisa menjaga lisanya " ucap Brayen dengan sangat geram bila mengingat hal yang sudah dikatakan bibi Wilyam.
Wilyam mengeraskan rahangnya ketika mengetahui wanita yangvsedang berbaring lemah itu karna ulah bibinya. Tidak menjawab ucapan Brayen Wilyam langsung pergi meninggalkan Brayen yang sedang senyum penuh kemenangan.
Dilain tempat Bibi Wijaya sedang asik menonton tv. Tiba tiba terdengar suara yang sangat keras membuat bibi Wijaya terkejut.
Ia pun menghampiri asal suara tersebut melihat keponakannya yang sedang berdiri diambang pintu seketika membuat bibi Wijaya gugup. Melihat wajah Wilyam yang terlihat sangat marah.
Wilyam langsung menghampiri bibinya dan menarik paksa tangan bibinya ia pun menghempaskan tangan bibinya hingga terjatuh diatas sofa membuatnya meringis kesakitan.
" apa yang sudah kau katakan hahhh!!! " bentak Wilyam yang sudah berapi api
Bibi wilyam hanya terdiam ia tidak menyangka bahwa ancamannya terhadap Dira bisa membuatnya kena amukan dari ponakannya sendiri.
" ooohhh masih diam mulai detik ini aset perusahaan suami sudah akan menjadi milik ku, bersiap siap lah menjadi gembel jangan pernah menemui ku untuk hanya sekedar mengemis " ucap Wilyam
__ADS_1
.