
Dinding dinding kamar asrama baruku. Aku menelusuri dari ujung ke ujung memang sama sekali tidak mengecewakan, fasilitas seperti hotel bintang lima bahkan membuatku merasa semakin nyaman dibuatnya.
Aku Cece, gadis umur 16 tahun yang ceria dan doyan sekali makan, itu kata temanku, aku anak pindahan dari sekolah swasta di desa. Aku ke kota atas dasar keinginanku karena mengancam papaku, jika aku tidak dipindahkan aku akan ikut mamaku ke kota yang jauh. Ya, benar sekali, aku berasal dari keluarga broken home, dan aku anak tunggal, miris bukan?. Dari pihak mama maupun papaku sama sama mempunyai keluarga baru, tentunya dengan anak mereka. tapi tenang saja mereka masih sangat menyayangiku.
Singkat ceritanya aku dipindahkan karna aku ingin dekat dengan kakak sepupuku. saat kedatanganku, kakakku menyambut dan mengantarkanku ke asrama putri.
tolong baik baiklah dengan adikku, dia memang agak manja tadi dia anak yang baik" kata kakakku penuh dengan ejekan.
huh, apanya yang baik, bahkan semua tetangga kita tau bahwa aku anak yang tidak tau diri. teriakku dalam hati.
Keesokan harinya.
saat menjelang subuh datang, guruku (pembimbing asrama) menanyakanku pada kakak, mengapa aku tidak sholat. yahh, asrama ini mempunyai aturan sendiri. tapi kakakku menyadari bahwa aku sedang ada tamu, jadi dia menjawabnya.
Saat pertemuan sidang sholat subuh, siapapun yang tidak sholat akan kena denda, tapi hanya aku yang lolos.
hohoho, aku sangatlah beruntung. pikirku dalam hati.
setelah sidang di bubarkan oleh guru pembimbing, semua anak diasrama siap siap untuk berangkat sekolah.
Kalian masih berpikir bukan, yang aku maksud pertemuan dengan siapa?, kalian tidak akan menyangkanya.
Sepulang sekolah.
Aku memang berangkat sekolah dengan kakakku, diantar dia. Tapi yang harus kalian tau, bahwa aku dan kakak berbeda sekolah. dia di sekolahan elit di kota sedangkan aku hanya sekolah swasta walaupun aku pindah di kota, karna gak mungkin dari swasta pindah ke negri, jadi aku tetap memilih untuk di sekolah swasta. singkatnya, aku setiap pulang sekolah jalan kaki dengan wajah kusutku. setelah perkenalan dengan anak anak yang nakal di sekolah, aku sangat menyesal dipertemukan dengan mereka. karna walaupun aku anak baru dan cantik, aku sudah punya pacar, mas Surya.
Aku biasa manggil dia begitu. dia adalah seorang pacar yang manis, bahkan di sekolahku dulu dia adalah murid yang paling populer diantara murid maupun guru. juga sebelum dia lulus, dia sering membantuku membuat cepen, mendengar curahan hatiku, pun dia selalu memberikan motivasinya, walaupun dia otak mesum, tapi tenang, dia sama sekali belum pernah memegangku, jangankan memegang, kita hanya berhubungan lewat handphone, bahkan di sekolah, kita tak pernah tegur sapa. hubungan kita, rahasia kita.
Sesampainya di depan asrama putri, aku melihat mbak Tasya membawa hp dan chargernya. aku yang kebingungan lalu menanyainya.
" Mbak kok bawa hp sama charger, mati lampu ya " tanyaku.
tapi sumpah, aku gak mengharapkan jawaban dia yang ini.
" Ya " jelasnya singkat. *****, kamu kira aku patung, bisa dicuekin seenak jidatmu, dasar curut. Tapi aku tak kenal lelah, aku berusaha menanyainya kembali, berusaha untuk akrab dengannya karna aku baru saja satu hari di asrama, gak mungkin kalau harus cari musuh duluan. akhirnya ku sapa lah dia.
__ADS_1
" Mbak mau kemana" tanyaku. disahutinya pula.
" Ke kamarnya pak guru pembimbing" dengan nada ketus khas dirinya.
satu pertanyaan lagi yang aku berusaha lontarkan.
" Bolehkah aku mengikutimu, karna hpmu juga habis batrei" ucapku.
" Ya " jawabnya.
Sesampainya di depan pintu kamar, Tasya mengetok ngetik pintu kamar guru pembimbing tersebut, lebih baik kita sebut pakai namanya saja. pak Alung. Tok tok tok, suara ketukan pintu, sembari Tasya mengetuk pintu, akupun mencari powerbank karna aku gak berniat mencharger hp. so pasti aku gabutlah kalo hp yang aku cas, pikirku dalam hati.
Dibukanya pintu sama pak Alung,
" Lho Tasya, sama siapa? ayok masuk dulu, ujarnya ramah.
sama Cece pak, di asrama habis token jadi kita numpang disini " jelas Tasya.
aku yang sedari tadi mencari powerbank di tas masih belum menemukannya, sampai sampai pak Alung mengintip ku dari balik jendela.
akhirnya aku menemukanmu wahai powerbank jelek, marah ku.
pamit balik ke asram dulu ya pak, sapaku lagi agar suasana tidak canggung, dan aku berjalan pulang ke asrama.
Sesampai di asrama, aku menuju kasur tempat tidurku sambil senyum senyum ria.
kamu Cece ya, adeknya Koko. kenalin, aku Icha, ketua kamar disini. sebelumnya, aku tegaskan kepadamu, kalau pak Alung itu bukan orang baik, tegas mbak Icha kepadaku.
apa apaan sih, mbak Icha rese ah, masa aku mau Deket Deket sama orang tua, gila aja aku. pikirku rese.
Malam harinya, semua anak sudah berkumpul untuk belajar buku dan rumus rumus ilmu. tapi aku sama sekali gak faham. akhirnya, pak Alung yang menyadari bahwa otakku yang agak dangkal ini, dia mengatakan bahwa aku harus belajar buku ini berdua dengannya sehabis subuh, dan aku mengiyakannya tanpa berpikir panjang, karna menurutku itu sudah ketetapan di asrama ini.
Setelah belajar, sesampainya diasrama aku menanyai Tasya apakah hpnya sudah di ambil karna token diasrama sudah diisi, namun dia menjawab kata iya dengan ketus kembali,
ya Tuhan, kenapa engkau menciptakan makhluk seperti ini, tangisku dalam hati.
__ADS_1
akhirnya mau gak mau aku harus menelpon Koko untuk mengambilkan di kamar pak Alung.
gak baik lah, seorang gadis cantik jelita masuk ke kandang beruang, percaya diriku yang muncul begitu saja.
Keesokan harinya menjelang pagi, aku datang ke tempat belajar semua anak anak tadi malam. dan aku melihat pak Alung sudah menungguku. setelah aku duduk bersamanya, dia menjelaskan tentang ini itu dan lain lain. dan entah mengapa perasaanku gak enak saat dia selesai menjelaskan, aku merasa kalau tatapannya berarti "aku menginginkanmu ce".
" Misal, kalau ada yang melamar kamu, apa kamu akan menerimanya " tanyanya.
" Anjeerrt, kan bener dugaan gue. gila apa ya, gue dilamar om om cuuyyy " batinku yang berusaha meronta untuk mengatakan tidak.
" Maaf pak, tapi saya masih kecil, tapi jika orang tua saya yang menyuruh saya untuk menikah, mungkin saya akan laksanakan " jawabku dengan lidah yang lihai. mana mungkin orang tuaku menjual aku, ******.
Diapun hanya tersenyum karna jawabanku yang berusaha untuk menolaknya secara halus, dia membiarkanku lolos pergi dari hadapannya denga senyuman mengejek.
hahhhh, senyuman apa itu, gila kali kau ni. marahku lagi dalam hati.
Didepan tempat tidur, aku dengan masih sangat kesal menelpon papaku untuk memindahkanku ke asrama lain, tapi papaku menolak karna itu akan menghabiskan biaya lagi. hingga aku akhirnya menangis.
papa, aku gak mau kalau nikah sama dia, aku gak mau, aku jijik paa, pindahin aku" bisikku ditelpon. seketika asrama menjadi sunyi karna suara tangisanku yang semakin menjadi, tapi orang tuaku hanya menyuruhku bersabar untuk dua tahun kedepan.
Mbak Icha, yang menjadi ketua kamar sekaligus teman tidurku mencoba untuk menenangkan ku dan mengajakku untuk segera bergegas di acara. Sambil berjalan, aku masih memikirkan pak Alung, karna aku tidak mau disukai oleh orang yang pincang dan tidak bisa menaiki kendaraan.
gimana aku bisa jalan jalan kalau dia gak bisa naik kendaraan, sialku dalam hati sambil menunggu Koko datang menjemputku.
Dari kejauhan Koko mendatangiku dengan senyum khasnya dia.
" Kenapa mukamu kusut, udah jelek jadi tambah jelek kan, dasar monyet " ejek kakakku berusaha untuk membuatku menjadi tersenyum tapi malah membuatku menjitak kepalanya. ctakkkk, suara jitakan yang sangat keras mengundang tawaku.
" Awwww, dasar manusia aneh, sakit tau " omel Koko yang tidak terima karna aku memukul kepalanya.
Sebenarnya Koko baik kepadaku, tapi Koko tidak suka kalau teman temannya mengenalku. Iyalah, karna aku perusuh baginya, pasti kalian pikir dia tidak mau kehilangan adik kesayangan yang sangat cantik, bukan? sungguh kalian salah besar, dia dari kecil tidak suka kalau aku mengganggunya, itu semua karna tingkah konyolku, dia tidak mau kalau aku di tertawakan oleh orang orang disekitarnya.
Sembari menaiki motor berdua, dia selalu memberi petuah petuah kepadaku, ya memang sih dia kakak yang bijak. bahkan dia selalu mengingatkanku makan tepat waktu dan menanyakan uang sakuku apakah masih banyak.
Sesampainya di acara, masih banyak sekali petuah petuah dari donatur yang menyumbangkan uangnya untuk membangun asrama kami. bahkan semua donatur menyapaku sebagai anak baru setelah acara tersebut. Dari kejauhan, aku melihat pak Alung melamun seperti sedang menunggu jemputan, karna memang acara sudah hampir selesai. Aku yang bergegas menaiki motor pun berusaha untuk menyapanya.
__ADS_1
" Assalamualaikum, pak " sapaku santun.
dia membalas sapaan dengan senyuman dan membungkukkan dadanya. kakakku yang melihat pak Alung hanya geleng geleng sembari menyetir motor menjaga keseimbangan agar kita tetap tidak jatuh tentunya.