Mendung

Mendung
Muka Dua


__ADS_3

" Kak, kakak yang tegar ya, jangan mengeluh lagi, pasti ada jalan kok. " dukungku untuk mbak Amel. Aku tau dukungan dari aku ini tak akan merubah hidupnya menjadi lebih baik, tapi setidakny itu bisa membuat hatinya lega.


" Ce ini nomorku, nanti chatt aku duluan ya, aku mau cerita banyak sama kamu. " paksa mbak Amel dengan menyodorkan kertas bertulisan nomor telepon dirinya. Aku mengangguk sembari tersenyum menghadapnya, setidaknya hidupku tak terlalu sulit sepertinya, tidak dianggap oleh orang tua memang sangat menyakitkan, aku sebenarnya terkadang juga berpikir seperti itu, namun semua pikiranku aku buang dari otak karna aku tak mau hubunganku dan orang tuaku renggang.


Kita memiliki nasib yang sama mbak Amel, tapi kamu lebih ceroboh dariku menceritakan problem kehidupan dengan orang yang baru saja kamu kenal, iya jika mengatakan kepadaku aku tak akan membocorkannya, bagaimana jika dia menceritakan dengan wartawan, pasti akan jadi gosip di lembar utama koran pagi. Berjudul, Apa Aku bagimu. Hahaha, memang otakku ini berpikir banyak sekali imajinasi imajinasi yang muncul, seperti ini kalau orang yang hobinya cuma ngehalu. Dari kejauhan aku melihat siput berjalan dengan rekan OSIS lainnya, aku menghampirinya dan mengikutinya dari belakang, dia lagi asyik sedang bercanda dengan teman teman OSISnya apa lagi mbak Venny, mereka berdua terlihat lebih dekat dari pada teman pada biasanya.


Aku memasuki kelas dan langsung duduk di depan tempat Millah duduk, aku dan teman teman mendengarkan hasil dari diskusi para anggota OSIS. Mereka menjelaskan ini itu dan bla bla bla, aku tak terlalu mendengarkannya karna readers pasti tau kalau kalau penjelasan hanya akan di ambil kesimpulannya saja, yang lain hanya bumbu bumbu sedap untuk pembicaraan tidak terlalu bosan. Bruukkk, suara seseorang duduk tepat di sampingku, aku menoleh dan iya benar, dia adalah siput kriting tak tau diri. Bisa bisanya dia dduk di tempat anak putri duduk dan malah asyik asyikan memandangi aku, membuat aku tak enak saja di pandangi oleh kakak kelas dan teman teman seangkatanku.

__ADS_1


" Tolong ya, putra dan putri duduk tidak boleh berdampingan, di sini adalah sekolah dan bukan tempat wisata untuk kalian bisa berpacaran ataupun berduaan, jadi dimohon pengertiannya untuk duduk sendiri sendiri jika lain mahrom. " kata mbak Venny yang sedang memperingati Dinan karna cemburu. Aku tau, mereka semua tak suka dengan jadianku dengan Dinan terutama kelas dua belas. Aku menjauh dari Dinan dan duduk di depan pintu tanpa memakai kursi, Venny kembali menjelaskan tanpa menghiraukan aku ataupun menegurku. Venny tak seperti biasanya, biasanya dia dan Dinan selalu berdua walau acara apapun di sekolahan, tapi dengan tegas tadi dia menyindirku?, sebaiknya dia yang lebih harus memperhatikan tingkah lakunya itu.


Di tengah tengah menunggu kedatangannya pak kepala sekolah, tiba tiba Dinan mengajakku untuk bolos sekolah, ternyata Dinan merasakan tak suka dengan perlakuan Venny pada rapat barusan.


" Ce ayo pulang, jangan banyak tanya jika kamu gak mau jalan kaki pulang ke sekolah. " kata Dinan sambil menarikku berlari menuju motor bututnya. Aku menaiki motor Dinan dengan terburu buru, takut jika anak anak di sekolah tau dan takut jika pak kepala sekolah mengetahui acara membolos hari ini. Dinan main kebut kebutan dijalan, sampai membuatku memegangi bajunya dengan sangat kencang.


" Dinan, berhenti di warung lalapan kiri jalan samping pertigaan belok ke asrama itu ya, aku mau beli nasi untuk aku dan kakaku. " kataku dengan ketakutan sangking kencangnya Dinan menaiki sepeda. Dinan membelokkan motornya ke warung dan menungguku di depannya.

__ADS_1


" Terima kasih ya Dinan sudah mengantarkan aku sampai di sini, ini untuk kamu, kamu makan sama ibu atau kamu bisa makan sendiri. " kataku sambil menyodorkan sebungkus nasi untuknya. Aku berjalan melewati Dinan yang masih melihatku berjalan dari kejauhan, itu kebiasaan Dinan saat mengantarku pulang sekolah, aku tak bisa menegurnya karna hal sepele walaupun itu membuatku risih dibuatnya. Aku berjalan menuju ke kamar pak Alung tanpa mampir ke asrama untuk istirahat sebentar, bagiku pak Alung lebih penting dari pada lelahku, aku tak mau berlarut larut dalam perasaan sedih dan akan memulai berbaikan kembali hubunganku dengannya.


" Assalamualaikum, pak Alung, ini Cece. " kataku sambil membuka pintu dengan pelan karna sepertinya pak Alung tidur. Tapi ternyata tidak, pak Alung kaget atas kedatanganku dan tiba tiba menyembunyikan hpnya ke bawah bantal.


" Ada apa Abi? hayooo, Abi nyembunyiin sesuatu ya dari saya. " kataku dengan nada bercanda dan meletakkan nasi di atas meja buku pak Alung. Setelah datang di rumah pak Alung untuk yang pertama kali, aku dan pak Alung mengganti panggilan masing masing dengan sebutan Abi Umi, alaykan? memang alay tapi aku sangat bahagia dengan sebutan itu. Pak Alung memelukku dari belakang saat aku membukakan bungkusan nasi untuknya, aku membiarkan pelukan itu karna bagiku itu adalah kehangatan.


Kita makan berdua seperti biasanya, menutup pintu dan hanya kita berdua yang ada di ruangan itu, tapi tiba tiba pengganggu datang pak satpam membuka pintu dan mwngambil nasi yang ada di rice cooker. Dia menanak nasi di kamar pak Alung, karna tak ada tempat untuk menanak nasi di pos penjagaan, mengawasi aku dan pak Alung yang makan berdua. Aku berniat untuk memanas manasi pak satpam karna tak kunjung pergi dari kamar pak Alung.

__ADS_1


" Abi, ini umi suapin. " kataku sambil menyodorkan sesuap nasi di tanganku, pak Alung langsung memakan nasi yang ada di tanganku tanpa melihat pak satpam, memang kami berdua mempunyai insting yang sama, dunia hanya milik kita berdua.


Mungkin pak satpam sadar akan sikapkami berdua, dia pergi dengan muka masam sambil membawa nasi di piringnya. Sebenarnya aku tak enak hati karna perlakuanku, tapi pak satpam terlihat sekali jika dia menyukaiku, setiap pulang sekolah selalu saja menyapaku dan terkadang menanyakan tentang aku kepada anak anak asrama putri saat aku menjemput anak anak. Kita berdua selesai makan dan berbincang bincang diatas kasur, aku membuka setiap isin lemari pak Alung dan merapikan baju baju yang berserakan, pak Alung sangat suka jika aku menata bajunya. Karna aku dengan suka rela membantu dan aku melipat baju dengan sangat rapi.


__ADS_2