
Aku membantu istri pak Mas'ud mengasuh kedua anaknya yang masih kecil, kita terus berbincang bincang tentang rencana pernikahanku dengan pak Alung, dan istri pak Alung mengatakan padaku pasti aku akan di setujui oleh pihak keluarga pak Alung karna aku adalah anak yang baik. Kalau menurut pandanganku mereka akan menerimaku bukan karna kebaikanku akan tetapi karna yang siap untuk menikah dengan pak Alung saat ini hanyalah aku dan pak Alung sangat beruntung karna aku masih remaja jadi dia tidak akan mempermasalahkan janda atau bagaimananya, ibarat kata anak seumuran ku adalah buah mangga yang lagi manis manisnya, tentu saja pak Alung tak akan menolak untuk menikah denganku, bukankah benar logikaku?.
Kami bertiga bercanda tentang hubunganku dengan pak Alung untuk waktu yang akan datang, di dalam pembicaraanku dengan istri pak Mas'ud sama sekali tak membahas tentang mbak Ativ, mungkin awalnya aku mengira pak Mas'ud dan istrinya hanya mengenal mbak Ativ dengan namanya saja, namun dugaanku salah, kalian pasti tau pada akhirnya jika kalian terus membaca novel ini. Aku tak mpunyai kecurigaan atau rasa ingin tau tentang hubungan keluarga pak Alung dengan mbak Ativ, yang aku tau saat ini pak Alung akan segera melamarku dan kita akan segera menikah, cukup begitu saja.
Author pov.
" Kamu harus bisa menyembunyikannya dari Cece, atau tidak kamu tak akan pernah menikahinya sama sekali. " tegur pak Mas'ud kepada pak Alung sebagai keponakannya. " Iya pakde, saya juga sedang menyembunyikannya, hingga saya benar benar menikah dengan Cece" kata pak Alung singkat membuyarkan pembicaraan yang rahasia itu dan melanjutkan perjalanan dengan tumakninah.
Cklek, suara pintu mobil yang terbuka, dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang menanti seseorang dibalik pintu mobil tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan pak Alung, mbak Ativ sedang menunggu pak Alung untuk melepaskan rindunya seminggu sekali tanpa memberi tahu Cece. " Abi, umi rindu. " dengan suaranya yang mendesis dan tak lupa menitikkan air mata. " Umi. " kata pak Alung sembari meraih tangan kekasihnya untuk bersalaman bak suami istri. Ingat, pak Alung sama sekali belum menikah, Ativ adalah kekasih simpanannya. Mereka bertiga berjalan menuju sofa yang ada dalam asrama kecil tersebut.
__ADS_1
***
Tak terasa pembicaraan kita bertiga sudah Berjam jam lamanya. Anak anak asrama sudah datang satu persatu bermunculan dari balik pintu gerbang. Kedatangan mereka yang membuat percakapan kita bertiga berhenti begitu saja. Mbak Rosa yang ditugaskan untuk melihat siapakah yang datang langsung berjalan menuju ke arahku dan istrinya pak Mas'ud. " Anak anak asrama putra dan putri baru saja selesai di pertemuan Minggu pagi. " kata Rosa sembari terus melihati depan pintu, aku sadar bahwa Rosa ketakutan dengan datangnya anak anak, takut jika dia akan di adukan oleh anak anak asrama ke Abi pengasuh. Aku terus memegangi tangan mbak Rosa agar dirinya sedikit tenang, sebenarnya aku tak suka mempunyai teman penakut, tapi manusia tak ada yang sempurna kan?.
Selang beberapa menit setelah kedatangan anak anak, pak Alung dan pak Mas'ud datang dari mengajar. Aku dan istri pak Mas'ud yang menyadari kedatangannya kedua orang yang ditunggu tunggu langsung berjalan menuju pintu dengan bersamaan, aku tau bagaimana rasa khawatirnya seorang istri kepada suaminya, sepertinya aku juga sedang mengalami hal ini walau aku belum menikah dengan pak Alung. Pak Alung membawakan ku nasi pecel langganan ku dengan pak Alung untuk sarapan pagi, karna lalapan, ayam geprek maupun Sabana belum buka toko pada jam enam pagi.
Pak Alung menyodorkan dua bungkus nasi dan langsung menyalamiku. Pak Mas'ud dan istrinya langsung pamit pergi menuju ke asrama putrinya yang dekat dengan kantor bupati. Aku membuyarkan lamunan pak Alung melihat pamannya pergi ke asrama kedua putrinya, sepertinya pak Alung sangat ingin ikut ke asrama keponakannya, buktinya pak Alung sampai melamun dalam waktu lama mendengar perkataan istri pak Mas'ud jika ingin pergi kesana. Bagiku wajar jika memang rindu dengan keponakannya karna aku pun juga sering merindukan sepupuku yang bukan saudara kandung olehku. Pak Alung yang terdiam cukup lama karna perkataan tadi langsung ku ajak bicara agar tak bersedih lagi.
Aku terus berpikir keras mengapa pak Alung bisa sesedih itu tapi jelas aku bukan penawarnya, pikirku sedikit sedih oleh sikap pak Alung. Hpku bergetar, kali ini hpku tak berbunyi dengan keras karna pasti pak Alung akan mengecek siapa yang telah mengirim pesan untukku.
__ADS_1
💌
Millah : Ce ayo jalan, ini Dinan dan Fanny sudah menunggu di sebelah gang, habis ini aku akan menjemputmu, kamu harus ikut dengan ku.
Aku yang menyadari pesan dari Millah tersebut langsung menghapus pesan dan berkata pada pak Alung bahwa aku akan pergi bersama Millah karna ada acara di sekolah, aku tak boleh meninggalkannya karna jika aku meninggalkannya nilai raport semester kali ini akan sangat buruk.
Pak Alung mau tak mau harus mengijinkan aku, pasti perasaannya tak karuan karna galau dan saat ini akan aku tinggal pergi walau sebentar. Aku tak mau melihat orang dengan wajah kusut seperti itu, membuatku ingin berwajah kusut karna ikut ikutan bersedih. Aku mengajak mbak Rosa balik ke asrama dan mengambil uang untuk jaga jaga pergi jalan, aku tau pasti Dinan tak akan membawa uang. Tak lama kemudian Millah datang, ternyata gesit juga Millah dalam bertindak, atau dia emang lagi rindu denganku, pikirku dalam hati. Aku berjalan meninggalkan mbak Rosa yang masih ketakutan, padahal aku sudah menenangkannya.
Aku menaiki sepeda motor yang dibawa oleh Millah, kami berdua melewati pos ronda abang penjanga gerbang. Hahaha, sebutan itu tak begitu bagus untuknya, bahkan jika dia diberi gelar pangeran siput seperti Dinan. Di tengah tengah jalan Millah berhenti, aku bertanya tanya mengapa Millah berhenti mendadak. Ternyata dari belakang muncul dua manusia tak berguna, yah siapa lagi kalau bukan Dinan dan Fanny. Dinan dan Millah berganti posisi, Dinan memboncengku. Hey curut, kamu tau hah? aku kemarin malam hampir saja kena masalah gara gara kamu, dasar monyet gak tau diri, pikirku kesal dengan Dinan. Aku tak menyukai tentang apa yang dia lakukan, bahkan jika dia memujiku sekalipun.
__ADS_1
Dinan mulai mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, dia tau jika membawaku harus yang sedang sedang saja, jika lambat ataupun cepat sedikit saja akan mendapatkan cubitan keras di pinggul.
" Ce kamu bawa uang apa nggak?. " tanya Dinan. " gak. " jawabku singkat, aku sudah paham dengan apa yang menjalur di percakapan kami berdua. " Aku gak bawa uang sama sekali Ce. " kata Dinan memastikan. Untung saja aku tadi menyiapkan uang untuk pergi, jika tidak pasti semuanya akan kebingungan karna tak ada yang membawa uang sepeser pun kecuali aku saat ini. " Aku bawa uang, usah diem jangan banyak ngoceh. " ujarku.