Mendung

Mendung
Kecurigaan Mulai Muncul


__ADS_3

Sesampainya di pantai, mereka memang benar benar tidak ada yang membawa uang. Sial, apakah mereka berusaha menjebakku, makiku dalam hati. Pasti ini ide dari Fanny dan Dinan, tak mungkin Millah akan ikut ikut. Kita berempat bersenang senang di pantai sampai sore. Millah yang bertugas mengembalikan ku ke asrama akhirnya turun sari sepeda motor yang di kendarai oleh Fanny dan berganti mengendarai sepeda Dinan yang ada padaku. Sesampainya aku di asrama aku langsung menghampiri pak Alung. Dia membuka pintu kamar mandi yang berartikan dia sudah mandi disore hari. Aku berlari dari balik pintu ujung utara agar pak Alung tak menyadari kedatanganku, pak Alung melewati pintu kamarnya dengan memakai handuk saja.


Dia berganti pakaian tepat di depanku, aku menutupi mataku yang masih suci ini, sebenarnya pak Alung mengganti pakaian dan masih menutupinya dengan sarung, tak terlihat apa apa olehku, tapi yang membuat aku menjadi malu karna pak Alung tak menyadari kedatanganku saat ini. Saat pak Alung membalik badan, sama persis apa yang telah aku bayangkan jika pak Alung melihatku di pojokan kamarnya. Pak Alung kaget dan terjatuh di kasur, untung dia hanya terjatuh di kasur, bagaimana jika dia terjatuh di lantai, aku tak mau jika harus menggotongnya naik ke kasur karena encok.


" Sejak kapan disitu mi? buat Abi kaget aja kamu mi. " katanya sambil tertawa. Kesedihan di hati pak Alung sudah terhapus saat ini, entah apa yang telah membuat pak Alung segembira ini lagi. Aku yang sudah ketahuan olehnya langsung berdiri dan pindah dari tempat persembunyianku ke atas kasur. Pak Alung memeriksa hpku setiap aku habis keluar dari asrama, pak Alung adalah orang yang cukup cemburu. Ralat, pak Alung adalah orang yang angat cemburuan. Aku membiarkannya memeriksa hpku, aku mengajak pak Alung makan karna saat menuju arah pulang aku sempat membeli ayam di Sabana. Aku mengambilkan nampan yang sudah berisikan nasi dan meletakkan ayam di atas nasi.


Mbak Amel tiba tiba mengirimi aku pesan karna aku mengunggah foto pak Alung tadi siang agar pak Alung tak merasa pesimis lagi.


💌


Amel : itu guru kamu yang kamu maksut itu ya Ce.

__ADS_1


Aku : guru yang mana mbak?


Amel : guru yang katanya kamu suka sama dia.


Aku : oh iya mbak pak Alung, ini dia lagi sama saya, mbak mau saya kasih nomornya apa?


Amel : boleh kok.


Pak Alung kaget karna nomor ponselnya ku berikan kepada perempuan lain, dia marah karna aku tak merasa cemburu sama sekali, itu hanya perasaan kamu pak, pikirku.


Aku akan cemburu jika pak Alung berbalas balasan pesan ataupun video call dengannya, aku tak memiliki alasan untuk cemburu jika pak Alung dapat menahan diri dan mengetahui hatinya untuk siapa. Aku meraih ponsel pak Alung yang ada di atas kasur dan mulai mengirim pesan kepada mbak Amel. Mbak Amel menanggapi pesan itu dengan sangat manis sekali, membuatku terheran karna ini hanyalah permulaan, bagaimana jika mereka akan saling akrab satu sama lain, itu akan menyusahkanku. Mbak Amel terus memancing mancing pak Alung agar penasaran terhadapnya. Oh begini ya caranya cewek murahan biar bisa ngerusak hubungan orang, pantas saja istri pacarnya marah, pikirku dalam hati.

__ADS_1


Aku meninggalkan pak Alung sendirian, aku bergegas ke kamar asramaku untuk mandi dan tidur, kali ini aku tak mau mengaji maupun berada di masjid, aku hanya ingin sebentar ada di asrama. Kalau dipikir pikir aku mulai menjadi orang yang berbeda, aku tak seperti aku yang dulu, aku yang dulu sangat mempunyai banyak teman, sedangkan aku sekarang sama sekali tak mempunyai teman yang selalu ada buatku. Aku sedikit rindu dengan suasana saat aku bersama mas Surya, saling menelpon dan mengirim pesan. Aku sangat jarang sekali berkirim pesan dengannya mulai menengal pak Alung, pak Alung merubah segalanya dalam hidupku. Mana diriku yang ceria seperti dulu, pikirku.


Aku terdiam diasrama saat Dina, Nisa dan Eza pergi ke masjid untuk melakukan pembelajaran seperti biasanya, aku tak mau melihat pak Alung dulu untuk saat ini. Aku merasa banyak sekali yang disembunyikan oleh pak Alung di belakangku, aku sama sekali belum mengenal jati diri pak Alung, yang aku tau dia manis dan hanya seperti itu saja. Aku mulai curiga mengapa matanya berkaca kaca pagi hari tadi, pasti bukan karna keponakannya, tapi siapa yang tinggal bersama keponakannya disana. Pikiran itu masih terngiang ngiang di kepalaku. " Mbak Cece itu lho di panggil sama pak Alung, kenapa kok gak ikut belajar katanya. " kata Dina yang baru saja datang dari masjid.


Ternyata pak Alung meminta Dina datang menghampiriku dan menyampaikan pesan mengapa aku tak naik ke masjid saat ini. Aku hanya menjawab badanku kurang enak dan melanjutkan tidurku. Aku tau akan sulit bagi pak Alung jika aku seperti ini terus, tapi pak Alung sendiri yang membuatku tak ingin menghadiri acara belajar mengajar malam ini, bukan seratus persen salahku. Aku hanya menggeleng gelengkan kepala dan meraih bedak, aku tak mau lari dari kenyataan dan aku harus menghadapi kenyataan, batinku. Walaupun pak Alung berusaha untuk menduakanku ataupun itu sudah terjadi padanya, aku akan tetap stay disini dan terus menghadapi takdir ini dengan keyakinan dan tekadku.


Aku berjalan melewati kantin dan rumah joglo di samping asrama, rumah itu di peruntukkan hanya untuk pengasuh saat menginap di asrama, terkadang dulu saat pagi setelah belajar subuh, semua anak anak asrama berkumpul di depan rumah joglo untuk belajar memainkan gitar oleh Abi pengasuh. Abi pengasuh sangat care dengan anak anak asrama baik putra maupun putri, tapi tentunya yang paling favorite adalah Koko, kakakku yang bandel itu. bahkan saat aku pertama kali pindah di asrama ini, Koko membuat kesan pertama yang jelek untukku. Dia membuat aku dan satu asrama terkena hukuman karena dia mendaki tanpa izin dari Abi pengasuh. Koko tau jika Koko izin ke Abi pengasuh pasti Abi akan langsung tidak memperbolehkannya, maka dari itu dia mengorbankan semua temannya demi bisa mendaki di gunung.


Kembali ke topik utama, sesampainya aku di masjid, aku tak menemuinya dan langsung menuju ke kelas pak Jauhari mengajar, aku tak ingin merepotkannya, bukankah dia merasa di repotka jika aku terus bersamanya, pikirku. Aku terus berpikir keras, tanpa kusadari pak Jauhari membangunkanku dari lamunan.


" Kamu kenapa Ce? ada masalah kok sampai merenung seperti itu ya? cerita sama saya nanti jika kamu mau. " kata pak Jauhari sambil meneruskan pembelajaran.

__ADS_1


__ADS_2