
Di depan mall.
__ADS_1
Aku dan Eza melangkah meninggalkan bisa yang sedang memarkirkan sepeda motor, aku meminjam sepeda punya Koko, dia mengatakan lebih baik meminjami aku sepeda motornya dan aku berjalan jalan ria dengan temanku dari pada aku harus berduaan dengan pak Alung di dalam kamar, padahal sebenarnya aku dan dia tak pernah melakukan apapun hanya saja Koko tak suka jika aku di bicarakan oleh teman temannya di asrama.
__ADS_1
" Hey kau Cece kurang ajar, seenaknya mengajak cintaku pergi meninggalkan aku seorang diri. " teriak Nisa di parkiran membuat semua orang yang berada di sana sontak kaget dan menengok ke arahnya, aku dan Eza kabur karna teriakan sumbang Nisa, bahkan sekarang Nisa tak segan segan berlari mengejar kita berdua, ahaha seru sekali. Aku, Eza dan bisa berhenti di depan mbak mbak manis yang berjalan teh poci, aku membuka dompet dan menyodorkan uang satu lembar seratus ribu yang berada di genggamanku. " Teh Poci tiga ya. " ucapku dengan mengambil kembalian yang ada di tangan pegawainya.
__ADS_1
Kita bertiga kembali pulang karna hari sudah mulai sore, tentunya pak Alung akan sangat kebingungan saat ini. Nisa mengendarai motor membonceng aku dan Eza, kalian tau? kita kebut kebutan di jalan bahkan di tikungan tajam, kita tak terlalu takut jika hanya polisi, tapi pak Alung. Pak Alung sungguh sangat menakutkan jika dia marah, aku pernah sekali melihat dia marah bahkan aku tak tau apa sebabnya dia marah besar kepadaku. Kita berhenti di tempat babang jualan es Boba, kamu tau, aku dan kedua anak itu berniat menyogok pak Alung agar dia tak marah. " Mbak Ce, kamu beliin pak Alung es kek biar gak menggila tuh orang. " kata Nisa dengan fokus menghadap ke jalan, " iya mbak Cece, pak Alung beliin es aja buat nyogok, siapa tau gak marah lagi. " sahut Eza. "Oke berhenti di pertigaan gang asrama ya. " kataku dengan menepuk pundak Nisa.
__ADS_1
Ckiieet, suara rem sepeda motor. " Pak, saya pesen esnya terserah rasa apa yang penting enak dua. " pintaku dengan terburu buru, dan kalian tau gengs, babang bobanya menjawabku dengan kedipan mautnya. Oh tidak, bisa bisanya aku digoda oleh orang seperti ini, batinku. Selesai membayar pesanan aku dan kedua temanku langsung bergegas menuju asrama agar pak Alung tak menunggu begitu lama, oh tidak jika pak Alung marah habis aku, pikirku sejenak. Aku terus memikirkan cara untuk lari dari keadaan ini, bukannya fresh yang aku dapat malah pak Alung tambah membuatku geger dengan Nisa dan Eza, dasar Alung gak tau diri.
__ADS_1