Mendung

Mendung
Pengadu


__ADS_3

" Pak Alung. " kataku sambil menjauh dari tempat tidur pak Alung, pak Alung terbangun dari kasur dan duduk dengan tersenyum, seperti pertama kali menemukan sebongkah berlian.


" Kenapa mi?. malu ya gara gaya ketahuan?. " tanya pak Alung dengan nada menggoda membuat seringaian di wajahnya, aku hanya terduduk dilantai dan menutupi wajahku dengan rasa malu. Pak Alung mendekatiku dan memelukku.


" Sudah mi, jangan malu, Abi gak marah ya. " katanya pak Alung dengan mengajakku untuk duduk di atas kasur agar tidak masuk angin. Aku masih saja terdiam tanpa bersuara walaupun berada di atas kasur sekalipun, pak Alung membelai rambutku dan mencium keningku.


Pak Alung, kenapa pak Alung membuatku begini, pak Alung jangan terlalu baik pada Cece, nanti jika Cece dan pak Alung tak bisa bersama akan sangat menyakitkan bagi Cece, rintihanku dalam hati. Aku tak mau jika hati yang sudah biasa di manja olehmu akan berjauhan denganmu, sejauh mungkin hingga keberadaan dirimu tak bisa di jangkau olehku. Pak Alung menyandarkan kepalanya padaku, dia seperti sangat mencintaiku. Aku izin pergi ke asrama karna hari sudah mulai sore, bahkan Aul pun sudah berada di rumah Abi pengasuh untuk menerima hukuman dari Abi. Aku melangkahkan kaki memasuki kamar asrama putri, Rosa sangat senang dengan kedatangan ku, mungkin dia sudah menungguku yang terlalu lama di kamar pak Alung.


" Mbak Cece, saya nungguin kamu dari tadi di sini mbak, mbak Cece kok baru balik sih. " kata Rosa membuatku tak enak karna jadikan dirinya menunggu lama kedatanganku.


" Maaf mbak, saya habis dari kamar pak Alung. " kataku. Mendengar jawabanku Rosa malah menggeleng gelengkan kepalanya sambil menyuruhku duduk disampingnya, kita berdua bercengkrama berdua, disusul dengan Eza dan Nissa yang tiba tiba ikut nimbrung naik ke atas kasurku. Hari sudah semakin malam, tapi aku belum juga membeli nasi untuk diriku sendiri, aku hanya membelikan nasi untuk pak Alung karna tiba tiba aku tak mood untuk makan malam.


Aul dan mbak Icha datang, namun membawa kabar buruk, katanya aku di panggil pengasuh ke rumahnya. Kan benar dugaanku bahwa aku akan di panggil, ini pasti gara gara Aul.


" Ce kamu disuruh Abi ke rumahnya. " kata mbak Icha yang sedang memasuki kamar asrama.

__ADS_1


" Kenapa ya mbak?. " tanyaku kepada mbak Icha. " ya gak tau, emang kamu abis ngapain?. " kata mbak Icha berbalik menanyakan kepadaku. " Pinjem sana sepedanya pak Alung, kan biasanya kamu sering ke kamarnya pak Alung. " tambaha Icha. Aku berjalan lesu menuju kamar pak Alung, aku taku apa yang akan aku dapatkan jika aku ke sana.


Sesampainya di depan masjid ternyata pak Alung sedang menelpon dengan orang, entah itu siapa aku tak memikirkannya sekarang, yang aku pikirkan bagaimana nasibku sehabis ini. Pak Alung yang menyadari kedatanganku langsung menutup telepon nya dan memandangiku dari kejauhan.


" Kenapa mi? " tanya pak Alung sembari menyembunyikan hpnya. Aku dengan mimik muka sedih membuat pak Alung semakin khawatir dengan tangisanku.


" Saya sekarang di panggil oleh Abi pengasuh. " jawabku singkat sembari melanjutkan tangis kecilku. Pak Alung mengusap air mataku dan menyemangati ku.


" Tak akan jadi masalah mi, umi berangkat saja, tapi jangan menampakkan wajah yang khawatir, karna itu akan membuat kecurigaan dengan pengasuh.


Sesampainya aku di rumah Abi pengasuh. Aku melihat beberapa anak yang masih saja di hukum. Pembantu di rumah Abi pengasuh mempersilahkan aku memasuki ruang makan.


" Cece duduk disini. " kata Abi yang sudah menungguku lama. " Kamu pernah pacaran?. " tanya Abi. aku hanya mengangguk anggukkan kepalaku lagi dengan ekspresi wajah tak terjadi apa apa seperti biasanya.


" Kamu pacaran ngapain aja Ce?. " tanya Abi pengasuh. " Ya hanya pacaran biasa bi, saya kan dari dulu di asrama mulai kelas satu SMP jadi saya tak mungkin untuk bertemu dengan pacar saya, kecuali dengan surat. " kataku Masih dengan ekspresi biasa saja.

__ADS_1


" Pernah boncengan?. " tanya Abi pengasuh lagi. Benar kan, aku yakin bahwa Aul telah mengadukan aku kepada Abi pengasuh.


" Iya bi. " jawabku singkat. " Pernah ciuman?. " tanya Abi lagi dan lagi. " Balik di percakapan awal, bahwa saya dari SMP kelas satu sudah di asrama jadi tak mungkin untuk melakukan aneh aneh kecuali saat mengantar saya pulang pergi sekolah, itupun cuma di bonceng. "jelasku. Abi pengasuh terus melihati wajahku, mencari celah dimana kebohongan yang telah aku sembunyikan.


" Ya sudah Cece, kamu bisa pulang sekarang. " kata Abi pengasuh yang membuatku menjadi lega setelah mendengarnya. " Hati hati Ce, sudah malam. " imbuh Abi pengasuh karna mengkhawatirkan keselamatan aku.


Aku hanya mengangguk angguk kepalaku dan mulai mengendarai sepeda agar cepat pulang. Aku tak mau jika berlama lama terkena angin malam, itu bisa membuatku masuk angin. Penyakit yang paling aku takutkan adalah demam karna masuk angin, bahkan aku pernah masuk rumah sakit karna penyakit kurang darah merah pun aku tak menangis ataupun bersedih, tapi jika aku masuk angin bisa bisa satu rumah tak bisa tidur dengan nyenyak karna tangisanku. Aku terus ngebut sambil mual mual di jalan, aku tak bisa terkena angin yang kencang jika naik sepeda motor. Aku memasuki pagar asrama dan langsung masuk ke kamar pak Alung.


" Gimana mi tadi?. " tanya pak Alung menunggu jawaban dariku.


" Sukses tanpa kecurigaan sedikitpun. " jawabku meyakinkan pak Alung agak tak lagi khawatir tentangku.


" Kamu gak makan Ce?. " tanya pak Alung lagi.


" Nggak dah bi, saya mau langsung tidur saja." jawabku sambil memberikan kiss selamat malam untuk pak Alung, dia memintaku untuk memberikan kiss saat berangkat sekolah, pulang dari sekolah, saat bersama dengannya dan saat menjelang malam. Pak Alung sangat manja denganku, itu yang membuat aku menjadi semakin mencintainya walau dia tak sempurna seperti orang orang pada umumnya. Pak Alung mengelus kepalaku dan membiarkan aku berjalan menuju ke asrama untuk bergegas tidur.

__ADS_1


__ADS_2