
Setelah aku memesan tiga porsi ayam aku kembali ke asrama dengan tenang. Mungkin saja pak Alung mau aku ajak makan berdua, dari pada aku kena semprot pak Alung lagi, lebih baik aku coba luluhkan hatinya pake tiga bungkus nasi.
Sesampainya aku didepan pintu kamar pak Alung, ku ketok ketoklah pintunya, siapa tau orangnya belum mandi. Tok tok tok, tak ada bunyi yang menyahut. Aku bingung, dimana pak Alung kok bisa bisanya dia tidak membukakan pintu untuk ratu yang cantik ini.
" Pak Alung, Bapak ada dimana?, saya Cece pak, bawa makanan buat bapak, mari makan " ajakku ke pak Alung. Dari arah yang berlawanan muncul suara yang aku cari cari. Aku spontan langsung menengok ke arah tersebut. Ya, seperti dugaanku bahwa pak Alung baru selesai mandi.
" Ada apa Ce, kok tumben ke kamar saya?. " tanya pak Alung sambil tersenyum dan berjalan menghampiri aku. Aku yang mulai grogi saat melihat pak Alung pun berusaha untuk tetap terlihat baik baik saja.
__ADS_1
" Ini pak, Cece bawa makanan, kalo bapak ndak keberatan Cece ajak makan. " kataku menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Pak Alung yang menyadari aku membawa santapan yang banyak, mulai berjalan melewatiku untuk mengambil nampan. Kita makan berdua, satu piring berdua. Tapi hanya saja pak Alung tak menikmati makanan ini jika bukan dengan Ativ, itu menurutku saja.
Seusai menyantap hidangan tersebut, aku yang berdiri alih alih untuk pergi ke asramapun distop oleh pak Alung. Aku sudah menduga ini, pak Alung selalu memberhentikanku saat kita bertemu, kecuali pada saat acara pagi kemarin.
Pak Alung menanyaiku tentang ini itu, permasalahan keluarga dan bagaimana aku disekolah. Tapi tentunya tidak ku jawab semua dengan perinci, pak Alung hanya sebatas guruku!. Ingat, guruku!. Jadi menurutku dia tidak pantas mengetahui privasiku, kecuali aku dengan suka rela menceritakan semua kisah hidupku. Seperti halnya aku dengan mas Surya, dia mengetahui apa yang bahkan orang tuaku, teman dekatku ketahui tentang diriku.
Aku mencari celah untuk bisa pergi dari hadapan pak Alung, karna berduaan dengan orang yang bukan mahram tidak baik. Akupun akhirnya beralasan untuk mengembalikan sepeda kakakku yang masih aku bawa. Aku sangat bersyukur sekali ada kamu wahai bebekku, akhirnya aku bisa lolos dari pertanyaan pertanyaan aneh pak Alung.
__ADS_1
Tamara, ketua geng di kelasku. Seorang gadis yang bertubuh kekar seperti laki laki, wajar saja seisi kelas takut dengannya. Dia membuatku tak mempunyai teman karna powernya dan yang anehnya guru guru disekolah sangat mengunggulkan dia. Okey, mau tak mau aku yang harus mendekati mereka.
Saat aku mulai menyapa teman perempuanku, Putri. Dia tiba tiba menjauhiku, membuatku menjadi heran, apakah semenakutkan itu dia?. Tapi aku terus mengajaknya ngobrol, seketika Tamara mendobrak pintu saat dia melihatku bercengkrama dengan Putri. Putri yang menyadari hal itu beranjak pergi, tapi aku menarik lengannya. Itu yang aku harapkan, kemarahan Tamara.
" Kenapa? kamu takut Tamara marah sama kamu?, heyy!, kamu sepecundang itu ya, sampe takut sama makhluq tapi lupa sama Khaliq. " sindirku upaya tuk menyadarkan Putri. " Ada aku disini, jika dia main tangan denganmu, aku yang akan maju, kenapa harus takut. " tambahku, lagi.
Entah ada angin dari mana sehingga Putri dan teman teman lainnya mengikuti apa kataku. Tamara yang melihatnya, langsung marah sejadi jadinya. Semua anak anak diam dibuatnya, tak berani berkutik sedikitpun. Aku yang melihatnya mulai berusaha untuk melawan lagi.
__ADS_1
" Tamara, kamu sendiri takut gak punya teman, tapi temanmu akrab dengan murid baru kamu marah seenaknya kamu, kamu siapa disini?, aku gak takut kamu gertak aku, bahkan kamu belum pernah berurusan dengan aku kan?. " kataku menohok. Sesaat Tamara terlihat kaget dengan perkataan ku, sekarang balik dia yang terdiam seribu bahasa.
" Mari berteman denganku, jika tak mau abaikan. " tawarku sembari menyodorkan tangan. Aku tau dia sebenarnya ingin berteman denganku, hanya saja dia bingung untuk mengawali.