Mendung

Mendung
Dirumah Mertua.


__ADS_3

Keesokan harinya


Aku mengatakan kepada kakakku lebih awal jika aku sakit, agar aku tak mengikutinya berjalan menuju ke sekolah. Kakak tak mempercayaiku, tapi teman temanku memastikan bahwa aku sakit dan kakakku pun akhirnya menyerah untuk membujukku berangkat. Dia sangat kesal padaku karna aku tak menurutinya untuk berangkat sekolah, aneh saja aku kan mau kencan dengan pak Alung.


Setelah semua anak berangkat ke sekolah, hanya aku, pak Alung dan pak satpam saja yang ada di asrama. Tanpa sepengetahuan pak satpam, aku mendatangi pak Alung dan sarapan bersama seperti biasanya. Pak Alung mengajakku bercanda seperti biasanya, dia sangat akrab kepadaku, bisa dikatakan tak tahu mau karna dia sering kentut didepanku, sangatlah menyebalkan.


" Ce, gimana kalau hari ini kita pergi kerumahku, aku sudah memperkenalkanmu pada keluargaku, dan mereka ingin mengenalmu lebih dekat. " kata pak Alung, spontan aku memberhentikan makanku, menatap pak Alung dengan diam. Aku tak menyangka jika lamaran pak Alung selama ini memang benar benar, tak ada kebohongan. Aku menyetujui keputusan pak Alung, tak enak juga jika ada pak satpam, apa katanya nanti jika kita selalu berduaan.


Pak Alung mencoba untuk menghubungi adik sepupunya, Meyla. Dan juga menghubungi kak Andre, kak Andre belajar kepada pak Alung tentang ilmu ilmu yang sulit dijangkau otak kelingking sepertiku, maka harus membutuhkan guru yang telaten juga. Kak Andre datang lebih cepat dari Meyla, Meyla membuatku menunggu cukup lama. Pak Alung sendiri tak bisa menaiki motor walaupun dia punya motor, itu hanya untuk kak Andre mengantar jemputnya mengajar dari sekolah A ke sekolah B.


Dari kejauhan pak satpam yang sadar akan aku, kak Andre dan pak Alung, dia mendekati kita yang membereskan barang agar mudah untuk pergi.


" Mau ngapai ini?. " kata satpam.


" Mau pulang dulu bang, ini saya mau bawa Cece. " kata pak Alung dengan gentle. Setelah percakapan diantara pak Alung dan pak satpam selesai, Meyla datang dari balik pintu gerbang dengan santainya. Ohh ini ternata yang membuat aku menunggu lama, jengkelnya aku dibuat menunggu.


Meyla yang langsung berhenti didepanku, bertanya tanya kepada pak Alung mengenaiku, dengan bahasa daerahnya. Pak Alung langsung menyuruhku menaiki motor yang dikendarai Meyla setelah percakapan nya dengan Meyla selesai. Dijalan Meyla menanyakan hubunganku dengan pak Alung, mau tak mau aku harus mengakui hubunganku dengannya. Walaupun sebenarnya aku tak memiliki hubungan khusus dengan pak Alung, aku tak enak hati mengatakan kenyataannya.


Aku tak tau apa yang dipikirkan Meyla, yang jelas pasti dia tak percaya aku menyukai pak Alung yang umurnya selisih tujuh belas tahun dariku, melebihi umurku yang masih enam belas tahun. Yang seharusnya aku pikirkan adalah bagaimana nanti aku menjawab pertanyaan pertanyaan dari orang tua pak Alung saat aku sampai di rumahnya. Pasti akan ada banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan untukku, apalagi usiaku yang masih tak cukup umur untuk menikah.

__ADS_1


Sesampainya aku dirumah pak Alung, dia sudah datang duluan dan menyambutku. Aku memasuki rumahnya, lebih kecil dari rumahku namun terlihat ramah sekali aku melihatnya. Rumah pak Alung terlihat sepi, bahkan aku belum sempat melihat ibunya.


brakkk, suara dari dapur, pak Alung menghampiri asal suara tersebut. Ternyata ibu pak Alung menyiapkan minuman untukku, dia datang menghampiri ku setelah pak Alung menawarkan diri untuk membantunya meracik gula dan teh.


Ibu pak Alung menyalamiku dan mulai duduk, melihatku dari bawah ke atas dan terdiam sejenak, Meyla yang berdiri memberhentikan tatapan ibu kepadaku.


" Saya mau berangkat kerja lagi ya bude, ini masih banyak kerjaan." jelas Meyla. Ibu pun langsung menyusul berdiri.


" Trimakasih Meyla karna sudah mengantar Cece. " kata ibu.


Ibu tau namaku? apakah benar pak Alung telah menceritakan tentangku pada pihak keluarganya. Ibu yang telah mengantar Meyla ke depan pintu langsung masuk dan duduk disampingku, disusul dengan pak Alung yang membawa dua gelas teh hangat diatas nampan kecil.


" Diminum dulu nak, ibu mau ke belakang. " kata ibu kepadaku. " Alung, temani Cece duduk duduk disini, kalau dia ngantuk suruh dia tidur dikamar. " imbuh ibu. Pak Alung menganggukkan kepala, menyetujui intruksi dari ibu.


" Lumayan. " jawabku singkat, dibalas oleh senyuman tipis khas pak Alung. Kami berdua pergi di ruang tv, menonton tv sambil bercengkrama. Bagaikan istri yang sedang bercanda dengan suaminya, romantis bukan?. Pak Alung menyodorkan tehku yang tertinggal di ruang tamu. Aku dan pak Alung terlihat dekat, sampai sampai ibu yang mengintip kita berdua dibalik pintu ikut tersenyum.


Hari semakin sore, adik adik pak Alung sudah pulangs sekolah. Safa, adik laki laki pak Alung yang paling kecil, dia beda dua tahun lebih kecil dariku. Dia datang dan menyalamiku, datang ke pelukan pak Alung dengan manja. Dia sangat manis, tapi dia sangat malu terhadapku. Ayah pak Alung datang dari dinas, dia langsung memanggil ku saat tau aku ada dirumahnya.


"Pak saya takut. " kata ku dengan jujur.

__ADS_1


" Tak mengapa, beliau hanya menanyakan perihal hubungan kita. " kata pak Alung berusaha meyakinkanku. Aku berusaha untuk yang terbaik, aku menghampiri kedua orang tua pak Alung yang telah menungguku, aku akan mengeluarkan kata kata yang telah aku rangkai di perjalanan tadi.


" Kamu Cece ya nak? kamu tau kan, Alung tak bisa naik sepeda motor dan juga pincang, apa kamu mau dengan dia yang mempunyai banyak kekurangan?. " tanya ayah pak Alung, aku yakin pertanyaan ini akan muncul, aku keluarkan apa saja jurus yang aku pelajari tadi dengan lidahku yang semanis gula ini.


" Saya menerima pak Alung, saya mau pak Alung bagaimana pun keadaan yang dia alami. " jawabku sambil tertunduk, disaat seperti ini bagaimana aku bisa memandang wajah kedua orang tuanya, itu akan mengurangi citraku didepan orang tua pak Alung.


" Cece, apa kamu yakin mau menikah dengan Alung? dia berbeda jauh darimu, pasti umurmu sekitaran enam belas tujuh belas, tapi Alung sudah tigapuluh tiga, apa kamu tak malu mempunyai suami seperti Alung?. " tanya ayahnya lagi.


" Cece tak malu pak. Jika Cece malu, Cece pasti tak menghiraukan lamaran pak Alung kepada Cece. " jawabku.


Disusul oleh pertanyaan ketiga.


" Alamat rumah Cece dimana nak?. " tanya ayahnya lagi.


" Di desa A pak, kecamata T. " jawabku sederhana.


" Kecamatan T?, dari pertigaan itu mananya nak?. " tambahnya.


" Maaf pak, saya tau tau arah itu, karna saya tak pernah keluar dari rumah, dari kecil saya hidup diasrama, jadi arah kota maupun desa saya kurang faham, maafkan saya pak. " jelasku, aku tak mau terkesan sebagai anak yang suka keluyuran didepan calon mertuaku.

__ADS_1


" Ohh, bagus jika begitu, yasudah kamu bisa balik ke ruang tv. " jelas ibu yang sudah puas dengan jawabanku.


Kena kau, apa yang mereka pertanyakan telah aku tebak, dan jawaban terakhir adalah kuncinya, aku memang pintar.


__ADS_2