Mendung

Mendung
Permusuhan Dimana Mana


__ADS_3

Tak lama diriku berteman dengan Syifa tapi Syifa sudah mempunyai masalah besar. Aku sangatlah kasihan pada Syifa, andaikan aku tak berteman dengannya mungkin mbak Icha tak akan mengadukan Syifa ke Abi pengasuh.


" Mbak Cece jangan khawatir, saat aku disana aku akan mengadukan apa yang telah mereka berdua lakukan dengan pacarnya, aku punya bukti seperti dia membuat bukti palsu tentang hubunganku dengan Ninjar. " kata Syifa sambil tersenyum licik.


" Aku tak akan menyenggol orang yang tak pernah menyentuhku, jadi tenang saja jangan khawatir dengan keadaanku, semua akan dirasakan oleh Icha dan Aul. " imbuh Syifa sembari menyeka air mata yang menetes di pipinya.


Aku hanya terdiam dan berkaca kaca. Sejujurnya rasa kesetiaan ku dalam berkawan itu sangatlah dalam, sampai sampai aku selalu dimanfaatkan oleh temanku sendiri. Tapi Syifa berbeda, mungkin dia sangat merasakan kesepian sehingga datangnya aku adalah anugrah baginya. Syifa mengangkat tas ranselnya pergi keluar asrama, aku hanya terdiam dan berusaha mengikhlaskan Syifa pergi.


" Hayo mbak Cece mau nangis ya? udah mbak jangan nangis, kan masih ada Rosa yang nemenin mbak Cece. " tegur Rosa dengan candaan, membuatku menyeka air mata yang tiba tiba jatuh, aku bersikap kembali seperti semula, seperti tak terjadi apa apa di antara aku dan Syifa, semoga saja dendam Syifa terbalaskan.


Keesokan paginya, hari Senin dimana aku dan semua murid SMA ujian tengah semester. Aku membuat contekan contekan menggunakan huruf Pegon agar guru gurunya tak tau dengan apa yang aku baca, mereka mengira itu adalah bacaan do'a setiap aku mau mengerjakan soal. Tak ada guru guru yang curiga walau aku keluarkan kertas itu, aku memang cerdas dalam hal kejahatan. Tiba tiba pelajaran terakhir, di awasi oleh pak Banu, dia adalah guru bahasa inggris, sekali dia melihat orang mencontek akan di sobeknya lembar jawaban tersebut, jadi untuk jaga jaga aku menaruhkan kertasnya ke dalam laci agar tak ketahuan pak Banu.

__ADS_1


Tapi saat tiba tiba aku kecolongan mengintip kertas tersebut,


" Cece, apa yang kamu lihat?. " tanya pak Banu dengan ekspresi wajah sangar walaupun sebenarnya wajahnya sedikit lebih manis jika tak marah marah.


" Saya gak liat apa apa pak. " jawabku sambil menyelipkan kertas contekan ke dalam Al Qur'an. Pak Banu yang tak mempercayai jawaban dariku dia mendatangiku dan melihat isi laci, tak ada apa apa di dalam nya, hanya ada mushaf mushaf Al-Qur'an, bahkan dibuka bawah Al-Qur'an pun tidak ada. Semua anak yang ada dalam kelas tegang seketika, ikut takut kalau jawabanku di sobek oleh pak Banu.


Pak Banu tak menemukan kertas contekan. Ya jelas tak menemukannya, wong aku taruh di dalam Al-Qur'an bukan di bawahnya. Pak Banu berjalan menjauh dari mejaku, membuat para murid lega karna aku tak ketahuan olehnya, seketika ruangan sepi karna hawa dingin yang merasuk sumsum tulang ini berasal dari pak Banu yang terus mengawasi tanpa lengah. Tiba tiba pak Banu di panggil oleh pak kepala sekolah, pak Banu memberi arahan agar anak anak tetap diam dan tidak boleha da yang mencontek. Setelah pak Banu melewati pintu kelas dan berjalan ke kantor, semua murid yang ada di dalam kelas serempak menghela nafas dengan berat dan memulai melanjutkan kegiatan contek mencontek kembali.


Tiba tiba dari arah selatan pak Banu berjalan kembali menuju arah kelas, membuat anak yang mencontek merapikan kertas yang tadi di buka olehnya.


" Kenapa sih kamu gak mau nunggu aku, kan tinggal sedikit lagi, kamu buat aku kebut kebutan tau, resikonya tinggi. " kata Dinan sambil memarahiku di depan sekolah lain yang jaraknya hanya 100 m ± dari sekolahku. Semua murid SMK melihatiku yang di marahi oleh siput bucin. Aku yang sangat malu dibuatnya langsung menaiki motornya dan membiarkan siput mengoceh di jalan sambil mengendarai sepeda motornya. Aku berjalan terus sampai ke gang asrama, tapi sialnya saat aku turun dari sepeda motor tiba tiba Aul mengendarai sepeda dari belakangku dan melihatku, Aul tadi pas sebelum berangkat sekolah di panggil Abi pengasuh karna aduan dari Syifa.

__ADS_1


Gawat, pasti Aul akan mengadukan aku kepada Abi pengasuh seperti dia mengadukan Syifa ke pengasuh. Aku menatap Dinan dan menyuruhnya cepat pergi, aku tak ingin nanti jika Aul mengadukan ke pak Alung dan pak Alung melihat Dinan masih ada disini. Aku berjalan dengan seperti biasa dan seperti tak terjadi apa apa. Sesampainya aku di asrama, karna hanya ada aku dan Aul di asrama dia dengan bebas menegurku.


" Mbak Cece ini gimana, nanti kalau orang lain tau gimana kalo mbak Cece jalan sama cowok, untuk cuma aku yang tau. " kata Aul dengan berusaha untuk membuatku percaya.


Aku hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dan berjalan menuju kasurku.


" mbak Cece udah ngapain aja sama dia. " tanya Aul. Aku pasti dijebaknya, aku hanya tersenyum dan menjawab sekilas.


" Aku hanya pernah di antar ke asrama olehnya, tak akan lebih karna aku tau tujuan hidupku. " kataku membuat mbak Aul percaya begitu saja, memang wajah polos adalah hal yang terbaik untuk menjadikan aku seperti orang yang tak pernah melakukan kesalahan.


" Ya sudah mbak Aul, saya mu pergi ke kamar pak Alung, mau pinjam motor buat beli nasi makan siang. " kataku sembari meninggalkan Aul yang duduk di hadapanku tadi. Aku masih memakai baju yang sama, seragam training atau bisa di sebut kaos olahraga.

__ADS_1


Aku berjalan menuju kamar pak Alung karna takut akan ada lebih banyak pertanyaan pertanyaan yang selanjutnya di lontarkan oleh Aul kepadaku, maaf pak Alung, aku menjadikan namamu sebagai alasanku untuk kabur dari rubah betina itu. Aku berjalan menuju kamar pak Alung, sesampainya di depan pintu aku langsung masuk seperti biasanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku mengunci semua pintu kamar pak Alung, pak Alung tak menyadari kedatanganku dan tetap tidur di kasurnya. Aku mendatangi pak Alung yang sedang tidur, tiba tiba tanpa kusadari aku mencium bibir pak Alung terlebih dahulu.


" Kenapa Ce?. " tanya pak Alung sembari tersenyum karna menyadari aku menciumnya.


__ADS_2