
Pak Alung yang mengetahui sifatku seperti itu, bukannya marah malah membuatku semakin marah dengan diamnya tanpa menggubris tingkahku yang berusaha aku perlihatkan padanya, emang saya ini patung ya, kataku dalam hati. Seusai pembelajaran aku melakukan aksiku seperti tadi, pergi ke asrama tanpa menyapa pak Alung terlebih dahulu. " Ce, sini. " akhirnya kamu menyapaku dulu pak, bagaimana jika kamu membiarkanku, aku pasti akan kebingungan saat meminta maaf kepadamu besok. " Kenapa bi?. " tanyaku yang sambil berjalan mendekatinya. Terlihat pak Alung menungguku untuk berhenti dan duduk di depan meja duduknya saat ini. Aku menghampirinya dengan perasaan tak enak karna aku telah mengabaikannya.
" Kamu kok duduk dekat sekali di samping anak putra. " tanya pak Alung. " Apakah kurang puas denganku?. " imbuhnya, membuat seisi ruangan terdiam karna pertanyaannya yang satu ini. Aku tak menyangka dia menjadi idiot seperti ini jika dia sedang cemburu. Aku yang mendengar pertanyaan dari pak Alung langsung terduduk dan menenangkan dia, pak Alung sangatlah merepotkan diriku saat ini. Anak anak menertawakan pertanyaan dari pak Alung yang di lontarkan untukku. " Sudah ya bi, jangan marah, gak baik kalau banyak yang mendengar. " kataku sambil mengelus dadaku untuk mengisyaratkan sabar. " Sini belajar denganku, kamu dari tadi kan gak belajar disana, cuma diam saja. " kata pak Alung lagi, kok dia bisa tau bahwa aku tak belajar saat disana tadi ya.
Pak Alung membuka isi buku yang aku bawa dan memberiku pertanyaan pertanyaan tentang sastra Arab yang membuatku kelabakan di buatnya, memang ya pak Alung ini pintar membuat orang kebingungan tingkat tinggi. Pak Alung yang mengetahui bahwa aku tak memahami apa yang dia tanyakan, langsung menutup buku lembaran tersebut dan memindahkan ke lembaran paling terakhir. " Pak Alung menyuruhku bernyanyi tentang sastra Arab karna aku tak mampu menjawab pertanyaan darinya. Aku hanya terdiam sambil tepok jidat karena kelakuannya. " Kamu gak bisa?. sini ikutin saya bernyanyi. " kata pak Alung sambil menyeringai.
__ADS_1
" Nashoro wis mukul. " nyanyi pak Alung sambil menatapku dengan pandangan menggoda. " wis nulung Abi. " kataku dengan nada lembek. Semua murid dan guru guru lainnya yang melihat aku dan pak Alung bercanda ikut tertawa semua melihat keromantisan kita berdua. " Ohh, wis nulung ya mi, yasudah lagi yuk. Dzoroba wis nulung. " lanjut pak Alung. " Wis mukul Abi. " jelasku lagi yang mengundang gelak tawa para guru guru yang berada di sana. " Katanya tadi wis nulung?. " tanya pak Alung kepadaku dengan nada orang tua menanyakan sesuatu dengan anak kecil. Semua orang ini membuatku mau tak mau menjadi ikut ikutan tertawa karna tingkah laku pak Alung.
Semua orang melihat keromantisan yang telah pak Alung buat, seakan akan dunia hanya milik kita berdua dan yang lain hanya numpang, itu kata pepatah. Setelah membuat pak Alung dan semuanya tertawa aku langsung menutup buku dan balik ke kamar seperti biasanya, aku mempersiapkan diri untuk nanti pak Alung memanggilku lagi. Aku tau pak Alung membutuhkanku saat semua orang telah pergi dari tempat pembelajaran, terkadang aku dan pak Alung sholat tahajjud berdua seperti sepasang suami istri. Aku berdandan dan mengganti bajuku dengan baju tidurku, aku menunggu panggilan pak Alung sangat lama sampai sampai membuatku mengantuk dan tertidur pulas tanpa ada panggilan masuk di telpon ku.
" Mbak Cece, udah bangun ya?. " tanya Rosa. " Iya Rosa. Hehehe maaf ya, udah belajar sana saya mau mandi dulu ya. habis ini ke kamar pak Alung ambil air sambil sholat tahajjud. " kataku sembari mencari alasan. Bodohnya Rosa percaya begitu saja tanpa mengikutiku. Selesa aku mandi, aku langsung berjalan di tengah kegelapan. Gelap gulita hanya lampu senter dari hp yang menerangi perjalananku. Aku membuka pintu kamar pak Alung, pintu kamar yang hanya boleh di lewati olehku dan pak Alung saja. Anak anak yang lain jika akan izin ke pak Alung melewati pintu utama, jadi hanya aku dan pak Alung saja yang berjalan melewati pintu tersebut.
__ADS_1
Pak Alung yang tadi membangunkanku tertidur lagi dengan pulas, kakinya naik ke atas lemari yang dekat dengan kasur, membuat sarung pak Alung terbuka sangat lebar. Aku melihat hal aneh saat pak Alung bergerak dari tidurnya mencari sebuah kenyamanan. Apa itu? aku tak pernah melihatnya sebelumnya?, apa sih itu, pikirku sambil mendekati tubuh pak Alung yang terlentang. Tanpa aku sadari aku mendekatkan wajahku dengan benda tersebut karna saat aku berangkat ke kamar pak Alung tadi tak memakai kaca mata. Astaghfirullah, itu kan, pikirku. Aku menutupi wajahku dan menyodorkan tanganku untuk menutupi benda itu dengan sarung. Kalian pasti paham apa yang sedang aku maksut sekarang, tapi aku tak akan menyebutkannya.
Aku membangunkan pak Alung. " Sayang, Abi, bangun dong. " kataku dengan muka memerah. Pak Alung menggeliat merentangkan tbuhnya dan lalu berdiri. " Oh kamu sudah datang mi, buat saya menunggu lama mi, sampe ketiduran tau mi. " kata pak Alung. Iya benar, kamu tidur. Tapi tidurmu itu sangat tidak wajar, kenapa sampai benda itu berdiri. Aku hanya duduk terdiam di sampingnya, masih tak menyangka membayangkan apa yang kulihat barusan. Apakah ini rezeki atau hanya sekedar bonus karna melihat benda tersebut.
" Abi, maaf. Barusan saat Abi tidur, sarung Abi terbuka dan saya melihatnya. " kataku sambil menutupi muka yang memerah, aku lebih baik mengatakannya yang sebenarnya karena aku tak mau mempunyai hutang kepadanya. " Bukankah kamu senang melihatnya? apakah tadi kamu perjelas dengan mendekatkan wajah karna begitu indah bentuknya?. " ejek pak Alung kepadaku. Aku tau, tapi seharusnya aku menutupi ini jika tau pak Alung akan merespon dengan ejekan. Pak Alung berjalan menuju pintu kamarnya yang tadi terbuka karnaku, dan menguncinya kembali. Pak Alung mendekatiku dan mendekapku dari depan, dia selalu romantis, dia selalu berbagi cerita denganku saat di atas kasur. Mengapa di atas kasur?, karna di lantai sangat dingin walaupun di hari hari biasa.
__ADS_1