
Ada apa dengan mbak Ativ dan pak Alung, kenapa mereka?, sampai sampai hanya sebuah kontak hp saja dengan urutan huruf terbalik, apa aku yang terlalu curigaan dengan pak Alung. Tapi memang benar jika aku curiga, awal aku menanyakan hubungan pak Alung dengan mbak Ativ saja sudah membuat pak Alung marah dan juga pak Alung secara tiba tiba mengatakan padaku untuk tak menghubungi mbak Ativ. Itu cukup membuatku kaget, aku bahkan tak berfikir sampai menghubunginya, aku tak selancang itu, itu adalah kekhawatiran yang tidak perlu.
Aku dengan berat hati mendatangi pak Alung dengan menyodorkan hp yang sedari tadi kugenggam. Aku sebenarnya tak rela mengembalikan hp itu, barang itu memiliki banyak rahasia di dalamnya. Aku terus terdiam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah pak Alung masih bersama mbak Ativ, tapi kalau pak Alung dengan mbak Ativ bagaimana perasaan mbak Ativ saat tau aku memiliki hubungan dengan pak Alung, apakah mbak Ativ tau akan hal ini. Kalau pun mbak Ativ tau pasti ada rasa tak ikhlas dihati.
Aku sungguh secara tiba tiba ingin sekali memiliki pak Alung, bagaimanapun caranya. Aku tiba tiba pergi dari kerumunan pak Alung dan pergi menuju tepat didepan tempat wudhu. Aku berinisiatif untuk menelpon papaku, aku harus meminta restu papaku, segara!.
" Halo pa, ini Cece, pa Cece minta nikah pa. " pintaku secara mendadak. Aku tau, pasti papa dan mamaku syok dengan keputusanku yang satu ini, tapi aku tak mau untuk kehilangan pak Alung, benar benar tak mau.
" Ah, kamu gila Ce, papa gak mau, kamu sekolah dulu. " kata papaku. Tut Tut Tut. Suara hp yang tiba tiba dimatikan.
Sungguh, aku memang lancang dengan permintaanku. Aku yang sangat takut kepada papaku dengan beraninya aku meminta hal yang itu, aku masih dibawah umur, dan lagi umurku jauh dari pak Alung. Tapi memang aku sekarang dipenuhi nafsu, aku seperti orang gila. Apa yang pak Alung inginkan semua aku lakukan, dari cara dudukku dan bahkan dia memintaku untuk menjauhi teman teman asramaku. Aku menjadi penyendiri sebab pak Alung, sebab permitaannya yang aneh.
Aku mendekati kerumunan pak Alung dan murid murid kecilnya. Acara belajar mengajar masih belum selesai, aku menanyai apa yang pak Alung ingin makan untuk saat ini, tapi jawabannya singkat seperti biasanya. Semua jawabannya terhadapku singkat, seakan akan dia tak mau untuk mengenal aku. Aku sangat yakin bahwa mbak Ativ ada sangkut pautnya dengan sikap dingin pak Alung dengan ku, walau dia berkali kali mengutarakan cinta.
Aku pergi mengendarai motor dengan perasaan tak enak, entah mengapa perasaanku tiba tiba sakit, bahkan lebih sakit saat tau mas Surya memanfaatkan aku untuk memanas manasi mantannya. Namanya hampir sama dengan mbak Ativ, hanya berbeda sedikit, beda huruf tengahnya saja, Atuf. Sungguh, kedua nama perempuan itu sangat menyakitkan untuk diingat walaupun untuk duapuluh tahun kedepan.
__ADS_1
Selesai aku memesan ayam Sabana favorite pak Alung, aku bergegas kembali. Aku tak mau lama lama untuk melampiaskan kemarahanku dengan memakan nasi yang banyak. Aku yakin, akan ada banyak hari hari yang sulit untuk aku jalani dengan adanya mbak Ativ diantara aku dan pak Alung, aku tak akan mempermasalahkan itu jika hal itu masih bisa di cegah. Selesai makan nanti aku akan bertanya apa alasannya pak Alung memilihku untuk dijadikan istri.
Aku membukakan nasi dengan tiga lauknya seperti biasa, menunggu pak Alung dengan membawa air untuk minum. Aku membasuh tanganku dan bergegas menghampiri tempat nasi yang sudah ada pak Alung disana untuk menungguku.
" Dudukmu, yang benar, kamu mau celana dalammu dilihat anak anak putra yang lewat. " kata kata pak Alung membuatku syok. Dia sampai berpikir kesana, bahkan kucing saja akan takut untuk melihatnya. Dia sangat sangat kelewatan, pak Alung kelewatan.
Disusul dengan kata kata selanjutnya.
" Ce, aku dengar tadi kamu telpon papa kamu ya, minta nikah, akhirnya kamu memberikan jawaban mu. Aku tau kamu sebenarnya mencintaiku Ce, sangat sangat mencintaiku, aku sudah merasakannya saat kita pertama kali bertemu. Jujur pak Alung ini sangat besar kepala sekali, sampai sampai jika nampak akan seperti kepala Mamon.
" Saya mau nikahi kamu karna hanya kamu mau dengan saya, itu saja, yang lain ndak usah dijawab, gak penting. " kata pak Alung yang akhirnya buka bicara. Berarti Cece gak penting buat pak Alung, sejak kapan? sejak dulu?, tanyaku dalam hati. Sungguh pak Alung mengira aku mencintainya, dia meminta aku menikahinya karena menurutnya hanya aku mencintainya, jadi jika banyak yang mengantri kepada nya apakah dia tak akan memilihku.
Selesai makan aku langsung berbalik ke asrama, aku sangat sangat kecewa. Tak menghiraukan pak Alung yang memanggil manggilku, mungkin dia heran kenapa aku meninggalkannya begitu saja setelah makan bersama. Aku tak memikirkan apa apa sekarang, pikiranku kosong begitu saja. Ternyata bukan mbak Ativ yang menghalangi hubunganku, tapi memang pak Alung tak mencintaiku.
Kamu sejahat matahari,
__ADS_1
selalu memanasi hari hariku,
kamu selalu membuatku mempersiapkan hal
hal baru untuk membuatku kembali dingin lagi.
Kamu tak seindah bulan dan bintang,
tapi bahkan keduanya membutuhkanmu jika ingin menjadi cantik.
semuanya membutuhkanmu untuk bertahan hidup,
bahkan aku dan Ativ juga.
Tulisku dalam sebuah buku kecil, buku untuk mengisi kesepianku, apa sebaiknya aku telpon mas Surya, tapi nanti pasti mas Surya akan menanyakan kenapa aku menangis, aku tak sanggup jika ada yang membuatnya semakin curiga dengan tingkahku. Walaupun mas Surya awalnya memanfaatkan aku, tapi untuk sekarang cintanya terlihat cukup tulus, lebih tulus dari pak Alung.
__ADS_1