
Aku pergi meninggalkan orang tua pak Alung, mereka masih tetap berdiskusi saat aku pergi. Aku sedikit ragu akan jawabanku, apakah seperti yang mereka inginkan atau malah sebaliknya, tapi aku disini berusaha untuk tak mempermalukan ku. Pak Alung dan Safa menengok ke arahku, mereka menyadari kedatanganku.
" Bagaimana?. " tanya pak Alung.
Tak semudah yang kamu bayangkan, dasar monyet tua. Kamu sudah menyeretku kedalah kehidupanmu secara perlahan.
Waktunya mandi sore tiba, aku tak membawa baju ganti, Aku kebingungan pastinya. Pak Alung menenangkan ku dan menyuruhku lekas mandi agar hari tak lekas gelap. Aku menuruti apa kata pak Alung, aku berjalan menuju kamar mandi yang kecil milik keluarganya, mungkin untuk mandi dua orang tak akan cukup rasanya.
Seusai mandi, aku tetap bergegas ke kamar yang disediakan ibu untukku. Pak Alung menyodorkan tangannya yang membawa baju ganti, itu milih adik perempuannya yang besar. Aku memakainya dan merapikannya, aku duduk disamping pak Alung dan mulai tersenyum agar tak terkesan tidak nyaman dengan baju adiknya.
" Kamu gak dandan Ce?, kamu kan biasanya dandan. " kata pak Alung. Aku hanya menggeleng dengan malu malu, pak Alung lagi lagi membalas tingkahku dengan senyuman saja.
Hari semakin gelap, kak Andre datang untuk menjemput pak Alung, dia sudah berjanji akan pulang ke asrama sebelum Maghrib, tapi aku harus menunggu Meyla sejenak, karna bertambahnya jam kerja Meyla. Aku mengantarkan pak Alung ke depan pintu, bersalaman dengannya dan melihatnya pergi sampai tak terlihat lagi. Sebenarnya aku menyesali pertemuanku dengan pak Alung, tapi bahkan aku tak bisa menghindari takdir ini.
Keluarga pak Alung mempunyai kebiasaan sholat berjama'ah, mereka lebih baik dari yang aku kira. Setelah menjalani ibadah sholat Maghrib, ibu mengajakku ke dapur untuk makan, dia memaksaku walau aku tak mau. Yah mungkin dia berfikir aku malu untuk makan, tapi aku tak mau jika masakan orang yang belum aku kenal. Tiba tiba, aku menerima pesan grup, ada rapat ulangan di rumah pengasuh asrama. Jelas aku kebingungan karna aku tak ada diasrama.
Akhirnya aku pun meneror pak Alung dengan banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan pesan tak jelas dariku. Dengan emoticon menangis aku mengatakan bahwa keadaan darurat, pak Alung yang menyadari itu langsung menghubungi Meyla, dia tak ingin aku terkena masalah kan. Dan akhirnya Meyla menjawab kalau dia sudah berangkat untuk menjemputku, Meyla sungguh melelahkan.
Kupaksakan aku memakan sedikit nasi dan sayur sayuran, aku sangat suka sayur, aku menyukai lalapan karna ada sayurnya. Ditengah tengah makan lagi lagi aku mendapatkan pesan, tapi kali ini bukan dari pak Alung.
__ADS_1
Pinkkk pinkkk.
💌
+6281*********. : ini nomor kak Cece ya?, saya Safa kak.
Aku :ohhh Safa ya. Iya ini Cece.
Aku menyimpan nomor Safa, bersamaan dengan muncul pesan kedua darinya.
💌
Aku : nomor hp dek, saya Ndak suka ganti ganti nomor.
Setelah mendapatkan jawaban dari saya dia pergi melewati ku, sebenarnya dia ada tepat didepan mataku, tapi entah karna malu atau gengsi dia menyapaku pakai pesan. Tak masalah jika itu menjadikan kita lebih dekat lagi, aku tak keberatan. Ada pesan masuk lagi menyusul, bukan dari akun WhatsApp tapi dari SMS biasa. Nomorku diisi pulsa dengan Safa, apakah itu artinya dia menyetujui hubunganku dengan pak Alung.
Setelah aku mendapatkan pulsa tersebut, aku langsung menanyakannya kepada Safa, dia membalas pertanyaan ku dengan senyuman saja. Percakapan berhenti disitu, ibu datang dan mengajakku ke ruang tamu, Meyla sudah datang menjemput ku. Ibu memberhentikan jalanku, dia menyodorkan amplop kepadaku, aku hanya terdiam dan menggenggamkan amplop itu kedalam genggaman tanganku.
" Saya mohon terima ya nak, terima kasih kamu sudah menerima Alung, saya bersyukur dengan kamu yang apa adanya. " kata ibu singkat kepadaku, dan bergegas mengantarku ke ruang tamu. Sesampai aku diruang tamu, Meyla langsung pamit kepada ibu karna urusanku yang mendesak. Tak masalah jika Meyla turun tangan, toh itu menguntungkan bagiku.
__ADS_1
Aku pergi dengan Meyla, menyusuri kota yang ramai dijalanan, kota yang akan kurindukan untuk beberapa hari kedepan. Melewati lampu merah dan terus berjalan lurus. Meyla menanyaiku tentang bagaimana orang tua pak Alung kepadaku, dan bagaimana aku kepada keluarga pak Alung. Kami berbincang bincang selama ada di perjalanan.
Safa memberiku banyak pesan dukungan antara aku dan kakaknya. Oh ya, pak Alung anak pertama dari tujuh bersaudara. Adik keduanya Dzakir, dia seorang laki laki yang cuek bebek namun berkharisma. disusul dengan Lia anak ketiga dia anak perempuan dan satu satunya yang telah menikah. Selanjutnya Ahkam, dia anak ke empat, dia lebih menarik daripada pak Alung dan Dzakir walau mereka berdua terlihat lebih tampan, mas Ahkam manis dan ramah, jadi pantas saja dia lebih disenangi banyak orang daripada kedua kakak laki lakinya.
Disusul dengan Armila, anak kelima. Dia dua tahun lebih tua dariku, diaterlihat manis difotonya. Posisi anak ke enak di diuduki oleh Fawaid, dia seumuran denganku, hanya lebih tua aku beberapa bulan saja, aku belum pernah bertemu mereka semua, karna mereka diasrama lain. Yang terakhir Safa, anak kebil yang manis, dia adalah adik kesayangan pak Alung.
Cukup untuk perkenalan keluarga, aku sudah sampai diasrama, begitu banyak anak yang melihatku. Bukannya mereka di rumah pengasuh?, kenapa mereka ada disini. Aku yang datang langsung menanyai Nisa dan Eza, mereka menjawab bahwa tadi ada panggilan untuk ke rumah pengasuh, tapi tiba tiba pengasuh ada rapat dengan donatur asrama.
Syukurlah, lega rasanya tak bertemu dengan Pak Wahyu. Rasanya tak ingin aku melihatnya, dia sangat menyeramkan bagiku. Terlebih lagi dia mempunyai tatapan ganas. Ahhh, sudah sudah, jangan membuatku memperbincangkan keburukan orang lain. Aku pergi menuju meja pak Alung setelah tau bahwa pertemuan ditunda.
" Pak Alung, bapak nunggu saya ya?. " tanyaku sambil berjalan menuju kerumunan kelas empat.
" Ihh, mbak Cece ini terlalu pede sekali Pak. " kata mbak Aul menyahut perkataan ku. Pak Alung hanya tersenyum tanpa membelaku, dia asyik menonton dramaku dengan mbak Aul. Secara spontan, aku keceplosan didepan mereka.
" Ini lho abinya aku, kamu gak boleh deket deket. " kataku membuat mereka tercengang. Kan benar, aku sampai keceplosan dibuanya. Lagian apaan, Abi.
Benar selama ini dugaan mereka, mereka akhirnya bisa tidur dengan lega karna sudah mendapatkan jawaban atas kedekatan ku dengan pak Alung.
" Kok pas ya, semua senang memanggilku dengan sebutan Abi. " kata pak Alung membuat aku memutar balik isi otakku. Abi? siapa yang memanggilmu dengan sebutan romantis itu.
__ADS_1