
Pagi harinya, aku menghubungi Koko untuk berangkat sekolah, kali ini aku berangkat sekolah dengan Koko, naik sepeda motor berdua lagi. Aku tak mau bawa sepeda motor lagi milik pak Alung, lebih baik aku diantar pulang oleh siput keriting itu saja. Kejadian kemaren membuat aku ingin sekali menjauhi pak Alung, dia bersikap kasar setelah tau aku meminta untuk menikah dengannya. Sebenarnya dia mau atau tidak menjalin hubungan denganku, ataukah dia meremehkan aku setelah mendapatkan pengakuanku kepada orang tua atas telpon kemarin. Untuk pertama kalinya aku kecewa dengan pak Alung, dan semoga tidak untuk seterusnya, aku jelas tak ingin kekecewaan itu terulang kembali.
Sebenarnya aku sangat lelah oleh tingkah ke tiga kekasihku, pak Alung yang menurutku bermuka dua, mas Surya tak ada waktu untuk meladeni aku, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, Dinan hanya mencintai uangku, kamu tau? uangku. Iya, yang seribu cuma dapat permen tiga itu lho. Mereka bertiga sangat mengesalkan bagiku, apa lagi Dinan, sebenarnya aku sangat jijik melihat mukanya, entah mengapa tapi sejak dulu aku sangat membenci dengan situasi terpaksa dan aku sekarang sedang terpaksa untuk menjadi kekasihnya. Aku tak benar benar cinta dengannya, aku risih jika diikuti siput letoy seperti dia.
Sesampainya di sekolah aku dan adik kelasku duduk duduk seperti biasa disamping masjid tuk menunggu bell berdering tanda masuk. Semua murid disana mempunyai kebiasaan sholat duha setiap datang ke sekolah, tapi jelas sekali aku tak pernah mengerjakannya, bagaimana mau mengerjakan jika sekolah saja aku tak pernah. Aku menunggu guru siap untuk sidang pagi ini, balik ke topik pembahasan bahwa aku tak pernah sekolah.
Kriiingggg kringggg, suara bel berbunyi, seharusnya bell berbunyi tak begitu cepat, sepertinya bell sekolah pun ingin aku terkena sial di pagi hari. Aku dan kawan kawanku berjalan menaiki puluhan anak tangga, berjalan menyusuri lorong kelas ke kelas.
" Siswi SMA kelas sebelas atas nama Cece, diharapkan kedatangannya di kantor BK. " Panggil guru BK dengan speaker. Membuatku malu saja nih orang, kenapa tidak dipanggil saja tadi saat aku melewati depan kantor, kenapa harus pakai alat pengeras suara. Semua murid satu kelas diam karna suara tersebut, seisi kelas sedang fokus menatapku. Brakkkkkk, suara gebrakan meja berasal dari bangku ku, aku berdiri dengan menggebrak meja, siapa yang mau dipandang tak enak dengan teman temannya sendiri, bukan hanya satu dua, tapi satu kelas. Mereka yang menyadari bahwa gebrakan meja itu pertanda kenapa liat liat langsung mengalihkan pandangan dariku, mereka tak mau tentunya membuatku marah.
Aku menyusuri lorong sekolah dengan wajah bias aja, mereka pasti curiga jika aku memasang wajah panik. Aku memasuki kantor sekolah, tanpa ekspresi ketakutan. Sebenarnya aku sangat takut sekali, aku tak pernah dipanggil menghadap guru di sekolah sekolahku sebelumnya kecuali saat diangkat menjadi perwakilan sekolah untuk mewakili lomba cerdas cermat di kabupaten ataupun lomba KSM di sekolah sekolah tetangga. Aku anak berbakat, jadi tak mungkin guru guru tak mengenali aku disekolah ku yang dulu, tapi kenyataannya disekolah baruku aku menjadi buronan para guru karna tak pernah berangkat sekolah, jelas sekali aku tak pernah sekolah karna aku malas, malas melihat semuanya terutama guru BK.
__ADS_1
" Assalamualaikum, saya masuk. " kataku. Seperti nya nyaliku terlalu besar, ingin sekali aku berlari kabur dari hadapan wajah wajah seram guru sekolah.
" Duduk!, kenapa kamu tak pernah sekolah? apakah sudah malas?. " tanya Bu guru BK. Tentu saja iya Bu guru, aku sangat malas melihat wajahmu yang seperti putri ngantuk ini, tapi tentunya aku tak mengutarakan nya langsung, aku takut gengs.
" Maaf Bu, saya sakit, jadi saya gak bisa masuk sekolah, dan saya pun tak bisa mengirim surat karna saya tak ada teman yang satu tempat dengan saya di sekolah ini. " jelasku. Bu guru hanya terdiam dengan penjelasan ku, tak bisa mengelak begitu saja karna perkataanku 100% benar.
" Baiklah, untuk sekarang tak masalah, tapi besok besok jangan membuat para guru khawatir saya akan menindak lanjuti pertbuatan kamu. " katanya, mungkin dia sekarang menahan malu karna jawabanku begitu membuatnya tak bisa berkata apapun.
" Yasudah Bu, saya mau melanjutkan belajar mengajar dikelas. " kataku sembari berjalan pergi, kalian tak bisa memojokkan aku Bu, bahkan guruku yang kuliah lulusan S2 mampu aku bohongi dengan mudah. Berbohong itu sangat mudah bagiku, bagi banyak orang namun hanya sedikit yang mampu menyusun kronologi kejadian seperti ku. Aku memasuki kelas disambut pertanyaan pertanyaan dari teman temanku, bagaimana aku bisa lolos dari guru yang killer, aku hanya membalas dengan senyum kemenangan.
" Heyy, kamu Cece ya? aku Amel, kelas dua belas. " kata mbak Amel kepadaku. Amel anak perempuan yang diidam idamkan oleh semua murid putra itu ya?, heranku dalam hati.
__ADS_1
Aku melihatinya dari atas ke bawah, siapa yang tak mau dengan bidadari surga, dia adalah perempuan paling ayu yang pernah aku temui, bahkan aku sangat kagum dengannya untuk sekali tatap, dia cantik dan postur tubuhnya pun sangat menjanjikan.
" Iya mbak Amel, saya Cece dari kelas sebelas, mbak Amel kok kenal saya ya? " tanyaku balik dengan memandang wajahnya tanpa henti.
" Siapa yang tak kenal anak baru yang cantik ini. " kata mbak Amel di sertai dengan tawaan kecil dari bibirnya. Nih orang niat muji apa menghina aku sih.
" Mana hp kamu? aku mau ngasih akun IG aku ke kamu. " kata Amel. Hah? akun IG.
" Ohh, ini mbak hp saya. " kataku sambil menyodorkan hp yang sedang aku bawa.
" Kakak sering perawatan ya? Cantik. " kataku dengan tulus tanpa niat mengejek seperti dia.
__ADS_1
" Ce, sebenernya aku sekolah aku sendiri yang mencari uang, mama aku tak mau membiayai sekolah, jadi aku selalu meminta uang ke beberapa pacarku, mamaku sangat sayang dengan kakakku tanpa menghiraukan adanya aku diantara mereka, maaf ya Ce, saya malah jadi curhat." katanya tiba tiba.
Ternyata dibalik sisi kesempurnaan seperti ini, ada sisi lain yang menyakiti hati untuk orang yang mendengar cerita kehidupannya.