
Setelah aku mendengar pembicaraan anak anak asrama, aku berniat untuk marah marah ke pak Alung dengan cara mengechatt dia lagi di akun WA dia, enak saja mau mempermainkan hatiku, tapi entah kenapa kenyataannya berbeda. Aku mengawali percakapan dengan pak Alung sembari memakai bahasa yang halus. Aku anak yang sopan, baik, rajin dan ramah, itu kata guru guru disini.
💌
Aku: pak Alung, bapak masih ada hubungan dengan mbak Ativ ya?, maaf saya menanyakan ini, soalnya tadi anak anak membicarakan hubungan bapak.
Pinkkk pinkkk.
Pak Alung spontan menjawab chatt dariku, tapi respon yang dia berikan berbeda dengan apa yang aku harapkan.
Pak Alung: Apaan sih kamu, ikut ikut ngerumpi, mendingan gausah berhubungan dengan saya jika kamu ikut ikutan dengan orang yang gak jelas seperti mereka!, mengerti?.
Yang apa apaan itu kamu, bukan aku. Aku kan cuma ingin memastikan bagaimana calon suamiku, bukankah begitu?. marahku, yang ku coba untuk menahan.
Aku hanya membalas pesannya dengan kata yang singkat, namun terlihat manis.
💌
Aku: Iya guruku.
__ADS_1
pinkkk pinkkk.
Pak Alung: istimewa ya?.
Hah?, apanya yang istimewa?, aku semakin gak faham denganmu deh!, seruku kepada pak Alung dalam hati. Bukankah dia terlalu percaya diri?, sewajarnya saja lah.
💌
Aku: istimewa gimana ya pak?, saya gak terlalu faham.
*Pi*nkkkk pinkkk.
Astaghfirullah, dengan percaya diri dia mengartikan pesanku dengan maksut lain.
Nggak pak, nggak, saya gak bermaksud seperti itu, pikirku menyesal telah mengatakan hal kecil yang menyenangkan baginya.
💌
Aku: ohh, iya pak, jika bapak mau mengartikan seperti itu juga ndak papa.
__ADS_1
Dia tidak menjawab pesanku, mungkin dia tidak puas dengan jawabanku yang satu ini. Hanya melihatnya saja, aku dan pak Alung jarang mengirim pesan, bahkan kita tidak tau privasi satu sama lain, mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, alamat. Itu wajar, aku hanya muridnya, tidak lebih.
Sore hari yang cerah, saat itu anak anak putra maupun putri latihan untuk silat. Koko ku juga ikut, dia memang kakak yang hebat. Aku menonton mereka yang olahraga di sore hari terlihat seru sekali, melihat anak kecil maupun besar berpartisipasi dalam ekstra dalam asrama.
Nisa dan Eza yang ikut serta dalam ekstra terus terusan mengajakku untuk ikut bergabung dengan mereka, mengesalkan bukan?, aku tak suka kelelahan. Ditengah tengah kegiatanku memandangi abang abang yang ganteng, tiba tiba ada miss call dari pak Alung, lalu di susul oleh sebuah pesan.
💌
Pak Alung: kamu lagi nonton silat kan?, aku melihatmu Ce, tolong pergi dari situ, aku gak suka kamu ngumpul ngumpul karna hal hal yang gak berguna.
Aku yang mendapat pesan tersebut langsung menoleh ke kiri, e kamar pak Alung Jang jaraknya ada tiga puluh meter dari aula pertandingan. Aku pergi meminta kunci sepeda motor Koko untuk beli makan sore, diperjalanan aku masih sangat terheran heran dengan tingkah pak Alung selama ini, seakan akan aku yang mengerjarnya.
Aku menaiki sepeda motor kakakku, aku pergi untuk mencari makan soreku, setelah kiri kanan kulihat saja, hanya gerobak Sabana. Sabana itu ayam goreng, rasanya endeeuusssss.
Mang, beli ayamnya yang bagian dada dua porsi sama nasinya ya paha satu porsi" kataku kepada mamang ganteng penjual ayam.
Semuanya duapuluh delapan ribu neng" jawab babang dengan santai.
Nih bang" kataku kepada Nanang penjual ayam dengan uang pas
__ADS_1