Mendung

Mendung
Berkunjung Lagi


__ADS_3

" Ayo mi berangkat ke rumah Abi, ini ayah sudah di depan gerbang buat jemput umi. " kata pak Alung membuatku kaget, aku tak mengira jika pak Alung mengajakku lagi ke rumahnya untuk yang kedua kalinya. Aku langsung mengambil tasku dan berlari ke asrama untuk mencuci muka dan berdandan. Aku bahkan belum apa apa, kenapa pak Alung tak memberi tahuku dari tadi, tau gitu aku tak akan berlama lama di kamarnya. Aku terus menepuk nepuk bedak ke wajahku agar terlihat seperti habis mandi, dan langsung berlari cepat menuju kamar pak Alung lagi. Disana sudah ada ayah yang menunggu dengan pak Alung, mereka berbincang bincang, aku yang menyadari itu memberhentikan lariku dan mulai berjalan anggun seperti biasanya, tak banyak yang menyangka bahwa orang yang memiliki banyak kekurangan mampu merubah aku menjadi perempuan yang bersifat anggun, baik dan tak mudah di dekati.


Aku berjalan pelan dan mengahadap ke bawah, ayah yang menyadarinya langsung berdiri dan mengajakku untuk segera berangkat karna beliau harus menjemput anak ke lima dan ke enamnya, yaitu Armila dan Fawaid, di asramanya yang sangat jauh dari rumah. Aku dan ayah segera berangkat disusul pak Alung dengan kak Andre di belakang, ayah sengaja menjemputku karena atas permintaan pak Alung, pak Alung ingin mengenalkan adiknya satu persatu kepadaku.


Sesampainya aku di rumah ibu mertuaku. Seperti biasa, aku di antar ke ruang makan dengan pak Alung, ibu selalu menyambut kedatangan dengan banyak sekali masakan. Setelah makan aku berbincang bincang sebentar dan pamit untuk pergi ke kamar karna mengantuk. Aku tak tau awal aku diajak ke rumah karna akan di bawa ke asrama adiknya. Dari kejauhan ibu menyuruh pak Alung untuk membangunkan ku agar segera ikut ke mobil, namun pak Alung tak mau karna takut aku akan kecapean.


" Lung, itu Cece bangunin, dia mau iku apa nggak?. " tanya ibu.


" Udah lah bu, Cece biarkan dirumah dengan saya, dia kelihatan sangat cape karna pulang sekolah selalu jalan kaki.


Ibu pak Alung yang mengerti akan keadaanku tidak tega untuk membangunkanku. Tapi pak Alung pergi ke kamar dan membangunkanku dan menanyakan hal tersebut.

__ADS_1


" Ce, kamu ikut gak ke asramanya Armila dan Fawaid?. " Tanya pak Alung. Aku membuka mataku terlihat remang remang wajah pak Alung yang sedang menatapku. Aku menjawab tidak karna aku sangat kecapean sekali, akhirnya pak Alung juga memutuskan untuk tak ikut karna beralasan menjagaku di rumah. Setelah lama pak Alung menunggu ke berangkatan mereka, tiba tiba pak Alung memasuki kamar tempat di mana aku tidur.


" Ce, kok setiap tidur pasti wajahnya di tutupi oleh bantal? emang kamu gak kepanasan ya kalau gitu?. " tanya pak Alung membuatku terbangun kembali. Aku hanya menggeleng gelengkan wajahku dan membenamkan wajahku di bawah bantal untuk mulai tidur lagi. Brak, pintu depan rumah dibuka, Safa datang mencari hpnya yang ketinggalan di kamar pak Alung. Pak Alung segera keluar untuk mengecek siapa yang datang.


" Kenapa dek?. " tanya pak Alung.


" Ini ambil hp. " jawab Safa singkat sambil meraih hpnya dan kembali berlari sembari menutup kembali pintu yang tadi dia buka. Pak Alung berdam diri dan memasuki kamar lagi, membuka bantal yang aku gunakan untuk menutupi wajahku.


" Sudah pak, jangan, saya ndak mau, saya masih baru bangun tidur. " kataku. Akan tetapi pak Alung yang mendengar penolakan dariku semakin menjadi. Dia memarahiku dan terus menciumku sampai aku mengaku kalah.


" Iya Abi, Abi, Abi. udah kan? puas?. " tanyaku dengan kesal. Kekesalanku malah dibuat lelucon olehnya. Sebenarnya aku mau saja jika pak Alung menciumku, namun aku takut jika adik keduanya yang berada dikamar sebelah mendengar, dia tak ikut menjenguk adik adiknya karna dia sibuk oleh kuliah.

__ADS_1


Selesai pak Alung melakukan itu padaku dia mengajakku untuk menonton tv bersamanya. Memang dia itu watados, wajah tanpa dosa. Sudah menciumiku secara paksa masih saja tak mempunyai rasa malu, apakah urat malunya sudah putus, yah walaupun aku tak dipaksa pun akan mau jika di cium dengannya. Aku dan pak Alung menonton tv bersama, dai kejauhan suara sepeda motor berbunyi, tanda adiknya sudah berangkat pergi ke kampus. Pak Alung tetap tenang dengan posisinya yang sekarang. Memelukku dari belakang sambil menonton tv di temani dengan secangkir es teh dan camilan. Kurasa dia kegilaannya memang terlalu nampak walau tak di ungkapkan.


Sampai sore hari keluarga pak Alung masih sj TK ada yang terlihat, mereka belum pulang dan aku sudah waktunya pulang ke asrama.


" Nanti kamu di antar Meyla pulang, dan nanti habis petang saya berangkat ke asrama seperti kemarin. Aku hanya mengangguk anggukkan kepalaku dan kembali menonton tv. " Apakah ada pikiran untuk mandi berdua?. " tanyanya. Apa apaan ini, pertanyaan yang tak masuk akal, dia menggodaku secara terang terangan bukanlah hal yang baik, gila aja aku jika mau dengan tawaranmu. Aku mendengus kesal sambil melanjutkan acara nyemilku, bahkan seribu kali kau ajak pun aku tak sudi. Pak Alung tertawa puas dengan responku terhadap pertanyaannya, dia memang niat mengerjaiku ya.


Kali ini kedatangan kak Andre sedikit telat, menjadikan aku dan pak Alung pulang secara bersamaan karna Meyla sudah datang duluan. Kali ini ditengah perjalanan aku mendapat panggilan mendadak, Syifa memintaku untuk cepat datang ke asrama karna dia ketahuan dengan guru yang menjadi kekasihnya itu. Syifa memang selalu beralasan bahwa les bimbel untuk brangkat subuh ternyata tau tau dia di rumah kontrakan gurunya tersebut, mana ada logikanya waktu sholat subuh dibuat untuk berangkat sekolah, aku memang suka bohong, tapi aku memakai logika unik sedikit tak ketahuan. Syifa meminta bantuan dariku untuk membebaskannya dari hukuman ayah dan pengasuh, tapi sayangnya aku sudah tak bisa berbuat apa apa lagi.


Tiba tiba ada panggilan lain bahwa kumpul untuk pembelajaran di rumah pengasuh. Aku tak paham mana info yang benar dan mana yang salah, tapi aku mengatakan pada Meyla untuk cepat cepat sampai ke asrama karna akan ada kumpulan lagi di rumah pengasuh, sepertinya pengasuh sengaja pada saat aku berangkat ke rumah pak Alung, karna pengasung sangat jelas terlihat bahwa tak menyukai pak Alung.


Sesampainya aku diasrama langsung mengambil kunci motor Koko, Koko tak ingin aku telat ke rumah pengasuh dan membuat dirinya malu, aku takut berangkat sendirian, untung saja Nissa dan Eza belum berangkat ke rumah pengasuh juga, dan aku berangkat bersama mereka untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2