Mendung

Mendung
Kepindahan Syifa


__ADS_3

Aku menaiki motor bertiga dengan mengebut karna sangat mepet sekali waktunya, kita bertiga terus kebut kebutan sampai dapat teguran dari orang orang yang berada di jalan, tapi Nissa yang mengendarainya tak menghiraukan klakson motor dan mobil milik orang lain, yang terpenting sekarang bagaimana caranya pengasuh tak marah kepada kita bertiga itu saja sudah cukup. Aku menuruni sepeda motor dan bergegas, Eza masih di parkiran untuk menunggu Nissa memarkirkan motorku, aku tak bertanggung jawab atas motor kakakku sendiri. Aku memasuki ruang tamu pengasuh, ternyata pengasuh masih belum datang ke ruang tamu walau anak anak sedang menunggunya, pengasuh memiliki jadwal makan malam dengan istrinya.


Setelah beberapa menit kedatanganku, pengasuh tiba di ruang tamu dengan menggunakan bajunya seperti biasa, ya bagaimana kalau tak memakai baju, bisa bisa semua anak yang ada akan menertawakan dirinya.


" Assalamualaikum, hari ini saya mengajak bertemu pada jam 21:00 WIB, karna ingin mengetahui sampai manakah pemahaman kalian mengenai sastra Arab. " jelas pengasuh dengan menengok kanan dan kiri.


" Sudah siap semua?. " tanya pengasuh dengan santai.


" Siap Abi. " jawab semua anak dengan serempak. Mereka memanggil pengasuh dengan sebutan Abi, sama persis dengan sebutan yang aku berikan kepada pak Alung, paling tidak sebutan dariku mempunyai makna lain untuknya.


" Cari hadist tentang menjaga tangan dan mulut, hafalkan hadistnya beserta keterangan perkata dan pengertiannya. " kata Abi pengasuh dengan jelas. Anak santri putri sibuk mencari hadist tersebut di google, dan memberikannya kepadaku. Karna pak Alung akan mendahulukan pertanyaanku dari pada anak yang lainnya. Setelah menemukan hadist dan bertanya tentang isi dan makna dari perkata, anak anak perempuan mengatakan bahwa misi sudah selesai.


" المسلم adalah kalimat apa ayo Aul."


Abi pengasuh menunjuk mbak Aul.


" Kalimat isim bi. " jawab mbak Aul singkat.


" Aul boleh pulang tapi menunggu temannya yang sudah betul dalam menjawab soal, saya tak mau jika kamu pualng duluan. " jawab Abi pengasuh.


Sebenarnya aku tak mempercayai itu, aku paham pasti pengasuh akan menanyakan kepadaku terlebih dahulu atas hadist tesebut dan ya benar apa dugaanku, Abi pengasuh menunjukku untuk maju ke depan, tantangannya jika aku bisa menjawab dengan benar aku akan pulang dengan senang hati.

__ADS_1


" المسلم مَن سلِم المسلمون مِن لسانه و يده. "


bacaku.


" Orang muslim yang selamat adalah orang yang menjaga lisan dan tangannya. " jawabku.


" Kurang jelas. " Sahut Abi pengasuh. Aku terdiam dan menunduk, pak Jauhari yang duduk disamping Abi pengasuh mengisyaratkan kepadaku bahwa kalimat itu jamak dengan memakai bahasa halus. Karna pak Jauhari tau bahwa hanya aku yang paham dengan bahasa halus, aku yang menyadarinya langsung tersenyum dan menjawab.


" Barang siapa muslim yang selamat adalah orang yang menjaga lisan dan tangannya dari orang orang muslim. " jawabku dengan mata terpejam, memikirkan apa yang akan terjadi jika aku menjawab ini.


" Pulang dengan Aul. " kata Abi pengasuh. Yeay, akhirnya aku lolos dengan soal yang menjeratku. Semua mendengus kesal karena aku dan Aul bisa tidur tenang walaupun sudah jam 00:00 WIB.


" Ngawur kamu ya mbak, itu Abi, kamu ini, bisa bisa gak pulang kamu suruh nguras air kolam. " kata Aul yang menyadarinya. Aku langsung menutup mulutku karna ketakutannya.


Aku dan Aul mengendarai sepeda motor berdua milik kakakku, karna kakakku bolos pertemuan hari ini. Koko sering kali hanya mengahadiri di awal dan pergi di pertengahan acara, dia sangatlah tak mempunyai aturan.


" Hati hati dijalan, jangan ngebut ngebut nak. " kata Abi sambil terus melihati kepergian ku bersama Aul. Aul sedang mengendarai sepeda motor kakakku, aku sibuk memainkan hpku karna pak Alung terus terusan saja menghubungi kapan aku akan pulang, dia tak mau jika aku tam menemaninya setiap hari, dia terlalu manja. Sesampainya aku menunggu Aul memarkirkan motor, aku langsung masuk meninggalkan Aul yang menunggu bibi, pacarnya untuk pergi jalan jalan berdua, mereka berdua memang extream.


Aku melihat Syifa menangis di samping tempat tidurku.


" Mbak Cece, aku ketahuan Abi. " kata Syifa, hanya kata kata itu yang di ulanginya terus menerus. Sebenarnya aku sangat kasihan dengan dia, tapi aku tak punya cara lain karena itu adalah balasan.

__ADS_1


" Siapa yang ngaduin kamu Syif?. " tanyaku.


" Aul dan mba Icha, mereka kan iri dengan aku mbak. " jawabnya sambil menangis. Dia membereskan baju bajunya dan akan pindah ke rumah Abi pengasuh karna ayahnya juga ada disana.


" Yang sabar ya Syif. " kataku untuk menguatkan Syifa.


Mereka bertiga kan saudara, kenapa bisa mbak Aul dan mbak Icha mengadukan Syifa yang berangkat sekolah pagi, terus bagaimana mereka yang bahkan jalan tak kunjung pulang dan menginap di kontrakan pacarnya, kan gak baik juga, yah walaupun aku juga melakukan hal yang tak baik dengan pak Alung. Aku terus menepuk nepuk bahunya dan membantunya berkemas kemas, aku tak bisa membantunya lebih dari ini, semuanya sudah terjadi begitu saja.


" Aku mau ke kamar pak Alung dulu ya. " kataku, dibalas anggukan oleh Syifa.


Sepertinya mulai ada aku anak asrama memiliki kebiasaan itu, apakah aku terlalu mempengaruhi mereka. Aku berjalan meninggalkan Syifa dan berjalan menuju kamar pak Alung, Pumpung anak anak belum pulang setidaknya aku makan bersama pak Alung.


Pak Alung menungguku di depan pintu dan bersiap untuk masuk ke dalam kamar setelah melihatku dari kejauhan. Aku melewati pintu dan masuk ke dalam kamar pak Alung, pak Alung langsung menyeretku duduk ke kasur dan mengunci pintu, dia menyandarkan kepalanya ke bantal dan mulai saling bercerita bagaimana kehidupannya di masa lalu. Pak Alung sempat mengakui bahwa dia pernah berpacaran dengan janda saat dia menjadi berondong dulu, masa lalu yang tak pernah aku pikirkan. Ternyata betul ya, cinta itu tak memandang usia.


Aku mengikutinya menyandarkan kepada di bantal, aku dan dia bebaring bersama. Tak melakukan apa apa, hanya memelukku dan menceritakan masa lalu tentang alur cerita cintanya. Tiba tiba terdengar suara sepeda motor saling bersahutan, anak anak asrama sudah pulang, aku yang mendengarnya langsung terbangun dari kasur dan berpamitan pulang ke kamar, pak Alung dengan berat hati melepaskan aku pergi ke asrama, setidaknya pak Alung mempunyai sisi baik agar aku tak terkena masalah karna berduaan dengan dirinya.


Sesampainya di asrama semua anak membicarakan Syifa, Syifa hanya terdiam dan terus menangis.


" Bagaimana jika kamu pergi, aku akan tidur dengan siapa Syif?. " tanyaku kepada Syifa.


" Kamu tidur dengan Rosa ya, kamu hati hati mbak. " kata Syifa dengan wajah memelas. Ternyata Rosa sudah merapikan barangnya di lemari samping tempat tidur Syifa.

__ADS_1


__ADS_2