
Aku berjalan dengan cepat ke ruangan pak Alung, aku takut di lihat pak satpam itu, dia selalu memperhatikan tingkah lakuku tak wajar seperti seorang paparazi. Aku menaiki dua anak tangga dan membuka pintu pak Alung. " Ce, kamu sudah disini, Ce, kamu mau makan apa nggak?. " tanya pak Alung, aku yakin yang lapar tuh bukan aku tapi nih orang satu, pikirku. Aku berjalan mendekatinya, sangat tak punya sopan santun walau dia guru ataupun kekasihku kedatanganku bukannya malah di sambut atau di sayang dulu kek malah di tanya makan, emang dia aja apa yang lapar, saya nggak gitu? tanyaku dalam hati kecil.
__ADS_1
" Hmm, iya saya mau makan, mau makan apa? saya mau ke kamar ngambil uang dulu. " jawabku dengan membalik badan dan tanpa menghiraukan pak Alung sama sekali. Aku berjalan kesal dan mendengus beberapa saat, aku tak suka di buat melakukan hal sampai dua kali jalan itu pakai kaki, kaki juga pakai otot, otot kan butuh tenaga, gumamku tak selesai selesai di buatnya. Brak brak brak brak, ku banting semua isi lemari ku karna jengkel kepada pak Alung, moodku hilang secaa tiba tiba karnanya. Pak Alung sangat lihai dalam memainkan peran, bahkan dia sangat hebat dan bisa memutar mood seseorang, dari yang good mood jadi cuiy dan dari yang cuiy ke good mood.
__ADS_1
Aku meraih kunci motor dan bergegas ke warung pecel langganan, aku tadi meninggalkan pak Alung tanpa menunggu jawaban darinya kita bakal makan di mana dan kapan makannya, aku tak suka di buat menunggu jadi aku melakukan apa yang sekiranya tidak membuat hatiku jengkel. Brummm, sesampainya aku di warung pecel, ibu pecel sudah menyambutku dengan senyuman manis seperti biasanya, beliau tau bahwa kedatanganku adalah sumber rezeki bagi dia, ehehe. " Hari ini berapa bungkus dek?. " tanya Bu pecel kepadaku. " Dua bungkus dulu Bu, sama rempeyek dan ini jajanan yang pahit juga gorengannya. " kataku memesan makanan. " Bu, tambah es ya, anu esnya diminum disini. " imbuhku.
__ADS_1
" Ini dek. " kata Bu pecel membuyaran lamunanku sembari meletakkan es jeruk di depanku. Aku meraih es jeruknya dan meminum dengan seruputan yang panjang, tanda aku sudah sangat lelah dengan keadaan ini dan pak Alung terus terusan mendesak ku agar orang tuaku menyetujui hubungan kita berdua. Aku menaiki sepeda motor setelah sruputan terakhir selesai, aku langsung memberikan nasinya kepada pak Alung dan makan dengannya, tak ada kejadian spesial antara aku dan pak Alung waktu itu. Aku berjalan menuju kamar karna anak anak sudah banyak yang pulang, ada acara kirab jadi semua murid di sekolah di pulangkan dengan cepat.
__ADS_1
Sore harinya, aku, Nisa dan Eza pergi ke mall untuk jalan jalan bertiga. Aku pergi bersama mereka untuk membuat jernih pikiranku walau sebetar, kita bertiga hanya izin ke pak satpam tanpa izin ke pak Alung, mereka tau jika aku izin ke pak Alung akan menjadi Mala petaka bagi kita bertiga.
__ADS_1