Mendung

Mendung
Awal Mula Mendung Datang.


__ADS_3

Aku yang sibuk bercanda dengan mbak Aul tak melihat Koko yang sedari tadi mencurigai aku dengan tatapan yang tak menyenangkan. Dia menyadari aku pulang terlambat hari ini, tanpa pamit ke Koko dan tanpa meminta uang jajan tambahan. Menurut Koko itu aneh, aku yang selalu tak pernah telat meminta uang, makanan dan antar jemput tiba tiba menghilang. Aku membenci sikap kakakku yang terlalu jujur dan amanah.


Aku kecolongan meliriknya, mau tak mau aku menjawab pandangan menyeramkan darinya dengan senyuman, maafkan aku. Koko yang melihatku langsung geleng geleng kepala karna melihat tingkahku. Aku dan Koko lahir dan besar secara bersamaan. Kita saudara, tapi seperti tak mengenal satu sama lain. Perbedaanku dengan Koko sangatlah jauh, aku dari kecil memiliki sifat yang keras tapi Koko adalah orang yang pendiam, dia tak mau ikut campur kecuali dia diseret dalam masalah tersebut.


Syifa, temanku dan juga keponakan dari pengasuh. Melihat aku semakin dekat dengan pak Alung membuat dia mendekatiku juga, tak masalah kalau dia membawa niat baik. Dia menyukai Koko, mungkin wajar saja jika dia mendekatiku. Syifa selalu mengajakku membeli makanan, untuknya dan terkadang untuk gurunya. Dia senasib seperjuangan denganku, dia mencintai gurunya dan dia dikucilkan di asrama karna tingkah dan kecantikannya. Dia sedikit plin plan sepertiku dalam masalah cinta, dia sering menyatakan cinta kepada Kokoku juga masih sering memikirkan mantannya, pun juga dia memiliki hubungan khusus dengan gurunya.


Sebenarnya kalian akan tau, bahwa mbak Icha dan mbak Aul lah yang jahat, untuk saat ini. Mereka selalu cari muka pada pengasuh, melaporkan murid putra maupun putri yang berpacaran. Tapi anehnya mereka sendiri yang selalu keluar malam, jalan dengan pacar mereka masing masing. Itu tak adil bagi anak anak, bahkan anak putri tak mau terlalu dekat dengan anak putra karna takut ada kesalah fahaman yang akan menjalur ke pengasuh.


Hari telah berganti, mingguan telah pergi, dan disambut mingguan yang datang. Masih dengan bulan yang sama, Zahra adalah adik sepupu dari Syifa, mereka membagi uang jajan dan uang selalu dibawa Syifa. Seperti aku dan kakakku, namun bedanya Syifa keras terhadap Zahra, bahkan jika adiknya jajan berlebihan atau pulang telat selalu Syifa meneriakinya walaupun didepan anak anak lain, itu membuat Zahra semakin kesal oleh Syifa.


Kedekatan ku dengan Syifa semakin terlihat di depan anak anak, dari hal kecil misalnya makan bareng dan tidur bareng. Aku berpindah kasur, dan menetap di samping kasur Syifa. Dia membelikanku hijab dan senang dengan cara berbicara ku.


Aku memulai sekolah setelah seminggu tak memasuki sekolah, aku jarang sekali masuk sekolah dengan alasan menemani pak Alung.


" Habis dari mana, kok gak sekolah lagi?. Tanya Dinan. Dia menghabiskan waktu untuk mengikuti ku dimanapun aku berada, seperti halnya anjing kecil peliharaan. Dia mengikutiku berjalan menuju kantin sekolah.

__ADS_1


" Buk pesen baksonya lima ribu sama cekernya enam ribu ya, sama minumnya es teh. Trus tambahin tahu waliknya dong bu, tapi dipisah sama bakso dan cekernya ya. " pesanku.


Dinan terus mengikutiku sampai aku duduk, dia membuatku risih sampai aku menanyakan kenapa dia selalu mengikutiku.


" Aku gak bawa uang tadi Ce, ketinggalan. hehehe " ujarnya. Aku dengan muka masam melihat pangeran siput yang sok manis ini, membuatku mau tak mau membelikan untuknya bakso dan ceker seporsi denganku.


" makasi ya Ce. " ungkapnya sambil mengambil sendok dan garpu.


Semua anak laki laki di warung melihatku dan berbisik, bukan karna aku mentraktir pacarku, tapi mereka sibuk dengan makanan yang aku beli, mereka tak menyangka bahwa porsi makanku cukup banyak untuk kalangan perempuan dan membuat mereka tercengang. Yah jelas mereka tak mengira, wanita secantik aku dengan makanan versi Buto ijo itu.


Selesai aku makan dan membayar, aku langsung beranjak pergi dengan jempol jempol anak laki laki yang melihatku mampu menghabiskan tiga porsi tersebut. Dinan tak menghabiskannya, membuatku malu karna terlihat seperti orang yang sudah berhari hari tak makan. Aku mencubiti tangan Dinan karna tak mau menghabiskan makanan, dia hanya mampu merintih kesakitan dan tertawa.


Sebenarnya aku cukup takut membawa sepedah ke jalur kota, tapi akan lebih menakutkan lagi jika aku menyebrangi kota dengan tangan kosong. Aku melajukan sepeda dengan kecepatan seperti biasanya. Memesan makanan untuk pak Alung dan segera pulang untuk makan bersama, romantis kan?, ini hanya permulaan.


Sore harinya, aku cepat cepat mandi setelah sholat ashar, mereka sholat sendiri sendiri diasrama, begitu juga aku. Sholat yang diwajibkan jama'ah adalah subuh dan maghrib, subuh untuk mengontrol bangunnya anak anak dan maghrib untuk mengontrol kelupangan anak anak dari sekolah. Dzhur dan ashar tak diwajibkan karna anak anak masib berada disekolah, jadi sholat tidaknya itu kewajiban pihak sekolah. Isya anak anak sering pergi kerkol, karna itu di biarkan sholat diasrama yang lagi sibuk.

__ADS_1


Aku berjalan menghampiri pak Alung untuk menanyakan perihal makan sore, tapi pak Alung masih mengajari murid murid kecilnya. Aku diam dan mengawasi pak Alung disampingnya.


" Pak saya pinjam hpnya boleh?. " tanyaku.


" Buat apa?. " tanyanya balik dengan curiga.


" Buat main main pak. " jawabku. Pak Alung memberikan hpnya dan passwordnya. Sedikit mencurigakan dari gerak gerik pak Alung, seakan akan ada rahasia terselubung didalam hp ini saat aku mulai memegangnya.


" Saya ke kamar pak Alung dulu ya pak, nanti pak Alung nyusul saja dikamar. " kataku sembari meninggalkan tempat. Awalnya aku tak mencurigai apa apa, tapi dengan tingkah lakunya membuat aku semakin curiga, wajahnya begitu pucat saat aku memegang hpnya. Aku memeriksa semua isi pesan WhatsApp nya, kontak hpku hanya dinamai Cece, tidak ada tambahan ku ataupun tersayang. Hanya nama Cece, begitu saja.


Oke tak masalah, aku akan mulai memeriksa galeri hp pak Alung, tak seorangpun perempuan di hpnya, hanya foto keluarga dan fotonya Armila, adik pak Alung. Brakkkk. Tiba tiba suara pintu, aku menghampirinya. Ada pak Alung dibaliknya, kenapa dia disini, dia hampir terjatuh dan berusaha memegangi pintu, jadi suara itu timbul dari situ.


" Cece, jangan kamu chatt Ativ ya.! " seru pak Alung. Aku dibuat kaget olehnya, kenapa tiba tiba dia bilang mbak Ativ, apakah ada yang disembunyikan oleh mbak Ativ dan pak Alung dibelakangku.


" Iya pak, nama kontanya mbak Ativ apa ya disini. " tanyaku.

__ADS_1


" Namanya Vita, tolong jangan di chatt ya, saya mohon. " katanya. Aku langsung mengiyakan kata kata pak Alung dan beranjak naik ke kasur meninggalkan pak Alung yang ada didepan pintu.


Pantas saja tak ada dikontak, ternyata namanya dibalik.


__ADS_2