Mendung

Mendung
Jangan Dekati Dia


__ADS_3

Sesampainya aku di asrama, aku terus melakukan hal yang baru saja terjadi, hatiku sangat terheran heran karna aku tak menyangka pak Alung akan mendaratkan ciuman gorilanya. Mbak Icha terheran heran kenapa aku melamun hampir satu jam lebih sambil memegangi bibirku yang kecil.


" Ce, kamu kenapa? ", tanya mbak Icha yang sedari tadi memperhatikan ku.


" Gak papa mbak ", jawabku sambil melepas lamunanku yang sedari tadi membuatku tak bisa berkata apa apa.


" Yuk ikut aku beli makan, nasi tempong di samping hotel mewah itu tuuuhhh ", kata mbak Icha yang sadar akan masalahku. Tanpa mengatakan iya aku langsung mengikuti mbak Icha dari belakang menuju sepeda motornya. Diperjalanan mbak Icha berusaha menenangkan ku dan memberikanku motivasi motivasi agar aku bangkit lagi. Sebenarnya mbak Icha paham apa yang sedang aku alami, entah dari mana, tapi hal itu ditunjukkan dari gerak gerik dia yang berusaha membuatku membahas orang tua agar aku menjadi senang kembali.


Sesampainya di warung, mbak Icha langsung beli makanan yang banyak untuk dibawa pulang. Kali ini aku tidak membeli makanan di mbak Inoot, karna mbak Inoot harus menjemput Imelda, anak SD yang dititipkan kepada mbak Inoot oleh orang tuanya, dititipkan untuk antar jemput maksutnya. Setelah memesan begitu banyak makanan yang ada di warung, baik dari ayam geprek, Thai tea, nasi tempong, dan bakso. Semua kita bawa pulang ke asrama untuk pesta antara aku dan Mbak Icha tentu nya.


Diasrama.


" Ce, ini makanannya aku langsung bawa ke atas kasur, kamu ambil air di bak buat cuci baju, bersihin dulu lalu isi air, buat kita cuci tangan nanti! ", seru mbak Icha menyuruhku.


" Woke boskuu ", jawabku singkat berarti mengiyakan tersebut mengundang tawa anak satu asrama, karna dengan nada yang alay ala aku, semua senang akan candaan yang sering aku berikan kepada mereka.


"Nananana ", nyanyiku, sambil membersihkan bak baju yang kecil untuk diisikan sedikit air. Aku membawa air dalam bak tersebut menuju ke kasurku sambil bernyanyi dengan suara sumbangku.


Aghhhh, memang suaraku ini jelek, tapi banyak yang akan merindukanku tentunya, dengan pdnya aku memikirkan itu sambil senyum senyum tipis.


" Cepat Ce, kamu ini lama sekali. " kata mbak Icha sambil berteriak karna tingkahku yang konyol. Sesaat kita hendak membuka bungkusan nasi tersebut, mbak Aul datang dengan marah marah, karna kakaknya tidak mengajaknya makan. Ya, mbak Aul adalah adik dari mbak Icha.


" Huuhhh mbak Icha ini ya kebiasaan kalau makan gak ngajak aku, dasar! ", marah mbak Aul terhadap mbak Icha.


" Udah jangan berisik, kalo laper ayo ikut, ngapain banyak omong sih, nyusahin aja kamu tuh!! ", jawab mbak Icha yang agak ketus karna adiknya yang terlalu manja itu. Ditengah tengah aku makan, hpku berbunyi dengan kerasnya.


💌


pinkkkk pinkkk


Pak Alung: Ce, kamu sudah makan ya?.


Tanpa pikir panjang aku menjawabnya dengan sangat jujur.

__ADS_1


Aku: ini lagi makan pak sama mbak Icha dan mbak Aul.


Setelah membalas chatt dari pak Alung, mbak Icha yang menyadari hal tersebut langsung membuka percakapan ditengah makan kita.


" Ce, sebaiknya kamu jauhin dia, dia gak baik ", dengan nada ketus mbak Icha mempetingatiku. Aku yang mendengar perkataan mbak Icha hanya berani mengangguk dan melanjutkan makanku.


Apa sih mbak Icha ini, wong saya yang Deket kok dia yang sewot, jangan jangan mbak Icha suka sama pak Alung?, tanyaku dalam hati masih terngiang ngiang di kepala.


pinkkkk pinkkk


Pesan dari pak Alung berikutnya pun sudah sampai di hpku, aku yang semakin panik setelah mbak Icha mengatakan tersebut. Aku perlahan membuka hpku lagi, berlagak seperti tidak ada apa apa.


💌


Pak Alung: kamu makan kok gak ajak ajak saya Ce, kamu ngeremehin cinta saya ke kamu ya Ce, kamu jangan kaya gitu Ce, kamu ini jadi orang gak ada rasa menghargai apa ya Ce?.


Anjiirrtt, aku yang gak tau apa apa tiba tiba dimarahin, dasar guru letoy, ejekku. Merasa seperti apa yang terjadi seperti Dejavu. Apakah aku ini mimpi, pikirku lagi sambil terheran heran.


💌


Aku membalasnya dengan kata permintaan maaf, tapi dia yang tidak tau diri malah tetap terus mengungkit ku.


💌


pak Alung: kamu tadi keluar sama Icha kan?, kenapa harus sama dia?, dia itu orang gak baik!, tolong jangan dekati Icha atau kamu akan dapat masalah.


Kok pak Alung memarahiku karna dekat dengan mbak Icha, ada apa sebenarnya dengan pak Alung dan mbak Icha?. Apakah mereka pernah menjalin hubungan cinta lalu putus?, asusahlah.


" Ce, cepat makan, jangan lihat hp saja ", kata mbak Icha kembali lembut denganku. Aku masih saja terheran heran, kenapa?, ada apa sih sebenarnya?. Aku kembali melanjutkan makan ku, mbak Aul dan mbak Icha yang sedari tadi makan tanpa henti sudah selesai, mereka mengemasi sisa makanan mereka ke tempat sampah, dan akupun mengikutinya. Setelah aku membuang sampah, punggungku ada yang menepuk.


puuukkkk.


" Mbak Cece, yuk jalan jalan, aku gabut nihh ", kata Nisa, orang yang menepuk punggungku.

__ADS_1


" Emang boleh jalan ya sama pak Alung? ", tanyaku kepada Nisa. Nisa hanya menganggukkan kepala lalu melewatiku untuk bergegas ke kasurnya ganti baju, aku menunggunya di depan kantin mbak Inoot.


" Joommm, mbak Cece, saya bawa Eza ya, kuyyy ", tambah Nisa sembari berjalan diikuti oleh Eza dari belakang. Aku kira perjalanan akan seru entah kemana, kalian tau?, aku diajak jalan hanya untuk beli bubur sumsum yang ada di gentong besar itu. Tapi ditengah jalan aku dapat semangka sama orang yang gak aku kenal.


Hehehe, rezeki anak solekhah, teriak batinku dengan semangat. Kita bertiga tak langsung pulang, tapi hanya cari angin dan beli ayam geprek kesukaan mereka, tentunya aku juga suka.


Karna aku, Cece si doyan makan tanpa takut gendut, hahaha, aku memang orang yang terlalu pd.


Setelah berlama lama aku diajak lagi untuk membeli es cappucino cincau, mungkin kalian pikir aku tidak ada berhenti untuk makan, bukan?. Itu alasan orang tuaku membiarkanku diasrama, karna mereka sebal melihatku bolak balik di dapur bahkan tengah malam terbangun. Mungkin mereka sekarang menyesal karna membuatku tinggal diasrama. yupppss, aku menghabiska uang orang tuaku, bahkan uang saku Koko pun aku embat saja. Nenekku sangat menyayangiku, walaupun dia tidak suka melihatku makan sampai lima hari sekali, tapi dia juga tidak tega untuk tidak memberiku uang di asrama. Aku menghabiskan minimal lima ratus ribu per Minggu, hebat bukan.


Mungkin orang dirumah sekarang sedang memaki makiku, hahaha, tak masalah, ini kan yang mereka inginkan, pikirku dengan senang.


Setelah kita lama berjalan jalan, akhirnya waktu pulang ke asrama pun tiba, didepan kantin mbak Inoot banyak sekali anak anak yang ngumpul ngumpul.


" Ada apa mbak? ", tanya ku yang penasaran karna tumben sekali anak anak ngumpul.


" Ini Ce, lagi ngomongin pak Alung ", kata mbak Icha tegas. Aku tak mengira mereka bisa menggosipkan guru mereka sendiri, mungkinkah gerak gerik pak Alung mendekatiku sudah tercium oleh anak anak asrama?.


" Mbak Icha, bukannya pak Alung masih ada hubungan sama mbak Ativ ya? ", tanya Nisa.


Kelihatannya mereka semua memojokkanku, pikirku dalam dalam.


" Sebenarnya pak Alung Masi berhubungan dengan Ativ, Ativ sendiri kok yang bilang ke aku, bahkan sampai sekarang! ", seru mbak Icha kepada semua teman teman yang mendengarkan.


Ternyata itu alasannya mbak Icha tidak membolehkan ku dekat dengan pak alung, wahhh gawat juga nih kalo masih punya pacar, pikirku lagi dengan perasaan kecewa.


" Tapi mbak, bukannya pak Alung dekatin mbak Cece? ", tanya Nisa dengan keponya.


" Aku juga gak tau masalah itu Nis, tapi yang jelas kata Ativ dia masih tetap dengan pak Alung ", imbuh mbak Icha. Aku yang mendengar itu langsung menyahut omongan mereka.


" Apa sih, aku kan gak mau sama pak Alung ", sambil ku berjalan menuju kamar. Sungguh hatiku tiba tiba kecewa mendengar perkataan teman temanku.


Pak Alung, kenapa bapak seperti ini kepada Cece?, pak Alung tega permainkan hati Cece, padahal dihati Cece mas Surya sudah tak ada lagi, sedihku.

__ADS_1


__ADS_2