Mendung

Mendung
Dinan.


__ADS_3

Tamara yang terlihat sombong akhirnya menurunkan harga dirinya yang terlalu mahal itu. Dia berkata ingin menjadi temanku, teman baikku. Akhirnya aku yang berhari hari tak mempunyai teman seorangpun, kini semua mata tertuju padaku. Aku anak baru yang berani melabrak ketua geng di sekolahan menjadi perbincangan semua kakak kelas. Tapi tenang, guru guruku tak mengetahui itu, mereka hanya tau aku anak yang manis dan sopan.


Setelah hampir setengah hari aku berada di sekolah, akhirnya waktu pulang ke asrama tiba. Pukul 13:30 WIB, aku memulai berjalan kaki. Aku merasa kasihan dengan diriku sendiri, disaat semua temanku menaiki kendaraannya sendiri sendiri, aku hanya berjalan kaki seorang diri.


Dari kejauhan ada suara motor mendekat, terdengar pengendaranya memanggil manggil namaku. Mungkin ada barangku yang tertinggal disekolah, pikirku. Saat motor itu mendekat, ternyata dia adalah laki laki yang populer di sekolah, dari kalangan kakak maupun adik kelas mengejarnya, seperti pangeran kan?.


" Cece, bareng aku yuk?, aku lagi sendiri nih. " ajaknya. Aku tak menyangka, dia pangeran sekolah mengajakku pulang bareng.


" Ini kan bukan arah pulang kamu, kenapa lewat sini?." tanyaku balik kepadanya. Rumah dia dekat dari sekolah, tak sampai satu kilo. Tapi dia memilih jalan yang lebih jauh, bukankah merasa aneh kalau bukan aku yang nanti jadi alasan dia untuk pulang telat kerumah biar tak dimarahi ibunya.


" Aku pengen aja lewat jalan sini, mau ke tempat tinggalnya Ni'am, jadi sekalian ngajak kamu, kan kamu jalan kaki. " jelasnya. Baiklah pikirku, hanya untuk sekali kan?, lagian dia teman kelasku. Akupun yang mulai menaiki sepeda motornya dia disambut teriakan anak anak yang histeris.

__ADS_1


Wuuuuuuu, ciyeeeeeee. Teriak mereka semua dengan alay. Dan juga disambut dengan lirikan sinis oleh Venny, kakak kelasku. Dinan tak menghiraukan, dia mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. namanya Ferdinan, tapi aku memanggilnya Dinan. Sebutan khusus hanya aku yang boleh memanggilnya begitu.


Dinan, seperti halnya mas Surya. Dia tenar dikalangan anak perempuan maupun dikalangan guru. Dia murid favorite yang pintar dan penurut, hanya saja dia terkadang lebih sering memberontak pada saat jam jam terakhir disekolah. Semua murid tau kalau jam terakhir adalah masa masa paling menyiksa. Tapi jam terakhir tak menjadikannya dia di hukum, dia selalu lolos dari semua hukuman. Dia hebat, semua perempuan disitu menginginkannya.


Kita berdua melewati jalanan yang panjang dengan terdiam. Dia tak sempat menyapaku lebih karna dia fokus ke jalanan, dan aku malu untuk menyapanya. Hanya untuk memegang bajunya agar tak jatuhpun malu, apalagi menyapa pangeran siput. Sampai aku berada di pertigaan samping asrama aku menyuruh Dinan untuk memberhentikan motornya, aku takut pak Alung akan marah jika mengetahu aku pulang diantar Dinan.


" Dinan, berhenti disini aja ya,aku takut dihukum jika ketahuan pulang diantar olehmu. " kataku dengan pura pura ketakutan. Agar dia yakin, gimana lagi kalau aku benar benar ketahuan oleh pak Alung, bukannya aku habis di katain murahan nantinya. Dinan langsung menyetujui apa yang aku katakan padanya, dia tak ingin aku dihukum karenanya, nanti akan menjadi masalah yang semakin panjang.


Aku mulai berjalan meninggalkannya setelah turun dari motor, Dinan yang terus memandangiku dari kejauhan tak ku hiraukan, agar tak membuat kecurigaan pada pak Alung. Saat aku di tengah pintu gerbang Dinan mulai menyalakan motornya lalu pergi. Aku terus berjalan tanpa, sadar pak satpam dari kejauhan melihatku saat mengantarkan Eza pulang ke asrama. Memang semenjak aku mulai di asrama dia selalu memperhatikanku, terkadang dia menyapaku saat aku ditengah gerbang waktu pulang sekolah tiba.


" Mbak Inoot, lalapan satu porsi ama esteh, bawa kekamar ya mbak! " teriakku membuat teman teman kakakku berhenti sejenak dari makannya dan mulai melanjutkannya lagi. Tak lupa setelah kakakku dan teman temannya pergi, aku memesankan satu porsi lagi buat pak Alung. Dia pasti berfikir aku pulang sekolah bawa nasi, jadi aku belikan dikantin saja. Aku menghabiskan nasiku dengan pak Alung setelah sholat Jum'at dilaksanakan, aku dan dia selalu makan di masjid berdua.

__ADS_1


Kakakku kesal saat aku mulai dekat dengan pak Alung. Menurut kakakku, pak Alung adalah orang yang menjauhkanku dengan kakakku, bahkan keluargaku merasakan perbedaan sikapku secara perlahan itu. Papaku juga jadi sering marah karna aku jarang mengabari mereka, sampai sampai ibu tiriku ikut berbicara kepadaku agar aku lebih memperhatikan orang tuaku, baik papa maupun mama. Tapi semua yang mereka katakan kepadaku hanya masuk di telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.


Setelah sholat Jum'at, aku mendapat panggilan dari Millah, teman akrab Dinan dan juga teman akrabku. Dia mengatakan ku bahwa ada kerja kelompok, aku harus mengikuti mereka agar aku dapat nilai. Aku meminta uang kepada kakakku buat nyemilku saat mengerjakan tugas. Aku mengatakan kepada Mila kalau aku tak ada sepeda, dan dia menawarkan diri untuk menjempuku.


Aku izin pergi kerkol, tentunya izin ke pak Alung, karna semua hanya dia yang memberikan keputusan di asrama.


" Pak Alung, saya mau izin kerkol. " kataku singkat, namun dia mengartikan salah.


" Kamu ingin main main atau apa Ce?. " tanyanya penuh waspada, tapi aku terus meyakinkannya bahwa aku hanya kerkol biasa. Dia sempat menyuruhku untuk tak ikut kerkol hanya untuk menemaninya, tapi akurngatakan bahwa aku tak akan dapat nilai kalau aku tak mengikuti kerkol tersebut. Dengan berat hati pak Alung menginginkanku pergi dengan Millah.


Aku mulai curiga kepada Millah, kenapa dia membawa motor Dinan untuk menjemputku kerkol, apakan aku satu team dengan Dinan?. Aku takut kalau aku dipermalukan oleh Dinan gara gara nilai matematika ku yang jelek. Aku terus bertanya kepada Millah, kemana kita akan pergi. Namun Millah hanya menjawab kita akan segera sampai. Aku hanya diam saja melihat tingkah laku Millah saat membawaku ke tempat yang tak pernah sama sekali aku jangkau.

__ADS_1


" Kamu yakin Mil ngajak aku ketempat ini, ini tengah hutan lho!?. " tanyaku sedikit heran. Namun Millah yang hanya terdiam membuatku spontan mencubit pinggulnya.


" Apaan sih Ce, rese kali lho, kita mau kerumahku, Dinan dan Fanny dirumahku. " jelas Millah yang membuat hatiku sedikit lega. Setidaknya dia memberikan Jawaban kepadaku.


__ADS_2