
Will memberi penghormatan layaknya seorang ksatria yang mengabdi pada negara dan patuh terhadap pemimpinnya. Ares merasa ia harus mengikuti gerakan sang ksatria ikut memberi hormat.
Ratu Ajanta tersenyum.
Will mulai bicara.
“Wahai Yang Mulia Ratu, aku menemukan mereka di halaman istana. Mereka ingin menemui engkau ratu,” Jelas Will kepada Ratu Ajanta.
Ratu Ajanta mengangguk. Jemari tangannya bergerak.
“Ratu, namaku Ares dan yang berada di gendonganku adalah Felicia. Aku berasal dari Ibukota Deolinikia. Di sana pemerintah mengembangkan teknologi mengerikan. Ayah Felicia adalah seorang professor yang menciptakan diriku. Professor dan istrinya kini sedang dalam bahaya di sana.
Sebelumnya, kami juga sempat dikejar oleh pasukan khusus. Tapi akhirnya Aku bisa membawa Felicia keluar dari ibukota. Kami di sini ingin meminta pertolongan dan perlindungan dari ratu.
Kami juga ingin menolong professor dan istrinya tetapi karena kondisi kami seperti ini sangat mustahil. Terlebih kami hanya berdua dan Felicia masih terlalu kecil,” jelas Ares kepada Ratu Ajanta.
Ratu Ajanta mengangguk paham terhadap siatuasi yang dialami oleh Ares dan Felicia. Hatinya tersentuh melihat Felicia yang tak sadarkan diri di gendongan Ares. Akhirnya sang ratu memutuskan untuk menolong dan merawat mereka.
“Baiklah, setelah kupertimbangkan kau layak untuk mendapatkan perlindungan dari kerajaan ini karena kamu telah berjalan di jalan yang benar.
Aku akan memperbolehkanmu tinggal di sini sampai Felicia tumbuh lebih dewasa dan kalian bisa menyiapkan rencana untuk menolong professor dan istrinya,” Kata Ratu Ajanta dengan tegas.
“Terima kasih, Ratu,”
“Will, siapkan mereka ruangan untuk istirahat. Panggil Selly dan pelayan untuk merawat Felicia.
Sementara Ares nanti diantarkan ke bagian teknik untuk membenahi tubuhnya. Aku ingin mereka dalam keadaan yang baik esok nanti,” kata Ratu Ajanta kepada Will.
“Baik, Ratu. Siap melaksanakan tugas,” Jawab Will patuh.
Mereka meninggalkan aula besar. Will menunjukkan sebuah ruangan luas dengan hamparan karpet dan sofa. Serta sebuah tempat tidur. Beberapa lemari meja Dan Kursi. Di sana sudah ada Selly dan dua orang pelayan.
Mereka sudah menyiapkan makanan dan peralatan yang diperlukan untuk membersihkan Felicia. Baju baru, ikat rambut, alas kaki dan segala hal lainnya. Beberapa boneka juga dibawakan.
Ares merasa ia tidak perlu khawatir kepada Felicia. Ares pun diantar Will ke bagian teknologi untuk dibersihkan dan diperbaiki beberapa bagian yang rusak. Kerajaan Zelinekia memperlakukan tamunya dengan baik.
****
Esok harinya cahaya matahari memasuki jendela kamar Felicia. Seseorang membuka jendela balkon, membuat ruangan semakin terang benderang. Felicia terbangun sembari mengusap kedua matanya. Felicia menguap lebar. Sepertinya semalam dia tidur terlalu pulas.
Dia menoleh ke samping kanan ranjang. Seorang wanita muda dengan pakaian serba
putih keren dengan dua pedang terselip di kanan dan kiri pinggangnya. Rambutnya pirang dikucir kuda. Wajahnya tegas dan cantik. Wanita itu menatap Felicia dengan bahagia.
“Hai, kau sudah sadar. Apa kau lapar?” Tanya wanita itu kepada Felicia.
Felicia mengangguk.
Namun, sebelum bangkit dari ranjang Felicia mengajukan pertanyaan kepada wanita itu.
“Siapa kamu? Di mana Ares?” Tanya Felicia pelan.
__ADS_1
“Namaku Selly, bagian dari ksatria kerajaan. Aku yang mengurusmu sejak tadi malam. Ares sedang istirahat di ruangan teknologi. Kau tidak perlu khawatir karena semua kebutuhan Ares sudah terpenuhi. Namamu Felicia, kan?” Kata Selly kepada Felicia.
“Ya, terima kasih,” Kata Felicia.
Felicia beranjak turun dari ranjang. Dia menyadari kalau bajunya bernuansa putih. baju baru pikirnya. Baju lamanya sudah sobek-sobek dan kumal serta terdapat noda darah.
Felicia kemudian ingat kalau dipelipisnya ada luka. Ketika ia menyentuh pelipisnya, di sana ada perban yang menutup lukanya.
“Ratu telah menunggu di aula bawah untuk sarapan bersama. Kemungkinan Ares sudah di sana. Ayo, sini pegang tanganku. Tubuhmu masih terlalu lemas,” Kata Selly.
Benar saja ketika melangkahkan kaki Felicia hampir terjatuh. Felicia pun memutuskan untuk memegang tangan Selly erat-erat. Selly menuntun Felicia menuruni tannga menuju lantai bawah, tepatnya di aula utama.
Di aula besar telah disiapkan kursi dan meja makan panjang untuk seluruh penghuni istana. Sarapan yang meriah.
Batin Felicia dalam hati.
Felicia didudukkan tepat di samping Ares. Posisi mereka dekat dengan Ratu Ajanta. Hidangan yang disajikan bermacam-macam dan semuanya tampak lezat. Felicia sangat bersemangat melihat semua hidangan tersebut.
“Hadirin semua, ini waktunya kita sarapan. Mari kita selalu bersyukur atas segala berkah dari Tuhan kepada kita,” Kata Ratu Ajanta sebelum acara sarapan dimulai.
Setelah itu sarapan dimulai dan denting sendok yang beradu dengan garpu mewarnai seisi aula. Tidak ada yang bicara. Semuanya fokus dengan piring masing-masing.
Ares tidak makan hanya menyuapi Felicia. Felicia melahap makanannya dengan rakus. Ares merasa senang melihat Felicia kembali bersemangat. Hingga acara makan selesai, Ratu Ajanta akhirnya memperkenalkan tamunya itu kepada penghuni istana.
“Kita telah kedatangan tamu dari Ibukota Deolinikia. Mereka adalah korban dari kejahatan di sana. Kita harus melindungi siapaun yang berjalan diatas jalan kebenaran,
seperti semboyan kerajaan kita. Nama anak kecil ini adalah Felicia dan robotnya Ares. Kita akan memperlakukan mereka layaknya tamu terhormat,” Kata Ratu Ajanta dengan suara merdu.
****
“Felicia hari ini aku ingin mengajakmu untuk berjalan-jalan keliling istana. Aku ingin kamu mengenal semua yang ada di sini agar jika kau butuh sesuatu bisa mencarinya sendiri,”
Kata Ratu Ajanta kepada Felicia sambil mengelus rambut Felicia. Felicia hanya mengangguk.
Felicia dituntun oleh ratu menuju tempat pertama. Sebuah ruangan luas seperti lapangan di sisi kanan kerajaan. Di sana dua orang ksatria putih sedang berlatih dan mengajari para prajurit.
Mereka yang melihat Ratu Ajanta datang segera berlutut memberi hormat sebelum melanjutkan aktivitas mereka masing masing.
“Felicia, ini adalah lapangan kerajaan.Tempat di mana setiap prajurit, bangsawan, dan ksatria putih berlatih. Koordinator tempat ini adalah ksatria Max Tiger dan Kagaya. Mereka adalah ksatria yang tangguh. Max Tiger memiliki sisi humor yang tinggi. Sedangkan Kagaya mungkin tampak sedikit kaku,” Kata Ratu Ajanta sambil tersenyum.
Ratu Silvanna menarik Felicia untuk mendekati Kagaya dan Max Tiger yang berada di pinggir lapangan.
Mereka tersenyum melihat ratu datang. Felicia awalnya takut melihat Max Tiger, hingga bersembunyi di belakang Ratu Ajanta dan Ares.
“Lihat, dia takut padamu, Tiger,” Kata Kagaya sembari menahan tawa. Hal itu dibalas oleh lirikan tajam dari Max Tiger.
“Anak manis, aku baik, kok. Yuk, main bareng,” Bujuk Max Tiger pada Felicia sambil mengulurkan tangan.
Felicia mulai keluar dari persembunyian. Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan besar Tiger.
“Paman, pandangan mata Anda terlalu tajam,” Kata Felicia kepada Tiger.
__ADS_1
“Hahahaha.....,” Tawa Kagaya menyembur tak tertahankan.
Felicia mengernyit bingung dengan kelakuan Kagaya.
“Kakak, kenapa tertawa?” Tanya Felicia penasaran karena wajah Max Tiger di depannya tampak sebal dengan kelakuan Kagaya.
“Felicia sayang, usia kami hampir sama. Tetapi kamu memanggil dengan kata ganti yang berbeda. Namaku Kagaya, kamu boleh memanggilku ‘Kakak’. Dia Tiger, panggil saja sesuai yang kamu inginkan seperti tadi. ‘Paman Tiger’ mungkin jauh lebih pas, hahaha,” Kata Alucard kepada Alice.
Felicia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ternyata itu yang membuat Kagaya tertawa. Felicia setuju dengan nama panggilan yang disarankan oleh Kagaya.
“Mau aku ajari bermain pedang?” Tanya Kagaya kepada Felicia.
Segera Felicia mengangguk. Tentu saja dia sangat ingin belajar cara bertarung dengan pedang. Dia ingin mandiri dan bisa bertarung di medan perang bersama Ares.
“Mungkin pisau kecil akan lebih cocok,” Kata Kagaya setelah melihat Felicia.
Kagaya yang melihat binar ketertarikan yang luar biasa dari sorot mata Felicia merasa senang. Tiger yang awalnya sebal juga menyadari hal itu.
“Kamu bisa datang setiap hari Minggu ke sini. Kami akan mengajarimu bela diri untuk bertahan juga,” Kata Tiger kepada Felicia.
“Oke, Kak Kagaya, Paman Tiger,”
Felicia melenggang pergi bersama Ratu Ajanta ke tempat selanjutnya. Dalam hati Ratu Ajanta berharap kalau nanti Felicia bisa menjadi anak yang tangguh dan kuat.
****
Di bagian kanan istana masih ada tempat menarik lagi kata Ratu Ajanta. Tempat itu adalah menara tinggi Kerajaan Zelinekia. Tempat di mana seorang pengawas mengawasi seluruh hal yang terjadi pada jangkauan kerajaan.
Melihatnya dari bawah saja sudah membuat Felicia pusing. Alice menggeleng, dia tak akan sanggup menaiki menara ini.
“Tenang saja Felicia. Kita tidak akan naik. Orang yang di ataslah yang akan turun menemui kita,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia.
Benar saja, tepat ketika ratu selesai bicara seseorang dari menara pengawas turun seolah terbang.
Dua bilah pedang terselip di kanan dan kiri pinggangnya. Rambut pirang dikucir kuda.
Selly. Felicia mengenalnya.
Selly memberikan penghormatan kepada ratu. Kemudian, menyapa Felicia.
“Felicia, apa kabar? Badanmu sudah sehat kan? Kalau ada waktu luang ke sinilah. Aku akan mengajakmu terbang di atas istana,” Kata Felicia dengan riang.
“Terima kasih, Kak Selly. Ratu mengatakan menara pengawas itu sangat penting bagi kerajaan ini. Aku ingin naik tetapi tinggi sekali,” Kata Felicia.
“Ya, besok ke sinilah. Akan aku tunjukkan mengapa menara ini sangat penting. Aku harus melanjutkan pekerjaanku,” Kata Selly yang kini sudah melesat melayang di udara dan masuk kembali ke menara.
Alice menatap ke langit Deolinikia. Cahaya siang hari yang remang-remang.
“Felicia, Selly adalah orang yang sibuk. Dia begitu serius dalam pekerjaannya. Dia begitu karena merasa ada tanggung jawab besar dan kemanfaatan besar dari tugasnya sebagai pengawas,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia.
Kalau begitu apa tugasku? Apa tanggung jawabku? Tanya Felicia dalam hati. Ares yang sedari tadi diam ikut merasakan gejolak emosi dari Felicia.
__ADS_1
****