Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 5 Perpisahan A


__ADS_3

Felicia kini genap berusia sepuluh tahun. Proyek organisasi Dawn Deolinikia juga telah sempurna. Namun, keraguan itu semakin memberatkan hati Professor Arion.


HFFFCRISHA1 akan digandakan dan akan diproduksi secara massal. Selama ini, Professor Arion telah menggunakan berbagai alasan untuk mencegah penyalinan HFFFCRISHA1. Di lab hanya ada dua salinan. Itu pun masih membuat benak Professor Arion khawatir.


HFFFCRISHA1 telah disempurnakannya dan menjadi kesatuan utuh dengan robot penyusunnya. Bentuknya telah menyerupai manusia dengan wujud ksatria berpedang.


Mungkin kalau sudah diaktifkan, HFFFCRISHA1 itu akan tampak sama seperti manusia biasa. Tidak bisa dibedakan kecuali gerakannya yang masih sedikit kaku. Professor Arion sudah memprogramnya sesuai dengan rencana.


Salinan satunya diberi nama HFFFCRISHA2 telah menjadi kesatuan utuh dengan media yang sangat kekar. Mirip dengan Max Tiger. Bisa dibilang replikanya. Namun, sang professor belum sempat untuk memprogramnya.


Sayangnya Professor tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena besok pagi merupakan sidang besar Dawn Deolinikia bersama pemerintah umum. Kalau sudah ikut sidang itu, Professor Arion tidak akan sempat untuk kabur atau lari.


Oleh karena itu, malam ini akan menjadi titik balik semuanya setelah sepuluh tahun ini.


“Apa kau benar-benar ingin melakukan hal ini?” Tanya Atashya kepada Professor Arion.


“Entahlah, sayang. Tapi kita harus melakukannya. Kita tidak boleh membiarkan rakyat menderita karena adanya pemerintah yang otoriter ini,” Kata Professor Arion berusaha meyakinkan sang istri.


“Ya, kau benar. Namun, anak kita masih terlalu kecil. Aku takut kalau nanti terjadi apa-apa pada keluarga kita,” Kata Atashya dengan nada ketakutan dan penuh kepanikan.


“Sayang, jangan takut. Kita harus yakin kalau yang berbuat baik akan selalu berada dalam posisi dan tempat yang dilindungi oleh Tuhan, selama yang kita lakukan benar, jangan takut. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi permata hati kita,” Kata sang Professor sembari memeluk istrinya.


Felicia kecil yang belum terlalu mengerti, hanya kebingungan merasakan suasana yang tegang dan penuh ketakutan. Atashya mengelus kepala Felicia dengan lembut.


Orang tua sangatlah menyayangi anaknya. Apalagi Felicia adalah anak pertama mereka. Sungguh kebahagiaan yang terjepit dalam situasi rumit.


“Ayo kita bergegas, malam ini kita harus pergi dari sini. Aku sudah menyiapkan kapsul untuk membawa kita pergi. Kita akan pergi menuju Kerajaan Deolinikia di mana Sang Ratu Ajanta Elvarette akan melindungi kita bersama dengan para Ksatria Putih,” Kata Professor Arion sembari menarik koper menuju ruang belakang.


Malam itu, bulan purnama bersinar lebih terang. Serangga malam di Deolinikia berbunyi nyaring. Suasana malam terlihat mencekam seperti biasanya.


Banyak sekali kegelapan yang bergerak. Kekuasaan Sang Kegelapan mulai terlihat ketika Sang Cahaya mulai tertidur. Mencari mangsa jiwa-jiwa yang terlena dan tersesat pada dinginnya


malam.


Kesenyapan juga meliputi setiap suduty rumah milik keluarga kecil Professor Arion. Banyak sekali yang dibicarakan dengan nada kecil di dalamnya. Suara langkah kecil yang menapaki lantai pualam juga terdengar samar-samar. Felicia kecil yang dituntun oleh ibunya.


“Sayang, apa kau sudah memasukkan semuanya?” Percakapan senyap itu dibalas anggukan oleh sang istri.


Ketika Felicia kecil digendong oleh ayahnya, dan ibunya yang ikut disampingnya hendak masuk ke dalam kapsul, tidak ada yang tahu jika rumah mereka telah terkepung. Professor Arion dan keluarganya sama sekali tak menyadari apapun. Teman bermuka dua itu telah melaksanakan trik liciknya.


Sungguh kejahatan memang terlalu kuat di atmosfer tanah Deolinikia. Dalam hitungan detik yang terasa begitu lama, sang istri mencium bahan peledak. Atashya mundur pelan-pelan, suaminya juga demikian. Rasa takut begitu menekan. Jantung berdebar lebih cepat seperti hendak keluar dari mulut.

__ADS_1


Dorrrrrr!!!! Ctarrr!!!!


Professor Arion sudah terjatuh melindungi Felicia dan istrinya dari runtuhan bangunan dan pecahan kaca. Suara langkah kaki berderap menuju ruangan belakang. Professor dan istrinya segera bersembunyi. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, kapsul telah hancur berkeping-keping. Tidak ada yang tersisa.


Dari arah laboratorium yang berjarak limapuluh meter terdengar seruan-seruan keras yang kemungkinan berasal dari sebuah pasukan. Kacau sudah rencana mereka. Mata Felicia kecil sudah berlinang basah oleh air mata sejak tadi. Ketakutan dan perasaan gelisah terasa begitu pekat.


Atashya sudah menangis sejak tadi. Kini, tangannya melepas jam tangan kristal kesayangannya. Dia punya firasat kalau nanti harus ada perpisahan. Dia memakaikannya kepada Felicia.


Sedang suaminya, sang Professor Arion mengotak atik sebuah kristal berbentuk liontin di tangannya. Sebuah kalung, yang kemudian di kaitkan ke leher Alice.


Felicia kecil bingung dan ketakutan. Perlakuan ayah dan ibunya sungguh tidak biasa. Ayah dan Ibunya seolah ingin


mengatakan selamat tinggal. Tenggorokan Felicia tercekat, tak ada satupun kata yang mampu keluar dari mulutnya. Tidak ada.


Tidak ada pilihan, tidak ada jawaban, tidak ada pertolongan, dan tidak ada setitik kebenaran yang hakiki. Derap langkah kaki semakin keras. Kemungkinan dalam hitungan detik tentara pemerintah dan pasukan khususnya akan mengepung tempat ini.


Dor!! Dor!!!


“Aaaaaa......,” Felicia menjerit keras.


Hingga dua tembakan itu tiba di hadapan Felicia. Felicia menutup mata dengan kedua tangan kecilnya. Namun, alangkah terkejutnya Felicia ketika menyadari seseorang yang ada di depannya adalah Atashya, Ibunya melindungi tubuh mungil Felicia dengan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng.


Felicia kecil tak sempat lagi memikirkan hal lain, tenggorokan ya semakin tercekat apalagi ketika darah segar mulai menggenang di lantai tempat ibunya bersimpuh.


Wajah ibunya memancarkan kesedihan yang begitu kentara. Felicia menggeleng, tidak bisa menenima kenyataan ini. Tak kuat lagi menahan tangis dan sakit di dalam hati Felicia menjerit kencang.


Ibuuuuuuu!!!!!!!!


Jeritannya menggetarkan reruntuhan bangunan dan membuat kaca-kaca pecah seketika. Jika seseorang saja lupa untuk menutup telinga, maka tamatlah riwayat gendang telinga seseorang tersebut. Ayahnya terkejut dengan teriakan si Felicia kecil. Namun, tidak sempat.


Tiba-tiba suara gemuruh datang dari jarak limapuluh meter. Dari laboratorium, di sana juga terjadi hiruk pikuk.


Banyak karyawan dan petugas khusus yang berhamburan keluar, lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri dari gedung laboratorium.


Laboratorium bagian belakang tepatnya di kantor Professor Arion hancur runtuh berantakan. Sesosok berbadan besar dalam kegelapan bangkit dengan dua sorot mata berwarna merah. Samar-samar mulai terlihat wujud robot yang mulai berjalan dengan tempo cepat ke arah rumah Professor Arion.


HFFFCRISHA1 telah dibangkitkan. Teriakan Felicia yang menggores hati telah menyulut emosinya.


Sementara di rumah, Professor Arion sedang berdebat dengan petugas khusus yang tega menembakkan dia peluru kepada istrinya.


“Siapa yang menyuruh kalian? Lihat apa yang kalian lakukan? Kalian menghancurkan rumahku! Dan melukai istriku! Aku akan melaporkan kalian ke pemerintah!” Teriak Professor Arion murka akan perlakuan petugas khusus itu.

__ADS_1


“Maaf Tuan, ini juga perintah dari pemerintah untuk menangkap keluarga Anda hidup atau mati. Ini perintah mutlak!” Kata seorang petugas khusus dengan perlengkapan senjata yang canggih dan memakai seragam serba hitam yang tentunya anti peluru.


“Apa? Memangnya apa salahku? Apa aku menyalahi aturan dari pemerintah? Selama sepuluh tahun ini aku terus mengikuti kemauan pemerintah!” Teriak Professor Arion geram dengan pemerintah.


“Maaf Tuan, kami mendapatkan laporan dari salah satu karyawan Anda, bahwa Anda memiliki rencana penggagalan proyek ini. Dan kini terbukti, lihat pecahan kapsul itu dan koper Anda,” Kata salah seorang lain dari pasukan khusus.


“Kapsul ini buktinya! Kau ingin melakukan diri meninggalkan Deelinikia dan mengagalkan proyek ini!” Teriak orang yang tadi, sepertinya dia adalah pemimpin dari pasukan ini. Rambut pirangnya menambah kesan sombong yang menyebalkan.


Professor Arion bungkam. Dia tak bisa membantah dengan adanya bukti kapsul itu di sini. Namun, seharusnya tidak begini. Siapa yang melaporkan semua rencananya? Bukankah tidak ada yang mengetahui rencana penggagalan ini sama sekali?


Apakah selama ini ada yang mengawasi setiap perilakunya? Bahkan di rumah?


Astaga!


Professor Arion tertegun. Dia baru menyadari, kalau dia kemarin lusa memberitahukan sedikit rencana ini kepada salah seorang pegawai kepercayaaannya. Mr. Andre. Professor Arion mengusap dahinya yang basah oleh keringat.


Professor Arion tak habis pikir bagaimana mungkin karyawan kepercayaaannya membocorkan semua rahasianya. Sungguh orang yang tega.


Ternyata semua orang sama saja. Tidak ada sepanci kebaikan dan kebenaran di manapun.


“Ayahh...., Ibu yahhh....,”Felicia menangis bersimpuh di samping ibunya yang napasnya tinggal satu-satu. Tubuh Felicia bergetar menyaksikan keadaan Ibunya yang mengenaskan.


Professor Arion geram tidak tahu harus bagaimana.


“Bagaimana Professor Arion? Apa yang akan kau lakukan? Kau sudah tak punya pilihan lagi kecuali kembali ke pekerjaanmu selamanya,” Kata salah seorang petugas khusus yang tersenyum jahat.


“Sa-yang-ku..., Ja-jang-an... Kau ha-rus melaksanakan re-ncara ini.... Ja-ngan menye-rahhh,” Kata sang istri sambil mengelus lembut rambut Felicia kecil.


Walaupun dengan tersendat-sendat Atashya tetap berusaha untuk mendukung suaminya.


“Baiklah,” Jawab Professor Arion mantap kepada isterinya.


Professor Arion menoleh ke arah pasukan khusus. Wajahnya tak lagi bisa diartikan. Antara sedih dan takut. Antara marah dan bimbang.


“Kalian memang menang karena kalian bagian dari penguasa. Namun, Aku tahu mana jalan yang harus kutempuh. Aku tidak akan menempuh jalan kejahatan seperti kalian. Aku akan mencari kebenaran walau hanya setitik. Walaupun aku harus mati,” Kata Professor Arion dengan bijaksana.


Sisa-sisa kewibawaannya masih tampak berkobar dalam air wajahnya yang lesu.


“Kalau begitu, kini kau resmi melawan pemerintah Prof!” Teriak seorang anggota pasukan khusus.


Dorr!

__ADS_1


__ADS_2