Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 21 Mukjizat


__ADS_3

*Langit mengayuh hembusan angin


Dalam bingkai belenggu waktu


Menjamah remah cinta terjalin


Untuk kalian, untuk kamu, untuk diriku


Ini tentang sebuah doa*


*Yang melilit dalam hati


Penuh aroma rasa


Menjadi pundi pundi ilahi*


*Dalam terjalnya sajak


Aku mendoa dalam bisu


Agar tetap menapak


Di sini tanpa ragu*


Felicia membuka kedua matanya. Butuh waktu beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang terang. Seperti terik matahari tetapi nyatanya bukan.


Sebuah ruangan dengan keadaan separuh remang dan separuh terang benderang. Ruangan? Ya, ruangan di dalam maze, mungkin.


Tempat apakah ini?


Ares.


Di mana Ares? Satu-satunya pikiran pertama yang muncul dalam benaknya. Felicia segera ingat kilasan kisah yang lalu saat Aldous hampir menghancurkan Ares. Hingga Sang Cahaya datang dan menghentikan Aldous.


Di mana Ares? Felicia mengamati seluruh ruangan itu. Seonggok rongsokan logam


dengan keadaan mengenaskan ada di sudut ruangan.


Felicia berlari ke sana. Air matanya mengalir membasahi pipi. Tidak ada teriakan. Tidak ada seruan kesedihan. Hanya kebisuan sakit dalam kesedihan ini.


Felicia meraba tubuh logam yang tergeletak itu. Felicia dengan tergesa mencari ranselnya dan mengambil botol berisi cairan hijau, lalu menumpahkan seluruhnya di atas tubuh Ares. Tak ada reaksi setelah ramuan itu meresap dalam logam Ares.


Tangan Felicia bergetar memegang tubuh logam itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Semuanya padam. Gelap. Dingin.


“Ares, ini tidak mungkin, kan? Bukankah kamu akan selalu ada untukku? Bukankah kamu berjanji tidak akan meninggalkanku?” Kata Felicia.


Bibirnya bergetar tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya tercekat. Sakit sekali. Seolah-olah ada tangan besar yang meremas hatinya hingga hatinya hancur remuk berkeping-keping.


Felicia memeluk tubuh logam itu. Tidak peduli terhadap apapun. Ares adalah bagian terbesar dari kehidupannya. Dua tahun Felicia berjuang untuk belajar dan terus hidup bersama Ares. Ares yang selalu setia melindunginya.


Ares yang selalu membantu dan memberi nasihat. Ares yang selalu memberikan semangat. Ares yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Felicia. Ares yang menjadi satu-satunya keluarga yang dia miliki.


Tubuh Felicia lemas. Menangis menghabiskan sisa tenaganya. Ia berharap semuanya segera berakhir. Tidak ada artinya hidup ini ketika Ares pergi bagi Felicia.


Perjalanan jauh ini seolah sia-sia.


Ares pergi di tengah-tengah perjalanan. Felicia merasa tak mampu melanjutkannya. Felicia merasa tak mampu untuk untuk menjalani hidup ke depannya tanpa Ares.


Inilah titik terendah kejatuhan mental Felicia. Di mana dia tidak tahu bagaimana keluarganya, orang tuanya. Di mana dia ditinggalkan oleh Ares sang pelindungnya. Di mana dia berada dalam keadaan sakit.


Mata Felicia terpejam. Tidak ada reaksi ataupun keajaiban yang terjadi. Felicia kecewa. Apa yang harus ia lakukan?


Felicia menelusuri ruangan itu. Dia tertegun ketika mengetahui bagian terang itu memiliki kehangatan yang kentara. Tetapi saat ia melangkah ke bagian yang remang, Felicia merasakan dingin. Felicia kemudian memberanikan diri untuk memposisikan dirinya di tengah-tengah ruangan.


Setengah tubuhnya berada di bagian terang dan setengah lainnya ada di bagian gelap. Felicia merasakan keanehan yang terjadi ketika tubuhnya benar-benar seimbang berada di antara dua keadaan yang berbeda.


Nero pernah bercerita tentang keadaan seimbang. Kata Nero seorang penyihir tak


pernah bisa dalam keadaan seimbang. Namun, setelah melihat sendiri keadaan ini Felicia jadi bingung. Memang benar, dia bukan penyihir.


Jadi, apa maksud dari ruangan ini yang terdiri dari dua keadaan yang berbeda?


“Jadi, kamu pernah mempelajari tentang perbedaan keadaan ini?” Tanya seseorang secara tiba-tiba.


Suara gadis. Suara yang manis. Felicia bingung, tidak ada siapapun di ruangan ini.


“Ya, kau benar. Aku belum tampak. Karena aku ingin kau melakukan sesuatu terlebih dahulu,” Kata suara gadis itu.


Felicia mengernyit bingung. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Tidak ada apapun.


“Siapa kamu? Ini di mana? Apa maksud semua ini?” Tanya Felicia tanpa jeda.


“Anak manis, ini adalah inti maze ketujuh. Aldous membawa kalian saat robot pelindungmu benar-benar kehabisan energi kehidupan. Aku adalah sesuatu yang kau cari,” Kata suara itu.


“Bukankah Aldous telah hancur waktu itu? Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Alice tergesa.


“Kau benar, Aldous hanya penguji, hakikatnya dia tidak hidup. Kau memiliki peninggalan kedua orang tuamu berupa jam tangan kristal. Pegang itu baik-baik.


Posisimu sudah benar. Pejamkan matamu. Aku akan mempertemukan kamu dengan kedua orang tuamu di dunia mimpi karena aku penguasa mimpi,” Kata suara itu.


Felicia menurut dan mulai memejamkan mata. Tanpa Felicia sadari sosok gadis bersayap dengan bagian tubuh berwarna berbeda menunjukkan wujudnya di tengah ruangan. Setengah dibalut keemasan dan setengah yang lain dibalut warna hitam kegelapan. Sosok gadis itu membaca mantra dan meniup dahi Felicia.


Felicia merasakan angin sejuk meniup anak rambut di keningnya. Angin sejuk itu semakin


kencang. Seolah Felicia sedang terbang ke suatu tempat tak bernama namun terasa

__ADS_1


ada.


Sosok gadis itu tersenyum dan menidurkan Felicia dipangkuannya.


“Anak manis, inilah kesempatanmu bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku tak bisa berbuat lebih karena takdir sudah ditentukan. Aku tidak ingin mengatakan bahwa kau terlambat.


Aku juga tak ingin menyalahkan siapapun. Usahamu sungguh hebat dan begitu mulia. Di sini, keikhlasan adalah hal terbaik yang harus kau miliki,” Kata sosok gadis itu sambil mengelus kepala Felicia dengan lembut.


****


Ruangan itu berwarna putih bersih. Udaranya sejuk dengan beberapa kali angin bertiup. Ada beberapa kupu-kupu berterbangan. Ruangan itu berubah menjadi hamparan taman dengan bunga-bunga warna-warni di atas rerumputannya.


Dari jauh dua sosok yang begitu Felicia kenali melambaikan tangan ke arahnya. Dua sosok yang begitu Felicia rindukan selama ini. Dua sosok yang dua tahun silam berpisah begitu saja dengan luka kekosongan yang menganga di dasar hati.


Felicia berlari mendekati dua sosok itu. Angin sejuk bertambah kencang mengibarkan


surai rambut Felicia yang kini bertambah panjang. Felicia berlari dengan senyum menghias bibirnya. Rasa bahagia yang tak tertahankan. Rasa rindu yang terbayarkan.


Felicia melompat dalam pelukan kedua orang tuanya. Felicia sungguh rindu pada pada harum bau wangi khas dari ayah dan ibunya.


“Felicia sayang,” Panggilan favorit Felicia itu terlontar dari bibir sang ayah.


Felicia mendongak menatap wajah ayahnya. Wajah yang selalu tertawa renyah, mengajarkan banyak hal, dan memainkan piano untuknya.


“Aku merindukanmu,” Kata itu meluncur dari bibir ibunya dengan nada lembut penuh


kasih sayang.


Seorang ibu yang begitu Alice rindukan. Ibu yang selalu menyanyikan lagu pengantar tidur. Ibu yang selalu membacakan dongeng


kesukaannya. Ibu yang selalu memasakkan makanan kesukaannya. Ibu yang selalu


mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Ibu yang selalu mengecup keningnya sebelum tidur.


Air mata Felicia mengalir membasahi pipi. Semakin deras seiring dia semakin lama


menatap wajah kedua orang tuanya. Bibir Felicia bergetar hendak mengatakan suntai


kalimat yang dari dahulu dia emban.


“Ayah, Ibu aku rindu kalian, aku sayang kalian, aku cinta kalian,” Kata Felicia dengan hati lebih lega.


Air matanya mengering. Angin sejuk bertiup menghabiskan sisa air matanya untuk menguap di udara.


“Maafkan kami yang tidak hadir di saat kau kesusahan dan mendapatkan banyak sekali


musibah,” Kata sang ayah.


“Kami begitu sedih ketika kami menyadari kalau kau terlalu kecil untuk menanggung


“Tidak apa ayah, ibu. Aku sudah belajar banyak. Di dunia ini tidak ada yang tidak


mungkin terjadi. Semuanya bisa saja terjadi karena takdir kita sudah digariskan.


Namun, kita harus selalu terus berusaha untuk menjalani hidup ini dengan lebih baik. Terus menjadi baik dan berjalan di atas jalan kebenaran,” Kata Felicia menatap kedua orang tuanya.


“Kau benar Felicia. Kau anak yang hebat. Kau anak yang baik. Ayah bangga padamu,” kata


sang ayah.


“Felicia sayang, kami akan selalu mendoakanmu agar tetap berada di jalan kebenaran. Banyak sekali rintangan yang harus kau hadapi. Aku tidak ingin kau celaka,” kata sang ibu.


“Ayah, ibu, aku akan segera kembali ke Ibukota Deolinikia untuk membebaskan kalian


dari pemerintah yang kejam itu. Ares..., tidak aku yakin Ares masih bisa diperbaiki.


Aku akan menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya kepada seluruh rakyat


Deolinikia! Mereka harus tahu apa yang terjadi di pemerintahan, sehingga


rakyat bisa ikut memutuskan!” Kata Felicia dengan semangat yang berkobar.


Tatapan kedua orang tuanya penuh suka cita. Namun, air Mata mengalir di pipi mereka. Felicia bingung melihat kedua orang tuanya menangis.


“Kenapa ayah dan ibu menangis? A-apa kata-kataku tadi salah?” Tanya Felicia dengan terbata.


“Tidak, tidak ada yang salah. Kami terharu karena kamu anak yang pemberani dan cinta


kepada kedua orang tua. Felicia, kami begitu menyayangimu,” Kata sang ayah sambil


memeluk Felicia.


“Felicia, satu pesan kami. Jalani kehidupan ini dengan ikhlas. Jalan kebenaran selalu


membawa kedamaian dan kebahagiaan. Orang yang baik akan selalu mendapatkan


kasih sayang.


Apapun takdir Tuhan, kau harus menjalani dengan sebaik-baiknya,” Kata sang ibu yang ikut memeluk Felicia pelan.


Lama sekali, Felicia kembali merasakan kehangatan keluarga. Merasakan sejuknya angin pelepas rindu. Felicia tahu, setelah ini kedua orang tuanya akan pergi. Waktu


pertemuannya sudah selesai.


Felicia memejamkan mata. Berusaha untuk menempelkan sensasi ini lebih lama. Menyimpannya baik-baik di dalam memori terdalam sejauh yang dia bisa. Felicia

__ADS_1


menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk lengkung senyum. Felicia berusaha bahagia.


****


Felicia membuka mata. Ia terbangun dari mimpinya. Dia tertidur di atas lantai.


Sedangkan seorang gadis bersimpuh di sampingnya.


Gadis itu memandangi Felicia dengan tatapan hangat bersahabat. Gadis dengan ketampakan dua warna berbeda. Putih keemasan dan hitam kegelapan. Gadis itu tersenyum menatap Felicia yang sudah bangun.


“Siapa kamu?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Felicia tertuju untuk gadis di depannya.


“Namaku Althaea. Aku bagian dari rahasia Deolinikia. Inti maze yang selama beberapa hari terakhir ini kau cari. Aku adalah keadilan. Aku beraasal dari dua dunia yang berbeda. Dua keadaan yang berbeda,” Kata gadis bernama Althaea itu.


Tubuh dan sayapnya mengeluarkan denyar warna yang berbeda. Hitam dan putih.


“Jadi, apa yang akan terjadi setelah aku menemukanmu?” Tanya Felicia.


“Aku akan menimbang amalmu menggunakan goodness scale,” kata Althaea sambil membaca mantra dan menengadahkan kedua tangan.


Di antara kedua tangannya muncul sebuah timbangan dengan dua warna berbeda. Gelap dan keemasan.


“Amalku? Lalu apa yang akan terjadi?” Tanya Felicia bingung.


“Ya, ketika amalmu ditimbang dan kau mendapatkan kebaikan yang lebih berat goodness scale otomatis akan memberikan keadaan yang adil buatmu. Misalnya, keadaanmu dan Ares akan kembali seperti sedia kala,” Kata Althaea sambil tersenyum.


“Selain itu, kau akan mendapatkan bagian kekuatan dari rahasia Deolinikia. Kekuatan untuk perlindungan dirimu dan Area. Kau akan seperti naik level dengan kekuatan setiap skill yang meningkat,” Jelas Althaea.


Mata Felicia berbinar. Setelah ini dalam perjalanan menuju Ibukota Deolinikia, dia


bisa menghadapi semuanya.


“Baiklah, aku mengerti,” Kata Felicia.


“Kalau begitu aku akan mulai menimbang,” Althaea meletakkan goodness scale itu.


Kemudian, membaca mantra dan memegang tangan Felicia menggunakan kedua tangannya.


Mata Althaea terpejam. Felicia merasa dia juga harus memejamkan mata.


Beberapa menit berlalu.


“Felicia, buka matamu,” Kata Althaea kepada Felicia yang masih memejamkan mata.


Felicia membuka mata dan segera melihat ke arah goodness scale. Bagian berwarna putih turun hingga menyentuh dasar timbangan. Itu artinya kebaikan Felicia sangatlah besar. Felicia tersenyum.


“Kau sudah melihat sendiri hasilnya. Timbangan ini tidak pernah berbohong. Kemudian, atas nama keadilan aku akan memberikan kepadamu segala yang sudah aku janjikan, segala yang sudah aku katakan tadi,” Kata Felicia.


Ruangan itu berdenyar. Seluruhnya berubah menjadi terang benderang, seterang hati Felicia saat ini.


Ares terbangun dengan tubuh utuh tanpa suatu luka. Felicia memeluk Ares dengan


bahagia. Dirinya sendiri kini terasa baik-baik saja. Seolah rasa sakit dan semua hal yang dideritanya di angkat semua. Ares menggendong Felicia dengan bahagia.


Cahaya yang sangat terang itu kemudian terurai dan menyimuti tubuh Ares dan Felicia. Mereka sekarang memiliki kekuatan yang lebih kuat.


Felicia memakai jam tangan kristal di tangan kirinya. Jam itu memantulkan warna pelangi


yang indah.


Ayah, ibu, aku akan segera menolong kalian. Batin Felicia dalam hati.


Cahaya seluruhnya menghilang. Tinggalah ruangan yang kosong dan Althaea yang berdiri di depan Felicia dan Ares.


"Felicia, ini untukmu. Hadiah dariku, salah satu senjata suci dari rahasia Deolinikia," Althaea menyodorkan sebuah pedang berwarna perak keemasan.


"Terima kasih," Felicia sangat senang.


“Tugasku selesai, aku akan pergi. Sebelumnya Aku akan membawa kalian menuju pintu gerbang keluar maze. Bukankah kalian masih ingin melanjutkan perjalanan jauh ini?” Kata Althaea kepada Ares dan Felicia.


“Ya, kami akan segera melanjutkan perjalanan menuju Ibukota Deolinikia,” Kata Ares dengan tegas.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengirim kalian ke pintu gerbang Utara. Di sana aku bisa melihat ksatria putih menunggu kalian,” Jelas Althaea.


“Ksatria putih?” Tanya Ares heran.


“Ya, sepertinya Ratu Ajanta telah mengutus Ksatria putih untuk menemani perjalanan


kalian menyusuri belantara Deolinikia hingga sampai di Ibukota,” Kata Althaea.


“Satu pesanku untuk kalian. Aku memang bukan malaikat atau dewa. Aku Hanya bagian


dari sebuah kekuatan besar. Jadi, aku masihlah mortal seperti kalian. Ingat, selama kalian berada di atas jalan kebenaran maka kalian berada dalam perlindungan Sang Cahaya,” Kata Althaea.


Dia mengatakan hal penting bagi Ares dan Felicia.


Ares dan Felicia mengangguk paham. Mereka setuju.


Althaea mengulurkan tangan dan membaca mantra. Denyar cahaya terang kembali datang dan menyelimuti mereka. Sepertinya ini adalah portal.


Felicia memejamkan mata masih dalam gendongan Ares. Portal itu mengirim mereka ke gerbang Utara.


Saat membuka mata, ksatria putih sudah siap di depan mereka untuk mengawal perjalanan panjang ini.


Semua tidak ada yang tidak mungkin.

__ADS_1


__ADS_2