Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 16 Teka-Teki Dasar Maze Zelinekia A


__ADS_3

*Aku ingin menjaga angan ini


Seperti meniti tepian ngarai


Mengarungi detak detik murni


Dan berjuta aksi reaksi


Dalam derai derai teka teki*


Greeeek!


Greeek!


Pintu Labirin Zelinekia terbuka.


“Kyaaaaa!!!!!!!” Felicia menjerit. Melihat sosok yang langsung menyambutnya dibalik pintu gerbang Labirin Zelinekia. Sosok yang telah menunggu selama setengah abad. Menunggu kehadiran para penantang Labirin Zelinekia.


Sosok bertubuh bertubuh banteng tetapi berdiri layaknya manusia. Kaum minotaur.


Kaum yang hampir punah dengan segala keterbatasan dan diskriminasi yang mereka alami. Felicia ketakutan melihat minotaur di depannya bukan karena bentuk tubuhnya. Namun, kedua mata minotaur tersebut yang tampak mengerikan.


Minotaur yang buta. Kedua matanya hanya tampak kosong dan gelap. Tidak ada bola mata. Wajahnya juga seperti bekas tercabik-cabik. Felicia tidak kuat menatapnya karena


merasa kasihan sekaligus ngeri.


Rasanya seperti mual dan merinding. Felicia tak mampu menahan air mata dengan tubuh bergetar hebat akibat terkejut. Ares pun memeluk Felicia.


“Hahaha! Apa kamu takut, Nak? Baru kali ini ada yang begitu takut melihatku. Ya, pemikiranmu benar. Aku minotaur yang buta,” Kata minotaur yang buta sambil tertawa renyah.


Mendengar tawa yang akrab dan tidak jahat, Felicia memberanikan diri untuk membuka matanya. Dia ingin melihat dan mengenali sosok minotaur yang buta itu. Dan Felicia juga ingin tahu bagaimana minotaur yang buta itu membaca pikirannya. Ya, membaca pikiran.


“Nak, jangan terkejut kalau aku bisa membaca hatimu. Aku bahkan bisa tahu seperti apa dirimu tanpa melihatmu, hahaha!” Kata minotaur yang buta.


“Kalau begitu, apa kau tahu siapa namaku?” Tanya Felicia memberanikan diri.


“Hahahaha! Tentu saja aku tahu, Nak. Namamu adalah Felicia. Datang ke sini dengan seorang robot pelindungmu, Ares. Petunjuk Ratu karena kamu ingin menyelamatkan kedua orang tuamu di Ibukota Deolinikia,” Kata minotaur yang buta itu.


Felicia menutup mulut tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Minotaur yang buta itu mengetahui semuanya. Padahal, baru kali ini mereka bertemu. Bagaimana mungkin? Felicia bingung sendiri.


“Nak, di dunia ini semua tidak ada yang tidak mungkin. Apa kau sendiri pernah bertanya saat kau masih kecil dulu, saat ayahmu memainkan piano untukmu. Apa pernah terpikirkan di benakmu, mungkinkah kau akan mengembara sampai di sini?

__ADS_1


Di dunia ini semuanya mungkin terjadi. Tergantung keihklasan orang-orang yang


menjalaninya. Aku buta sejak satu abad yang lalu. Kupikir tidak mungkin lagi aku sanggup menjaga maze ini dengan kedua mata yang buta. Sama sekali tidak bisa melihat. Sama sekali. Hanya kegelapan yang bisa kusaksikan.


Hahahaha! Tapi lihat! Nyatanya aku bisa menjaga maze ini dengan keadaan seperti ini,” Kata minotaur yang buta.


“Jadi, bagaimana agar kami bisa masuk dan melewati penjagaanmu?” Tanya Ares tergesa.


Minotaur yang buta tersenyum seolah bisa melihat ekspresi dari Ares. Felicia tak bisa


memperkirakan apa yang dipikirkan oleh minotaur yang buta karena tidak ada tatapan dari kedua matanya tentu saja.


“Aku di sini hanya sebagai pemberi teka-teki. Jika kau mampu menjawabnya, kau boleh


melewati maze pertama. Jika kau tidak mampu menjawab teka-teki yang kuberikan lebih baik pulang saja,” Kata minotaur yang buta dengan nada serius.


“Bagaimana jika kami tidak bisa menjawab dan melawanmu?” Tanya Ares penasaran.


“Aku akan mencegah kalian dengan tanganku sendiri. Kalian masih sayang dengan nyawa kalian sendiri, kan? Seharusnya kalian juga bisa mempertimbangkan kemampuanku untuk membaca segalanya, hahaha!” Kata minotaur yang buta.


Felicia mengangguk. Kemampuan membaca pikiran dan hati oleh minotaur yang buta


Felicia berusaha mengosongkan pikirannya. Walaupun itu terlalu sulit untuknya. Akhirnya Felicia berusaha memenuhi pikirannya sendiri dengan kesenangan anak seusianya. Felicia berusaha membuang pikiran tentang analisis dan lainnya.


“Wahai minotaur yang buta, kau sudah tahu nama kami, bukan? Kalau begitu, izinkan kami mengetahui namamu...,” Kata Felicia kemudian.


Felicia merasa sedikit perlu mengetahui sesuatu tentang minotaur yang buta. Felicia menyugesti dirinya sendiri untuk tertarik pada setiap yang ada pada minotaur yang buta.


Sejenak sang minotaur buta tercengang mendengar pertanyaan aneh dari Felicia. Sedikit dari bagian hatinya meleleh karena baru kali ini seorang penantang maze menanyakan nama penjaga mazenya. Sang minotaur buta tersenyum.


“Namaku Hesperos, teka teki dasar Labirin Zelinekia. Selamat datang di Labirin Zelinekia. Sudah lama sekali aku tidak mengucapkan penyambutan seperti ini. Siapkan mental dan pikiran kamu. Dengarkan baik-baik teka teki ini,


Kau memiliki ayah dan ibu. Suatu saat mereka dalam keadaan bahaya. Kau hanya bisa menolong salah satu saja. Ayahmu atau ibumu. Tergantung mana yang lebih penting buatmu. Jika kau menolong ibumu, ayahmu mati.


Jika kau menolong ayahmu, ibumu mati. Kau pasti punya pemikiran untuk menolong keduanya. Tetapi itu tidak akan sempat dan kemungkinannya kedua orang tuamu mati bersama-sama. Jadi, siapa yang akan kau pilih? Siapa yang akan kau tolong?


Kalau sudah tahu jawabannya silakan beri tahu aku,” Kata sang minotaur yang buta sambil duduk bersila.


“Aku bersedia menunggu jawabanmu sampai tahun depan, mungkin. Karena kau sudah bersusah payah ke sini dan bisa membuka gerbangnya,” Lanjut minotaur yang buta itu.


Felicia dan Ares tertegun. Pertanyaan ini seperti pertanyaan yang sering mereka dengar. Di film? Tidak, ini lebih kompleks. Felicia tidak boleh menolong kedua orang tuanya.

__ADS_1


Atau keduanya akan mati. Tiba-tiba hati Felicia sangat perih. Pertanyaan ini seperti ditujukan untuk menurunkan kekuatan mentalnya.


Pertanyaan ini bahkan hampir sama dengan kondisi Felicia. Entahlah. Hati Felicia kalut.


Felicia menjadi takut kalau yang ia lakukan itu salah. Felicia takut yang dikatakan sang minotaur buta memanglah kenyataan mengingat kemampuan pembacaan Sang minotaur yang buta begitu luar biasa.


Tenggorokan Felicia tercekat.


Apa yang harus dia lakukan ketika dalam situasi teka-teki itu?


****


Sementara di pintu lain ada sekelompok orang yang juga berusaha masuk ke dalam Labirin Zelinekia. Axdiel dan Thamuz. Mereka menggunakan kekerasan untuk masuk ke dalam maze.


Minotaur memang bukan kelas mereka. Apalagi dengan adanya panglima demon, Thamuz.


****


“Ratu! Aku harus memberitahu engkau soal ini!” Tegas Nero berlari ke dalam aula


utama istana.


Nero berlutut memberi hormat.


“Ada apa Nero?” Tanya Ratu Ajanta.


“Axdiel dan Thamuz! Mereka masuk ke dalam maze! Walaupun berbeda pintu masuk aku takut mereka bertemu dengan rombongan Felicia! Mereka bukan lawan yang baik bagi Ares dan Felicia. Bagaimana ini Ratu?” Kata Nero mulai panik.


Situasi semakin rumit.


Ratu Ajanta berpikir sejenak. Keningnya berkerut.


“Kita berangkat! Beritahu seluruh ksatria!” Tegas Ratu Ajanta kemudian.


“Siap laksanakan Ratu!”


Ratu Ajanta bangkit dari singgasananya. Berjalan anggun menuju pintu depan istana.


Gaunnya berubah menjadi baju zirah. Tongkat ditangannya berubah menjadi tombak


dengan permata kristal berwarna biru.

__ADS_1


__ADS_2