
*Mimpi-mimpi saling mengait begitu erat
Membiarkan sang empunya menoreh rasa
Cuaca boleh bersenandung melawan masa
Udara boleh menyusut dan menipis dalam atmosfer
Tetapi cinta tak boleh padam dalam getir kekecewaan
Kepada langit*
Takdir adalah milik Tuhan. Sedang kita menjalani hidup ini untuk memenuhi kewajiban kita sebagai makhluk dan selayaknya manusia. Kemanusiaan dan kebaikan adalah pasangan yang belum di pahami oleh setiap orang. Arti kehidupan ini begitu rumit padahal sangat sederhana.
__ADS_1
Semburat aurora melewati langit Deolinikia. Ada banyak pesan dan kerinduan yang disampaikan lewatnya. Orang-orang Kerajaan Zelinekia keluar untuk melihatnya. Karena beberapa dari mereka percaya. Cahaya warna-warni itu mengantarkan sebuah pesan. Bentuknya yang segaris lurus itu menggariskan ulang takdir setiap orang.
Orang-orang yang keluar dari rumah berharap takdir mereka menjadi lebih baik. Mereka ingin kejutan kebaikan senatiasa mengikuti setiapangkah mereka. Ratu Ajanta masih bersimpuh di atas gurun pasir. Luka di dalam hatinya menganga lebar. Ada cinta yang belum tersampaikan dan ada rindu yang belum tuntas. Indera keenamnya menuntun dirinya untuk mendongak menatap aurora yang sedang lewat.
Ratu Ajanta menangis tetapi kemudian tersenyum. Penyesalan dalam hatinya sudah berakhir. Dia berharap tahun depan atau entah kapan akan mendapatkan kesempatan kedua untuk membawa adiknya pulang. Ratu Ajanta menguatkan keyakinannya. Ratu Ajanta menabur harapan pada gelombang aurora yang terus melaju.
Di antara perasaan itu, Ratu Ajanta tergores rasa sedih. Bukan karena ksatria putih yang meninggalkannya untuk mengawal perjalanan Felicia dan Ares. Ratu Ajanta merasa khawatir akan keadaan Felicia. Ratu Ajanta pun bangkit dan bergegas untuk pulang ke Kerajaan. Di istana pasti para pelayan telah menunggu dirinya.
Nannia yang sedang terbang melesat membawa serta Andromeda melihat lewatnya aurora sepanjang perjalanan. Nannia menyentuh warna hijaunya hingga merubahnya menjadi warna keemasan. Nannia berharap Felicia sampai di Ibukota Deolinikia dengan selamat.
Hesperos tertunduk sedih di depan pintu gerbang Labirin Zelinekia. Berkali-kali dia menatap langit dan mendesah panjang. Dia merasa sangat bersalah kepada Felicia.
Adena dan Medea bertemu di gubuk Medea. Mereka saling bertatapan. Mereka merasakan rasa bersalah yang sama. Mereka telah berbohong.
__ADS_1
Aldous juga merasakan hal sama. Dia berjalan ke sana kemari dengan hati bimbang di depan pintu inti maze. Hatinya yang sudah dibalik menjadi penuh dengan kebaikan, kini begitu merasa bimbang.
Di dalam inti maze. Ruangan dengan dua keadaan yang berbeda. Althaea berdiri di tengah-tengah. Napasnya terdengar begitu berat. Matanya terpejam begitu erat. Raganya di sini. Tetapi jiwanya ada di langit.
Di barisan rasi bintang yang terang. Libra. Zubeneschamali, bintang paling terang dalam rasi itu, yaitu hati Althaea tengah bersinar redup. Indera ketujuhnya sedang menatap Felicia dalam perjalanan menuju Ibukota Deolinikia.
Mereka semua tahu. Felicia sudah sampai di Ibukota Deolinikia.
Aurora terus melaju melewati seluruh bagian benua sampai habis. Menyapu seluruh daratan. Mengabadikan setiap kilasan momen yang terjadi di sana. Menjadi saksi tentang sejarah sebuah peradaban. Menghimpun seluruh memori yang lupa dan terlewatkan oleh orang-orang di masa ini.
Harapan dan keinginan tercatat dalam buku takdir. Akan ada pertimbangan dan diskusi pelaksanaan harapan itu. Semua akan ada waktunya. Semua akan ada jalan terbaiknya masing-masing. Langit Deolinikia pucat, bertabur gemintang, bercahya candra, dan di tabur harapan aurora.
****
__ADS_1
Ketika Ratu Ajanta tertatih mengucapkan mantra, sebaris kekuatan besar menghantamnya. Rasa panas seperti melelehkan kulitnya. Ratu Ajanta tidak sadarkan diri.
Seseorang dalam balutan kekuatan besar itu membawa sang ratu ke Utara.