
Felicia jadi ingat ketika Nero mengajarinya untuk menentukan arah tanpa kompas. Felicia segera mengambil ramuan berwarna merah dalam botol panjang dari ranselnya.
Ketika ramuan dalam botol itu diletakkan secara horizontal akan berubah warna sesuai arah mata angin.
Biru adalah Utara, merah adalah Selatan, kuning adalah Timur, dan hijau adalah Barat. Felicia segera menemukan arah yang tepat dan menyuruh Ares untuk mengikuti arahannya.
Perjalanan panjang ini begitu mendebarkan dengan segala keanehan yang baru Felicia dan Ares temui.
****
“Felicia sensorku menangkap sesuatu yang aneh di depan seperti pergerakan yang begitu
rakus dan ganas,” Kata Ares memelankan larinya.
Masih di dalam hutan yang gelap dan lebat.
“Kita harus berhati-hati,” Kata Felicia.
Jarak pandang dalam hutan ini begitu buruk. Mereka berjalan dengan sangat berhati-hati.
Ares berjalan menuju tempat di mana sensornya mengatakan ada hal aneh. Ya,
pergerakan ganas dan rakus itu berasal dari gerombolan abu-abu, tepatnya gerombolan burung-burung yang ribut mengerumuni sesuatu.
Mereka bubar ketika acara aneh itu dianggap selesai. Felicia menutup mulut tak bercaya
dengan apa yang dilihatnya. Tulang-tulang hewan tergeletak di sana. Seperti
perangkap yang tak terduga.
“Ares, segera lari!” Teriak Felicia panik dengan instingnya sendiri.
Belum sempat Ares dan Felicia mengangkat kaki dan berpindah tempat dari sana, sulur-sulur rambat melilit kaki dan tubuh Ares. Ares kesulitan bergerak karena burung-burung abu-abu juga mulai mengerumuni dan mematuk-matuk seluruh badan Ares.
Felicia yang ikut terjebak merasa tak berdaya. Felicia kasihan ketika Ares mendekapnya dan membiarkan tubuhnya yang dipatuki oleh burung abu-abu itu. Ares memang kuat tapi bagaimana kalau dalam perjalanan ini Ares luka parah?
Burung abu-abu itu memiliki mata berwarna merah.begitu mengerikan seperti hantu. Felicia tak berani membuka kedua matanya. Sementara Ares berpikir sendiri bagaimana cara dia bebas dari situasi ini.
*Tok!
Tok! Tok!
Tok!
Tok!
Tok!
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok! Tok*!
Burung abu-abu semakin banyak. Bisa-bisa tubuh Ares akan berlubang dan penyok
penyok. Patukan mereka begitu kuat. Ares akhirnya mendapatkan ide.
Ares mengaktifkan dua meriam api di pundaknya untuk membakar seluruh permukaan tubuhnya. Walaupun beresiko mengenai Felicia, Ares berusaha memusatkan api itu pada punggungnya.
Dan,
Wuuuuuuusssshhhhhhhhhhhhh...
Burung dan tanaman rambat yang melilit Ares terbakar seketika. Ares meraih ranting dan menyalakan api. Membuat obor untuk menakuti burung abu-abu.
“Felicia, lihat aku sudah membakar mereka semua. Mereka takut api,” Kata Ares sambil membersihkan sisa tanaman rambat yang masih melilit tubuh Felicia.
Felicia membuka matanya dan melihat Ares menunjuk burung-burung yang kabur menjauh dari api.
“Kupikir mereka takut cahaya. Mereka terbiasa dalam keadaan gelap hutan ini,” Kata Felicia memberikan analisisnya.
Tubuh Felicia masih gemetar karena takut. Ares memeluknya erat-erat.
“Benar juga, akan kucatat sebagai dataku. Suatu saat jika kita mengalami keadaan yang
sama kita bisa mengatasinya,” Kata Ares.
Mereka meneruskan perjalanan menyeberangi hutan.
****
Cahaya menyilaukan ketika keluar dari kegelapan hutan membuat Felicia butuh beberapa detik untuk beradaptasi. Ares dengan teknologinya yang melampaui manusia bisa beradaptasi dengan mudah. Bahkan sudah menganalisis tempat di depannya sebelum Felicia dapat melihat jelas.
Di depan mereka bongkahan batu dan bekas lantai yang dilumuti tampak mendominasi.
Puing-puing dari tiang-tiang beton tampak ada di mana-mana. Pemandangan di depan mereka seperti reruntuhan sebuah bangunan besar. Jauh di depan sana ada tembok beton tinggi dan tebal dengan sebuah pintu besar.
Ares berjalan di antara puing-puing reruntuhan dengan hati-hati menuju gerbang
beton. Felicia membuka peta. Benar di depannya adalah Labirin Zelinekia. Namun, di
dalam peta tidak ada yang menunjukkan bagian luas yang dipenuhi puing-puing
reruntuhan. Apa sebagian maze sudah hancur?
Tidak, tidak mungkin. Lalu, reruntuhan apakah yang ada di sekitar gerbang Labirin Zelinekia ini?
Di sini adalah gerbang paling Timur. Maze Zelinekia ini memanjang hingga berpuluh mil ke Utara ke Selatan. Tidak, bukan panjang seperti jalan. Bentuknya pasti persegi. Dan yang di depan Felicia dan Ares hanyalah salah satu sisinya saja.
Gerbang labirin tampak sepi. Tidak ada penjagaan sama sekali. Bukankah ini aneh? Ratu sendiri telah mengatakan bahwa Labirin Zelinekia dijaga oleh banyak Minotaur dan
centaur. Kenapa di sini sepi?
Ares melakukan scan terhadap beberapa puing yang dianggapnya aneh. Beberapa
__ADS_1
menunjukkan pernah terjadi peperangan di depan Labirin Zelinekia.
“Ares, kau pernah membaca buku tentang Labirin ini, kan? Ada berapa pintu masuk
utama?” Tanya Felicia kepada Ares.
“Ada empat, ini adalah pintu terdekat, Felicia,” Kata Ares.
“Kalau begitu, lupakan puing-puing ini. Segera menuju gerbang, Ares. Aku punya beberapa ide menarik,” Kata Felicia.
Jawhead menurut dan mendekat ke gerbang Labirin Zelinekia. Labirin itu tertutup rapat.
Pintunya terbuat dari beton tebal. Namun, dengan memandangnya saja Felicia tidak
yakin kalau itu adalah beton. Mungkin baja?
“Turunkan aku, Ares,” Kata Felicia, sejak bertemu burung abu-abu itu Felicia gemetar dan Ares memaksa menggendongnya.
Felicia turun dan meraba pintu gerbang yang dipenuhi pola ukir. Saat mengikuti alurnya,
Felicia menyadari kalau ada pola bunga teratai. Lebih rumit. Hampir seperti pintu
istana, pintu Lab milik Nero, pintu menara, dan gedung musik. Tidak, pola ini ada di setiap pintu-pintu rumah penduduk, pintu toko, dan gerbang kerajaan. Sementara Ares melakukan scan dan menganalisis memakai data-data yang tersimpan dalam memorinya.
Analisisnya selesai. Hasilnya ditunjukkan kepada Felicia. Ya, sama dengan dugaan Felicia. Timbunan pola teratai yang sangat banyak. Rumit. Felicia ingat, seperti pada inti pintu yang sering ia jumpai di kerajaan ini. Pola bunga teratai yang utuh. Pastinya inti itu tersembunyi di bawah timbunan pola lain.
Ares dan Felicia meraba seluruh dinding pintu. Insting Felicia mengalir layaknya gelombang air yang tenang dan damai. Hingga tangan Felicia menyentuh suatu
bagian tak simetris dan terlalu bertumpukan polanya.
“Ares, bisakah kau membantuku mendorong bagian ini?” Tanya Felicia.
Ares mulai mendorong bagian yang ditunjuk Felicia. Namun, usaha itu sia-sia. Tidak
bisa. Bukan bagian itu. Felicia mendesah kecewa. Mereka sudah beberapa jam berada
di sana. Tak ada hasil. Ares juga mulai kesal dan memukul pintu gerbang.
Felicia mengusap dahinya yang penuh keringat. Mengambil minum di dalam ranselnya. Kekesalan Ares belum berhenti. Dia menendang gerbang itu.
Greek!
Felicia dan Ares terdiam. Ares menunduk menatap bagian bawah yang dia tendang. Potongan beton yang tidak pada tempatnya. Ares melakukan scan. Pola teratainya murni tidak bertumpuk.
Tangan kecil Felicia pun mendorong bagian itu. Potongan itu masuk ke dalam beberapa
senti. Felicia dan Ares diam menunggu reaksi.
Greeeek!
Greeek!
Pintu Labirin Zelinekia terbuka.
__ADS_1
“Kyaaaaa!!!!!!!” Felicia menjerit.
Melihat sosok yang langsung menyambutnya dibalik pintu gerbang Labirin Zelinekia. Sosok yang telah menunggu selama setengah abad. Menunggu kehadiran para penantang Labirin Zelinekia.