
Jam demi jam berlalu, jika saja Felicia menyadarinya dan melihat keluar maze. Hari sudah gelap. Namun, di dalam maze tetap terang karena dinding-dinding maze seolah memancarkan cahaya keremangan.
Dinding-dinding maze mengandung banyak fosfor. Kemungkinan besar begitu, tapi lebih dari sekadar fosfor, Ares berhenti menganalisisnya.
Pandangan Ares beralih pada Felicia dan seketika merasa prihatin. Tentu saja Ares tak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Aku akan menyelamatkan keduanya! Kalau perlu sampai aku mati! Kalaupun tidak ada yang selamat, aku akan tetap berjuang membalaskan kejahatan setiap orang Aku...aku....,” Teriak Felicia karena tak kuasa lagi memikirkan jawaban dari teka teki yang menjatuhkan mentalnya tersebut.
“Aku, aku akan menempuh jalanku sendiri untuk menyelamatkan kedua orang tuaku! Aku akan ikhlas menghadapi semuanya! Aku...aku...,” Tangis Felicia pecah.
Tubuh Felicia bergetar hebat mengimbangi teriakan dan rasa pedih di hatinya.
Ares memeluk Felicia.
Sementara minotaur yang buta hanya terhenyak sesaat mendengar apa yang dikatakan Felicia.
Anak yang kuat. Pikirnya. Namun, di saat yang sama minotaur yang buta juga merasa kasihan.
Minotaur yang buta menyadari bahwa bocah di depannya benar-benar memikirkan jawaban teka teki ini dengan sungguh sungguh. Teka teki yang sama sekali tidak memiliki jawaban.
“Wahai anak manusia, anak manis, aku bisa melihat hatimu. Kau berjalan di atas jalan kebenaran. Kau anak yang baik. Kehidupan telah membuatmu mempelajari banyak hal. Aku menyukai pribadimu. Sesungguhnya teka teki ini tak memiliki jawaban,”
Kata minotaur yang buta sembari bangkit dari tempat duduknya. Minotaur yang buta mendekati Felicia yang masih menangis hebat dalam pelukan Ares.
“Jawaban dari teka teki ini ada di tangan Tuhan. Dan bagaimana dewa memutuskan, serta apa yang diinginkan para malaikat,” Lanjut minotaur yang buta.
“Nak, berhentilah menangis. Masa depan yang panjang menantimu. Satu hal pesanku, jadilah orang yang ikhlas akan segala hal,” Kata minotaur yang buta sambil tersenyum.
Walaupun jauh dalam hati, minotaur yang buta ikut terharu dan merasa sedih.
“Baik-Baiklah....,” Kata Felicia mulai berhenti menangis.
“Namaku Hesperos. Aku mengizinkanmu untuk memasuki lapisan maze pertama,” Kata minotaur yang buta itu sembari merentangkan tangandan tersenyum lebar.
Felicia dan Ares melangkah masuk. Menyusuri jalan maze pertama.
****
Seperti dugaan Ares, maze pertama tidak ada musuh ataupun penjagaan sama sekali. Bahkan mereka berdua sampai di pemberhentian maze selanjutnya dengan waktu yang singkat. Apa karena mereka mendapat izin dari penjaga maze pertama, Hesperos. Hingga mereka tak dikenai satu jebakan pun.
Mereka begitu bersyukur.
Felicia dan Ares berjalan menuju pintu maze kedua. Sebuah gubuk berdiri di samping pintu. Seseorang berada di dalamnya, terlihat dari jendela yang terbuka.
*Tok!
Tok! Tok*!
Ares mengetuk pintu gubuk itu pelan-pelan. Takut kalau nantinya gubuk rapuh itu akan roboh. Seseorang di dalam masih saja diam.
*Tok!
Tok! Tok! Tok*!
__ADS_1
Ares mengulanginya.
“Masuk!” Jawab orang yang ada di dalam gubuk.
Ares masuk bersama Felicia yang tengah mengencangkan tali ranselnya.
Felicia mengangguk. Mereka bersama-sama memasuki gubuk.
“Kita harus hati-hati,” Bisik Ares ketika mereka mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam gubuk.
Gubuk itu begitu sederhana. Sebuah tempat tidur, sebuah lemari, satu set meja dan kursi, dan sebuah perapian. Seseorang duduk di salah satu kursi. Tubuhnya seperti manusia dengan dua tanduk melengkung dan wajah kerbau. Minotaur.
Bedanya, tubuh minotaur di depannya lebih kecil. Tidak seperti minotaur yang ditemuinya tadi, Hesperos. Hesperos yang buta memiliki tubuh besar, gempal, dan kekar. Sedang minotaur yang ada di depannya bertubuh kecil.
“Duduklah. Akan kubuatkan teh hangat. Kamu pasti datang dari tempat yang jauh, Nak,” Kata minotaur kecil itu kepada Felicia.
Felicia menurut dan duduk di salah satu kursi. Teh hangat di tuangkan oleh minotaur di depannya pada sebuah gelas dari tanah liat. Bau teh mengepul harum. Melati kering yang dipadukan dengan mint.
“Minumlah. Kau akan merasakan sensasi teh paling nikmat,” Kata minotaur di depannya.
Remang-remang Felicia melihat minotaur di depannya tersenyum.
Teh hangat itu terasa begitu nikmat. Rasanya hampir seperti teh yang disajikan di istana Zelinekia. Namun, sesuatu dalam teh itu mengingatkannya sesuatu. Momen bersama keluarga. Felicia tersenyum.
Felicia merasa dia semakin dekat untuk menolong kedua orang tuanya.
“Hesperos yang buta itu pasti luluh melihat anak kecil yang manis sepertimu. Aku tidak akan seperti dia,” Kata minotaur di depannya.
Felicia terkejut. Dia mengira semua minotaur bisa membaca pikirannya. Ternyata minotaur di depannya malah tidak tahu tujuannya datang ke maze ini.
“Aku berasal dari Ibukota Deolinikia. Aku mengungsi ke Kerajaan Zelinekia untuk mendapatkan perlindungan dari Ratu Ajanta atas kejaran pasukan khusus pemerintah Deolinikia. Ratu Ajanta memberikanku petunjuk untuk menyelesaikan maze Labirin
Zelinekia agar aku mendapatkan kekuatan serta petunjuk dari inti maze ini.
Ratu mengatakan di dalam maze ini terdapat bagian dari rahasia suci Deolinikia yang mungkin bisa memberikan petunjuk kepadaku,” Kata Felicia.
“Hemnnn, jadi begitu. Kupikir kau tidak berbohong,” Kedua mata minotaur itu menatap Felicia begitu dalam.
“Siapa namamu, Nak?” Tanya minotaur itu.
“Felicia. Aku bersama seorang robot pelindung, Ares,” Jawab Felicia.
Ares di samping Felicia mengangguk menatap minotaur di depannya. Ares sejak tadi fokus dengan setiap gerak gerik sang minotaur.
Minotaur itu mendongak menatap langit-langit gubuk. Surai putih minotaur di depan Felicia terlalu panjang dan berkibar ketika tertiup angin dari jendela.
Setiap minotaur dapat meramal seseorang.
“Huh, Hesperos tidak ingin semangatmu memudar. Aku juga menyadari itu. Kupikir kau anak yang baik,” Kata minotaur di depannya kemudian.
“Jadi, apa teka tekinya?” Tanya Felicia bersemangat.
“Aku bukan Hesperos dengan teka teki asal-asalannya!” Kata minotaur di depan Felicia dengan ekspresi kesal.
__ADS_1
Minotaur kecil itu bangkita dari duduk dan berjalan ke lemari di sudut ruangan. Dia menyobek selembar kertas kosong. Saat kembali duduk, minotaur itu memberikan kertas itu kepada Felicia.
“Apa ini?” Tanya Felicia heran menatap kertas kosong di tangannya. Tidak ada tulisan untuk di baca. Apa tujuannya?
“Kertas. Berikan itu saat kau bertemu penjaga maze ketiga. Itu tiket VIP. Penjaga maze ketiga akan mengizinkanmu langsung, kalau kau berhasil melewati maze kedua ini,” Kata minotaur di depannya.
“Lalu, petunjuk khusus maze kedua ini apa?” Tanya Felicia penasaran.
“Pertanyaan yang bagus. Dengarkan baik-baik. Mengalirlah, ikuti alur kehidupan seperti sulur tanaman yang mencari kehidupannya sendiri. Hindari kemurkaan dan ikutilah kebaikan. Hanya itu,” Kata minotaur itu.
“Wah, aku bingung. Apa itu teka teki?” Tanya Felicia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bukan! Cepat keluar dari sini! Ini waktunya tidur untukku!” Kata minotaur di depannya dengan nada kesal.
Minotaur di depannya sama sekali tidak suka disamakan dengan Hesperos.
“Tunggu! Beritahu aku siapa namamu?” Kata Felicia bertahan di depan pintu.
Ares juga ikut menahan sang minotaur yang mendorong Felicia.
“Huh, baiklah. Namaku Medea Sang Penjebak! Selamat bersenang-senang di maze kedua,” Kata minotaur di depan Felicia sembari menutup pintu gubuk dengan kasar.
Mengalirlah, ikuti alur kehidupan seperti sulur tanaman yang mencari kehidupannya sendiri. Hindari kemurkaan dan ikutilah kebaikan.
Felicia bersemangat saat keluar bersama Ares dari gubuk.
****
“Jadi, kemarahan itu warna merah dan kebaikan itu warna biru?” Tanya Felicia kepada Ares.
Ares mengangguk. Analisisnya terhadap kata kata yang diucapkan Medea sudah selesai sejak mereka berhasil keluar dari jaring laba laba raksasa yang memperangkap mereka saat menginjak pola bunga teratai di lantai maze yang berwarna merah.
Di maze kedua, ukiran yang terpahat di setiap dinding labirin memiliki warna-warna yang berbeda. Felicia sudah dua kali terkena jebakan menyebalkan. Terperangkap jaring laba-laba raksasa dan terkena semprotan air limbah entah dari mana.
Dua kali terkena jebakan saja keadaan mereka sudah sangat buruk. Felicia lelah dan Ares menggendongnya selama dua jam terakhir.
Mengalirlah, ikuti alur kehidupan seperti sulur tanaman yang mencari kehidupannya sendiri. Hindari kemurkaan dan ikutilah kebaikan.
Lalu, yang mengalirlah, ikuti alur kehidupan seperti sulur tanaman yang mencari kehidupannya sendiri. Apa maksudnya?
Felicia dan Ares beristirahat sejenak. Felicia membersihkan bajunya yang basah dan kotor. Felicia membuka perbekalan dan makan. Felicia menatap ke atas dan baru menyadari sesuatu. Maze ini seperti kubus yang setiap sisinya tertutup. Harus diselesaikan untuk mencari jalan keluar.
Bagaimana kalau dia dan Ares terperangkap di sini? Bisakah nanti kalau Ares menghancurkan saja atapnya? Lalu bagaimana dengan rahasia kekuatan suci Deolinikia?
Langit-langit dari maze ini hanya berupa kegelapan tanpa dasar.
Felicia mendesah kecewa. Seperti sulur yang mencari kehidupan. Tidak mungkin ke atas sana yang penuh kegelapan. Kalau begitu,
Felicia berbinar. Dia baru saja memecahkan teka teki mengalirlah, ikuti alur kehidupan seperti sulur tanaman yang mencari kehidupannya sendiri.
Felicia mulai mencari pola teratai yang saling mengait dengan bunga berwarna biru.
Mereka menemukan kuncinya.
__ADS_1