Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 12 Musik dan Penembak Jitu


__ADS_3

“Setelah ini kita akan menuju sebuah tempat yang unik,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia dan Ares.


“Tempat seperti apa? Kenapa bisa dibilang unik?” Tanya Felicia kepada Ratu Ajanta.


“Tentu saja unik, kamu akan tahu sendiri setelah melihatnya,” Kata Ratu Ajanta membuat Felicia penasaran.


Benar saja, gedung besar dua lantai di bagian kiri istana memiliki halaman dengan berbagai tanaman bunga di atasnya. Kupu-kupu berterbangan ke sana kemari. Pintunya terbuka lebar.


Prajurit keluar dan masuk silih berganti. Mereka seperti bergantian dalam melakukan sesuatu di dalam sana. Felicia dan Ares merasa penasaran.


Teng! Teng!


Teng!


Tiba-tiba jam besar di menara berbunyi nyaring. Tiga kali dentangnya menandakan tengah siang. Waktu istirahat dan makan siang untuk semua.


Prajurit berhamburan keluar dari bangunan dua lantai ini. Mereka akan menuju tempat


makan. Ratu Ajanta bersama Ares dan Felicia menunggu hingga semua prajurit pergi meninggalkan gedung itu.


Ratu mengangkat salah satu tangannya agar prajurit segera berjalan bukannya malah memberi hormat dan berlama-lama berlutut di depan ratu.


Setelah gedung benar-benar kosong, rombongan Felicia memasuki gedung itu.


Felicia dan Ares dikejutkan oleh pemandangan arena menembak yang luas. Beragam senjata api terpampamg rapi


di seluruh dinding. Targetnya pun macam-macam. Beragam bentuk dan ada target


bergerak. Pistol tangan terlihat berjajar di sebuah rak. Sepertinya itu khusus.


Tempat itu kosong. Ada sebuah tangga menuju ke lantai atas. Namun, Felicia dan Ares masih ingin melihat-lihat senjata-senjata yang ada di dinding.


Baru beberapa menit, terdengar suara gesekan biola memenuhi ruangan. Felicia dan Ares penasaran menengok ke kanan dan kiri tetapi tidak ada siapapun yang memainkan biola.


Ratu Ajanta sudah menunggu di dekat tangga.


“Kalian penasaran kan? Ayo, kita naik ke atas,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia dan Ares.


Ares dan Felicia pun mengikuti Ratu Ajanta menaiki tangga menuju lantai atas. Di lantai atas terdapat sebuah rak berisi buku-buku tentang musik. Sebuah piano besar, sebuah gitar, terompet, drum, dan alat musik lainnya. Bisa dibilang lengkap.


**Katanya cinta itu seperti air laut


Asin ketika kau menyesapnya


Manis ketika kau melihatnya


Sejuk ketika kau menyelaminya


Bahagia ketika kau ingin mencapainya

__ADS_1


Ketika dunia mulai terlihat rapuh


**Semua penghuninya riuh ricuh


Banyak orang yang mengeluh*


*Akan banyaknya korban peluh


Gadis kecil yang manis


Tahukah kau?


Masih banyak PR negeri ini yang harus dikerjakan


Dunia ini adalah paduan yang kompleks


Di mana kita harus tahu dan mau


Menerima semua perbedaan ini


**Menerima dengan ikhlas


Sehingga kita tahu


Ke mana cerita ini akan di bawa*


*Ke mana cerita ini akan dilangsungkan


Oleh mata dunia


Di tengah ruangan seorang berdiri memainkan biola sambil melihat partitur. Nada-nada pelan yang teratur.


Manis. Begitulah kesan pertama saat mendengar permainan ini. Seolah memakan permen selama beberapa menit.


Orang yang bermain biola berhenti ketika menyadari ada yang melihat dirinya bermain musik. Orang itu berbalik dan refleks memberi hormat kepada Ratu Ajanta. Dia adalah Will.


“Kakak, permainan musiknya bagus,” Kata Felicia masih takjub dengan pertunjukkan singkatnya.


“Benarkah? Terima kasih,” Kata Will sambil tersenyum.


“Maukah kakak bermain piano untukku?” Tanya Felicia.


“Boleh, tetapi kita makan siang dulu. Aku sudah menyiapkan makanan. Mau makan siang bareng kakak?” Tanya Will dengan senyum hangat.


“Mau, Kak,” kata Felicia berbinar.


Will menatap ratu dan ratu mengangguk. Artinya ratu juga berkenan makan siang di sini bersama-sama. Makan siang di sebuah ruangan penuh alat musik. Felicia tak akan pernah menemukan yang seperti ini jika tidak keluar dari ibukota.


****

__ADS_1


“Kak, mainkan Chopin untukku. Mungkin beberapa prelude,” Kata Felicia.


Will berbinar melihat Felicia tahu banyak tentang musik. Will pun semangat saat bermain piano. Nadanya selaras dengan partitur di depannya. Setengah jam Will asyik bermain piano. Hingga tanpa dia sadari Felicia menangis dengan air mata yang


begitu deras.


Ratu Ajanta dan Ares bahkan tidak menyadarinya karena fokus mendengarkan permainan musik Will. Mereka semua baru sadar ketika Will berhenti bermain piano. Ratu Ajanta terkejut dan segera memeluk Felicia.


Will masih tercengang, dia tak tahu apa yang terjadi. Sejak tadi Will hanya bermain piano sesuai permintaan Felicia.


“Felicia sayang, kenapa kamu menangis? Apa ada yang salah?” Tanya Ratu Ajanta kepada Felicia.


“Ti-tidak, a-aku ha-nya ter-teringat sa-saat a-yah me-main-kan piano de-ngan pre-lude ya-ng sama u-untuk-ku. A-aku rin-du ayah.... Ak-u rindu ibu... Hiks..hiks.. hiks. ...,” Kata Felicia sesenggukan.


Tangisnya semakin menjadi. Rasa perih di dada Felicia menyembur memenuhi setiap sendi tubuhnya. Sakit yang tak tertahankan.


Ratu Ajanta memeluk erat Felicia. Will mengusap wajahnya yang berkeringat. Will tak habis pikir dengan permintaan Felicia. Will tahu perasaan Felicia karena dia


pernah menjadi yatim piatu. Will jadi ikut sedih dan merasa bersalah.


“Felicia, maafkan kakak,” Kata Will kepada Felicia sembari mengusap kening Felicia pelan.


Felicia menghirup napas panjang berusaha mengusir tangisnya dan mulai bicara.


“Tidak, Kak. Permainan kakak bagus membuatku bahagia. Aku hanya merasa kehilangan. Kenapa tidak ayahku lagi yang memainkan piano untukku?” Kata Felicia masih disela air matanya.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak belajar dan bermain piano sendiri? Mungkin dengan begitu perasaanmu akan lebih lega. Aku bersedia mengajarimu, setelah kamu bisa bermain musik kamu bisa menunjukkkannya kepada ayahmu nanti,” Kata Will memberi semangat kepada Felicia.


Felicia menatap wajah tampan Will yang kini berkaca-kaca. Felicia semakin terharu karena ada orang yang mau mengajarinya bermain piano selain ayahnya. Felicia melompat memeluk Will.


“Kenapa Will begitu baik?” Tanya Ares kepada Ratu Ajanta melihat Will memeluk Felicia


dengan penuh kasih sayang.


Ratu Ajanta tersenyum menatap Felicia dan Will kemudian beralih menatap Ares.


“Will itu yatim piatu sejak kecil. Dia juga suka musik karena kenangan kedua orang tuanya,” Kata Ratu Ajanta kepada Ares.


“Jadi, begitu. Apa yang membuat ratu tertarik menjadikan Will sebagai salah satu Ksatria?” Tanya Ares lagi kepada Ratu Ajanta.


“Will adalah penembak jitu. Tidak ada yang menandinginya. Dia tidak bisa memakai sihir. Oleh karena itu, dia bisa terus berjuang tanpa membutuhkan mana. Dengan begitu bisa


dibilang Will adalah ksatria yang kuat,” Jelas Ratu Ajanta kepada Ares.


Ares mengangguk paham.


Setelah itu, Will menunjukkan beberapa teknik menembak kepada Ares. Lalu, mereka pamit untuk kembali ke istana.


"Kak Will, ajari aku menembak. Aku ingin menyelamatkan kedua orang tuaku," Kata Felicia sebelum mereka pamit kembali ke istana.

__ADS_1


Felicia sudah memutuskan. Felicia akan belajar dengan giat di negeri ini. Felicia yakin kalau dikemudian hari, semua itu akan dia butuhkan. Felicia akan kembali. Menyelamatkan kedua orang tuanya. Harus.


__ADS_2