
Lelah
Di tengah jalan tiada akhir
Dalam bendungan rasa getir
Di bawah matahari yang mulai pudar
Di atas Bumi yang nanar
Lelah,
Dalam hasrat yang mulai bercelah
Semakin ke dalam, maze semakin meremang. Pencahayaan dari dinding maze semakin buruk. Ares menyadari kemungkinan kalau semakin masuk ke dalam maze, semakin kuno juga desain dan struktur bangunannya. Kemungkinan besar maze Zelinekia ini di bangun bertahap pada tahun-tahun bahkan peradaban yang berbeda pula.
“Apakah kau Medea?” Tanya Felicia kepada minotaur di depannya yang memiliki surai putih yang sama dengan Medea penjaga maze kedua.
“Bukan! Aku memang kembarannya. Tapi jangan bilang aku sama dengan Medea! Namaku Adena. Jadi, apa yang Medea katakan kepadamu?” Tanya minotaur bernama Adena di depannya.
Mereka kembar tetapi nama mereka jauh berbeda. Dan sepertinya mereka juga sama-sama tidak suka dengan kembarannya.
“Dia memberikanku ini,” Kata Felicia sembari menyerahkan lembaran kertas yang tadi diberikan oleh Medea sebelum memasuki maze kedua.
Adena menerima kertas itu dan memandanginya lama sekali. Seolah ada tulisan yang terukir di sana. Adena tampak menghayati saat memandangi kertas itu. Felicia sampai penasaran dengan isi kertas kosong itu dan ikut melihat dengan saksama.
Sama saja. Kertas itu tetap kosong melompong. Bersih tanpa tinta tanpa noda. Tetapi mata Adena tampak basah. Dia menangis? Hanya dengan memandangi kertas kosong?
Felicia menggeleng memikirkan kemungkinan yang begitu konyol tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang tersirat di dalam kertas kosong itu. Mungkin curahan hati Medea kepada Adena? Pikir Felicia dalam hati. Ya, itu kemungkinan terbaiknya.
Atau jangan-jangan itu ramalan Medea dan beberapa nasihat untuk Adena? Atau tentang dirinya? Kepala Felicia pening memikirkannya. Entahlah.
Masih dalam rasa penasaran dan keheranan yang luar biasa. Felicia melamunkan segala kemungkinan yang terjadi. Banyak hal yang mungkin terjadi di dunia ini. Tiba-tiba tangan Adena mengelus kepala Felicia. Felicia berjengit kaget dan menatap Adena dengan rasa aneh. Ada apa? Begitu arti tatapan Felicia kepada Adena.
Baru kali ini ada minotaur yang mengelus rambutnya. Kenapa? Ada apa?
__ADS_1
“Kamu anak baik. Aku terharu. Medea bahkan luluh dan hanya memberimu beberapa jebakan kecil. Kurasa aku akan memberikan diskon besar untukmu. Aku akan mengurangi 90% jebakan pada maze ketiga. Itu semua karena kamu berusaha melewati maze ini dengan jalan damai. Tidak seperti kebanyakan orang,” Kata Adena kepada Felicia.
Adena masih mengelus kepala Felicia.
Felicia tidak mencegahnya takut menyinggung perasaan Adena.
“Aku tidak mengerti. Sepertinya kalian sama-sama mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui. Kalian baik sekali mempersilakanku lewat di maze kalian. Sebenarnya ada apa?” Tanya Felicia memberanikan diri ingin mengetahui kenapa dia diperlakukan istimewa.
Felicia menatap Adena.
Mata Adena berkilat. Dia menggertakkan giginya.
“Ada orang rusuh yang berusaha memasuki maze ini dengan jalan kekerasan. Mayoritas minotaur dikerahkan di sana untuk menahan orang itu. Kami pikir kamu lebih pantas untuk sampai ke inti maze daripada orang itu. Kamu yang berada di jalan kebenaran lebih pantas mengetahui rahasia itu,” Jelas Adena kepada Felicia.
“Jadi, begitu. Terima kasih atas semuanya. Apa sekarang aku dizinkan untuk menyusuri lapisan ketiga maze ini?” Tanya Felicia bersemangat.
“Tentu saja. Sebentar,” Jawab Adena yang kemudian mencari sesuatu di sebuah kantong.
Sebuah kantong hitam kecil yang tampak penuh isinya. Adena menyerahkan kantong itu kepada Felicia. Felicia membuka kantong yang diberikan Adena itu. Isinya beberapa emas permata, lengkap dengan koin-koin emas.
Felicia menatap Adena heran.
“Adena, terima kasih,” Kata Felicia tersenyum kepada Adena.
“Ya, satu pesanku. Jalani hidup ini dengan ikhlas. Apapun rintangannya tetaplah semangat. Masa depanmu masih begitu panjang,” Kata Adena.
“Selamat jalan! Namaku Adena Sang Pencuri, hati-hati di jalan,” Teriak Adena sambil melambaikan tangannya.
Felicia terkejut saat berada sepuluh meter jauh dari Adena. Dia meraba pergelangan tangannya. Jam tangan kristal peninggalan kedua orang tuanya itu masih di sana. Liontin kalung miliknya juga masih ada. Aman.
Felicia pikir Adena mengambil jam itu. Sebutan sang pencuri itu mengejutkan Felicia.
Felicia melambaikan tangan ke arah Adena.
Jadi, sebenarnya apa yang telah Medea curi?
__ADS_1
****
Di dalam maze ketiga Felicia dan Ares sibuk dikejar oleh batu-batu besar yang menggelinding ke sana kemari. Ares sudah sepuluh kali menghancurkan batu-batu yang menghimpit mereka di dinding maze. Anehnya lantai maze yang datar itu bisa membuat batu-batu berbentuk bulat menggelinding.
Batu-batu ini memiliki bentuk yang beragam, bahkan struktur fisik mereka juga berbeda. Ada bola batu yang murni batu, ada yang tanah, bahkan ada yang baja. Begitu menyulitkan Ares ketika ingin menghancurkannya. Keremangan maze membuat warna bola besar itu sama dan sangat sulit dibedakan.
Bukankah seharusnya permukaan tanahnya lebih miring agar bola-bola batu seperti itu dapat menggelinding? Ares mendengus kesal. Bukankah Adena berjanji akan menghilangkan 90% jebakan di maze ketiga ini?
Lantai maze di sini bahkan tidak memiliki kemiringan. Semuanya datar.
Bola-bola batu itu seolah tahu di mana keberadaan Felicia dan Ares. Mereka bisa berhenti, berputar, dan mempercepat pola gulirnya diri mereka sendiri. Begitu menyebalkan.
Sementara itu Adena masih di pos penjagaannya tersenyum. Dia merasa telah memberikan jebakan yang tepat untuk anak kecil seperti Felicia. Tentunya Ares pasti melindungi Felicia.
Tiga jam Felicia dan Ares berlarian di dalam maze hingga bola-bola batu itu benar-benar habis dan dihancurkan oleh Ares. Tidak ada jalan lain.
****
Maze keempat dan maze kelima.
Sepuluh orang penjaga minotaur bertubuh kekar di depan pintu masuk maze keempat dan kelima. Hanya dengan melihat Felicia dan Ares penjaga itu mengizinkan mereka untuk masuk ke lapisan maze keempat dan kelima.
“Ares, kenapa mereka diam saja melihat kita?” Tanya Felicia kepada Ares masih heran dengan kelakuan minotaur yang menjaga gerbang maze keempat dan kelima.
Padahal jelas-jelas mereka bersenjata lengkap. Palu besar dan kapak tajam.
“Berdasarkan informasi dari data yang kusimpan, para minotaur memiliki komunikasi telepati antar sesamanya,” Jelas Ares.
“Jadi, kemungkinan besar mereka sudah tahu kalau aku mendapatkan izin dari penjaga sebelumnya?” Tanya Alice kepada Jawhead.
Ares mengangguk. Kalau begitu pantas saja penjagaan mereka selalu kuat.
“Seperti data dari Adena, maze keempat dan kelima berupa perkampungan minotaur dengan keamanan yang ketat,” Kata Ares sambil menunjukkan beberapa adanya identifikasi jebakan di setiap sudut dindingnya.
Felicia mengangguk paham. Sepertinya saat melewati maze ini, mereka juga harus menjaga kesopanan saat berbicara dan melakukan apapun.
__ADS_1
Felicia berusaha beramah tamah di maze ini. Sementara Ares masih termangu. Pikirannya melangkah lebih jauh, dia memikirkan adanya penantang lain yang masuk melalui pintu maze di sisi yang lain.
****