
Felicia kecil berlarian di dalam ruangan lab. Professor Arion tak bisa menahan senyumnya ketika si permata kecilnya menyentuh beberapa barang buatan logam yang sudah jadi.
Wajah Felicia kecil tampak begitu polos dan indah. Professor Arion berharap kalau putrinya itu juga pandai seperti dirinya dan kelak bisa bermanfaat untuk tanah Deolinikia.
Professor Arion sedang meninjau ulang hasil pekerjaan di sebuah tablet dan notenya. Coretan kertas ada di mana-mana. Masih perlu sesuatu yang lebih untuk membuat jiwa artificial intelligence yang sempurna seperti manusia. Tidak. Lebih dari manusia. Professor Arion ingin sekali menciptakan teknologi itu untuk putrinya. AI HFFFCRISHA1 ini harus berhasil dan bisa disempurnakan dalam waktu dekat.
Membawa anak-anak ke lab bukanlah ide yang baik. Namun, Felicia berbeda, dia tahu untuk tidak mengganggu pekerjaan ayahnya. Felicia lebih sering bermain sendiri setelah dilepas di dalam lab. Paling-paling Felicia hanya mengambil beberapa logam atau batu yang berbentuk aneh untuk ditunjukkan kepada ayahnya.
Desain dalam coretannya masih sama seperti tadi. Professor Arion tak habis pikir telah menambahkan beberapa coretan lagi yang malah membuat desainnya menjadi begitu tabu. Kalau direalisasikan mungkin akan membuat sistemnya lebih lambat.
Professor Arion memutuskan untuk berhenti sejenak. Dia merasa kalau kecapekan membuat dirinya kurang konsen. Beberapa hari terakhir dia tidur terlalu larut bahkan pernah tidak tidur sama sekali.
Professor Arion menghela napas berat, apa mungkin semakin bertambahnya usia dia menjadi semakin pikun? Atau dia mulai kehilangan kecerdasan? Professor Arion membayangkan semua itu dan mulai takut, dia belum mewujudkan mimpinya.
Manusia tidak selamanya dalam kondisi yang sama. Professor Arion menatap Felicia kecil yang sedang ada di sudut ruangan. Manusia harus bisa melampaui batasan dan menjadi lebih baik dari ras lain.
Professor Arion berjalan mendekati Felicia di sudut ruangan. Tadinya seorang petugas memberikan sesuatu yang dia minta. Sepertinya alat tulis.
Benar saja, Felicia sedang mencoret-coret sebuah kertas. Awalnya seperti penampang daun. Kemudian, menjadi lebih kompleks seperti ada aksara-aksara sihir elf. Tidak mungkin Felicia tahu, kemungkinan itu semua hanya imajinasinya. Felicia berhenti sejenak dan menatap hasil karyanya sebelum melanjutkan.
Dalam penampang daun itu dia membuat lagi seperti hubungan antarsaraf. Belum merasa cukup kompleks, Felicia menambahkan sebuah gambar lain di tengah-tengah. Seperti sebuah ubi dengan tiga bagian berbeda. Ubi itu seperti mengeluarkan benang akar halus menjuntai ke seluruh gambar.
Apa ini peta pemikiran? Professor Arion menggeleng sendiri. Professor Arion bangkit dan berusaha melihat gambar dari sisi lain. Berharap menemukan sesuatu yang lebih masuk akal daripada sebuah ubi.
Namun, baru beberapa menit Professor Arion menyerah dan ikut duduk di depan Felicia kecil.
"Sayang, boleh kau ceritakan apa yang kau buat?" Tanya Professor Arion kepada Felicia kecil.
Felicia sebenarnya sudah fasih berbicara hanya saja dia lebih sering diam dan mengamati. Sesuatu yang berbanding terbalik dengan Ibunya Atashya yang banyak berkomentar tentang apapun.
Felicia mengangguk kecil dan tersenyum. Gigi seri yang telah tumbuh rata itu tampak manis dan menggemaskan.
__ADS_1
Felicia menunjuk bagian tengah. Ubi yang terakhir dia gambarkan. Jari kecilnya menunjuk ke bagian ubi paling atas yang bentuknya lebih besar.
"Pusat hati," Kata Felicia dengan mata yang berbinar.
Professor Arion tertarik dan memasang wajah paling antusias miliknya.
"Semua bermuara di sini. Tapi di sinilah semuanya terbatas, " Felicia tampak serius dengan ucapannya.
Professor Arion mengangguk seolah paham. Padahal dalam benaknya Professor merasa kalau itu adalah kemampuan input dan output yang terbatas.
"Di sini semua perhitungan terjadi. Jumlah permen dan boneka yang kusimpan," Felicia melanjutkan.
Tangannya menunjuk bagian yang masih satu satuan dalam ubi tadi. Bagian bawah dari bagian pusat hati tadi.
Felicia beralih ke bawahnya lagi.
"Ini tempat Felicia memutuskan untuk mengunyah permen terakhir kemarin," Kata Felicia.
"Nanti sepulang dari sini ayah belikan ya, sekarang ayah mau tanya ini apa?" Professor Arion masih ingin mendengarkan Felicia.
"Beneran, Yah? Wah, terima kasih ya! Bagian yang mana?" Felicia langsung bersemangat melanjutkan ceritanya dan menanyakan bagian mana yang ingin ayahnya tanyakan.
Tangan Professor Arion menunjuk ke serabut-serabut benang akar lembut yang seolah saling mengait dengan garis bentuk-bentuk seperti aksara elf.
Felicia mengangguk dan berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Ini kemampuan Felicia untuk melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan, Yah," Felicia menunjuk serabut-serabut itu.
"Ini adalah rumah kita, yang ini adalah laboratorium ayah, yang ini adalah kolam depan rumah, yang ini adalah taman kota, dan yang ini adalah dunia fantasi Felicia," Jelas Felicia panjang lebar.
Professor Arion merasa putrinya begitu luar biasa. Ternyata setiap garis memiliki makna, memiliki esensi yang berbeda-beda. Padahal entitas mereka sama. Bagaimana Felicia membedakan semua itu?
__ADS_1
Ah, tentu saja dengan input kode yang berbeda. Pusat hati itu sudah ada, tinggal menyempurnakannya. Mungkin benar Professor Arion perlu menambahkan banyak serabut benar akar-akar itu lebih banyak. Bagian ubi juga harus ia lengakapi. Memori dan pusat keputusan, secara tidak sadar Felicia telah menggambar penampang otak manusia.
Penambahan aksara elf juga sepertinya ide bagus. Kemungkinan besar hasilnya akan lebih sempurna dan luar biasa. Seperti yang dikatakan oleh Felicia.
****
Dengan berat hati, pagi itu Professor Arion memutuskan untuk menyalin memori Felicia sebagai pelengkap jiwa HFFFCRISHA1.
Professor Arion merasa tidak yakin untuk membuat esensi jiwa buatan melalui komputer. Jiwa buatan melalui itu hasilnya selalu sama seperti ciptaan-ciptaannya yang terdahulu. Kecuali, seseorang yang hidup mau masuk ke dalam kehidupan jiwa buatan, tetapi itu beresiko.
Beberapa juga mustahil. Karena itu, Professor Arion memutuskan untuk menyalin memori Felicia. Seluruhnya, bersama perasaan dan emosi yang Felicia miliki.
Mulai dari ketika apa yang dirasakan saat Felicia memperoleh ruhnya hingga saat ini berusia lima tahun. Semua ini sebenarnya begitu menyalahi aturan dan sangat tidak berperikemanusiaan.
Namun, semuanya harus dilakukan agar jiwa AI yang dibuat oleh Professor Arion benar-benar memiliki hati dan dapat berinteraksi layaknya manusia berperasaan.
Professor Arion sudah meminta izin kepada Atashya, dan istrinya itu menyetujui permintaan Professor Arion dengan sennag hati. Atashya yakin kalau semua memori Felicia baik-baik saja dan dalam keadaan bahagia. Tidak ada memori buruk yang dapat melukai hatinya dan membuatnya menjadi stress.
Semua ciptaan dan usahanya ini Professor Arion tujukan kepada Felicia seorang.
Felicia telah duduk di ruang tunggu. Kakinya bergerak-gerak resah. Binar matanya masih seperti biasanya dan menatap ke Professor Arion yang datang dari ruang penyalin. Professor Arion mendekati putri tercintanya itu. Dan membisikkan sesuatu yang membuat binar kebahagiaan di mata Felicia kembali terpancar.
Professor Arion menggandeng Felicia memasuki ruangan. Felicia di suruh berbaring pada sebuah tempat tidur kecil. Senyum Felicia masih mengembang seolah dia akan baik-baik saja.
Professor Arion tahu kalau semua proses penyalinan memori ini akan memaksa Felicia mengingat semua yang pernah terjadi padanya. Itulah kenapa Professor Arion memilih Felicia, usianya masih kecil dan hanya kenangan indah yang ada dalam memorinya.
Kalau saja Professor Arion hidup di masa yang damai, bukan pada pertumpahan darah Deolinikia pastinya dia akan mau dengan senang hati untuk melaksanakan penyalinan memori ini.
Tempat tidur Felicia di dorong untuk memasuki sebuah lorong silinder. Professor Arion mulai melaksanakan tugasnya. Memori Felicia disalin. Satu hal risiko yang tidak Professor Arion sadari, jiwa Felicia akan tumbuh melebihi usianya. Risiko terberat mengulang data yang pernah dilewatinya.
Jiwa memang bisa dipadukan dengan teknologi tetapi banyak yang harus dikorbankan untuk menyempurnakannya.
__ADS_1