Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 20 Sang Cahaya


__ADS_3

Boommm!!! Buuuk! Buk! Sreet! Sreet! Booom!


Boommm!!! Booom!


Booom!


Buuuk! Buk! Sreet! Sreet!


Pertarungan sengit terjadi antara Ares dan Aldous. Felicia telah terpental ke dinding maze. Tubuhnya sangat sakit. Akhirnya dia memilih bersimpuh menutup wajah di belakang Ares. Felicia menutup kedua telinganya setiap kali Ares menembak. Rasa panas dan sakit begitu terasa setiap kali Aldous menyerang.


Serangannya begitu ganas dan kuat. Tubuh logam Ares terkoyak sebagian. Bunga api muncrat ke mana-mana setiap Ares terjatuh. Wujud kulit manusia milik Ares juga telah mengelupas menampakkan logam-logam penyusunnya. Felicia semakin takut dan sedih.


Kondisi mereka berdua benar-benar mengenaskan. Pertarungan ini tidak seimbang. Aldous yang segar bugar melawan Ares yang sudah melakukan perjalanan jauh dan tenaganya menipis.


Serangan mecha suppression dan smart missile Ares hanya berterbangan layaknya debu di tubuh Aldous. Ejector yang dia lakukan di saat-saat tertentu hanya seperti mendorong lemah tubuh Aldous. Berkali-kali Jawhead juga mencoba dengan kombinasi lain. Variasi serangan terus dilakukan Ares dengan kecanggihan teknologinya.


Bahkan kini wujud Ares kembali seperti semula, sebelum dia berubah menjadi sosok Ares. Sosok HFFFCRISHA1 dengan bentuk mekanik terkuatnya. Pelontar misil, pedang besar, dan moving speed penolak gravitasi yang hebat.


Namun tetap saja, seolah Aldous dapat membaca seluruh gerakan yang Ares lakukan. Ares hampir tidak punya kesempatan untuk melancarkan serangan unstoppable force miliknya. Kalaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya, pastilah gagal karena Aldous sudah menyiapkan transform untuk melindungi tubuhnya. Ares pun menggunakan ejector untuk lari menjauh dari Aldous sembari meluncurkan smart missilenya.


Booom!


Booomm! Boommm! Boooooomm!


Boooommmm!!!


Boooommmm! Boommm!


Itu misil terakhir Ares. Habis. Peluru kecil pun habis. Kini waktunya dia menggunakan otot robotnya. Pertarungan tangan kosong sembari menunggu mananya penuh. Felicia tak bisa membantu. Dia hanya meringkuk ketakutan di belakang. Terkadang menangis karena Ares terus menerus terkena serangan.


Aldous memiliki skill yang lumayan hebat. Gerakannya lincah. Paduan dari serangan explosion dan soul steal membuat Ares kewalahan apalagi dengan dikombinasikannya chase fate ketika Ares benar-benar sakit. Serangan Ares sama sekali tak berarti karena transform Aldous yang begitu kuat.


“Bagaimana? Apa kau akan tetap memaksakan diri untuk memasuki inti maze? Lihat dirimu sendiri! Kau seperti rongsokan! Dengan kekuatanmu yang sekarang kau tidak pantas untuk masuk ke dalam inti maze! Kau harus mengalahnan diriku terlebih dahulu! Hahaha!” Teriak Aldous dengan seringai jahat.


Aldous sama sekali tak memiliki rasa belas kasihan.


Aldous memanglah kuat. Tapi dia jahat.


Ares memandangi dirinya sendiri yang tubuhnya terkoyak. Ares tiba-tiba merasa sangat sedih karena tidak bisa melaksanakan amanat yang diberikan lepadanya. Dia harus melindungi Felicia apapun yang terjadi .


Mata Ares memandangi dinding di balik punggung Aldous. Tidak salah lagi, di sanalah pintu maze ketujuh. Itulah alasan kenapa Aldous hadir di sini. Memindahkan pertarungan Axdiel dan Ratu Ajanta beserta pasukan mereka ke gurun menggunakan portal. Dan sekarang menghalangi Ares untuk melintasi jalan ini.


Akhirnya Ares memiliki ide. Diambilnya ramuan Nero dari ransel Felicia. Felicia dipapahnya. Ares menyiapkan ejectornya. Dalam hitungan detik ketiga Ares melesat memakai ejectornya ke arah Aldous. Otomatis Aldous menghindar. Ares melontarkan botol ramuan ke arah Aldous, botol itu dipukul oleh Aldous dan pecah menjadi asap putih yang begitu pekat.


Nero pernah memberikannya ramuan itu untuk melarikan diri dari musuh. Ramuan itu bekerja dalam waktu yang lama untuk sebuah tipuan. Sekitar lima menit untuk asap pekatnya benar-benar hilang. Selain kepekatan asapnya yang begitu kentara, ramuan itu juga mengandung beberapa zat kimia yang membuat mata perih dan napas sesak.


Ares terus melaju. Menggunakan smart missilenya yang sudah terisi dengan mana yang sedikit untuk menghancurkan gerbang maze ketujuh. Ares berlari. Kabur dari Aldous yang sedang marah-marah di belakang.


Aldous memiliki pengilhatan yang buruk. Asap itu juga mengganggu pernapasannya.


Ares terus berlari walaupaun logam tubuhnya berbunyi berkelontangan tak karuan. Tubuh logam Ares tak akan bisa bertahan lama menahan semua serangan Aldous.

__ADS_1


****


Maze ketujuh benar-benar buntu. Apalagi sejak berhasil memperdaya Aldous dan kabur ke dalam maze tujuh. Felicia terbaring lemah di dekapan Ares. Ares sendiri pusing dengan segala kemungkinan terburuk.


Aldous mungkin mengetahui semuanya dan ikut menyusul masuk ke dalam maze ketujuh. Dia mungkin masih memburu Ares karena merasa dihina dan ditipu. Ares sendiri menyadari tidak mungkin menang melawan Aldous dengan keadaannya seperti ini.


Lelah dan Felicia yang berperan sebagai otak kedua dalam keadaan sakit. Tidak ada jalan keluar. Bahkan maze ketujuh, seluruh lorongnya menuju tempat buntu. Setiap kali Ares mengikuti jalan yang berbeda, Perjalanan Ares selalu berakhir pada dinding tinggi dan tebal.


Sudah delapan kali Ares lari ke sana kemari mencari jalan keluar. Hasilnya sama. Delapan cabang liku maze ini berujung buntu pada tembok beton tinggi dan besar. Sedang langit-langit maze hanya berupa kegelapan tanpa dasar.


Ares akhirnya bersimpuh di lantai maze dekat jalan buntu kedelapan. Ares masih berpikir tentang Aldous. Serangannya yang begitu kuat. Tatapannya yang kejam. Tubuhnya yang tampak mengerikan. Lengan kanan Ares yang kini hancur. Misil yang habis. Apalagi ini. Sendi-sendi robotnya yang kaku.


Ares hampir merasa menyerah. Dirinya seperti tak berguna. Bukankah tugasnya hanya satu? Melindungi Felicia. Kenapa begini? Bagaimana nasib Felicia tanpanya?


Tiba-tiba whusssshhh whusssshh


Angin bertiup dari arahnya berlari tadi. Aldous, pikir Ares.


“Ares, apa yang terjadi?” Felicia terusik karena suara angin yang begitu kencang.


“Sepertinya itu Chase Fate milik Aldous, kita harus menghindarinya!” Kata Ares kepada Felicia sembari bangkit berdiri.


“Ares, kita gunakan misil balistik modifikasi terakhir,” Kata Felicia kepada Ares teringat mereka sempat membuat misil baru saat berada di Istana Kerajaan Zelinekia.


“Kau benar, tapi itu nanti. Kita harus menunggu waktu yang tepat. Chase Fate mungkin sempat kita hindari, tetapi explosion dan soul stealnya parah membuat kita sakit, Felicia”


Angin semakin kencang. Chase Fate milik Aldous dapat membidik dari jarak yang sangat jauh. Ditambah kombinasi explosion dan soul stealnya akan menjadi serangan sangat kuat. Jika saja Ares berhasil menghindari salah satu serangan, Ares akan memiliki kesempatan untuk menggunakan unstoppable forcenya. Lalu, Ares akan menggunakan ejector dan smart misile.


Terakhir seperti ide dari Felicia, menggunakan misil balistik buatan tangan kreatif mereka.


Sreeettt!!!


Greeeekkkkk! Bruuukkkk!!!!!


Sreeettt!!!


Greeeekkkkk! Bruuukkkk!!!!!


Ares menghimpit Aldous ke dinding maze. Aldous tampak terkejut dan kesulitan melepaskan diri. Ares meluncurkan ejector dan smart missilenya. Lalu, misil balistik sebagai bonus.


Booom!


Booomm! Boommm! Boooooomm!


Boooommmm!!!


Boooommmm! Boommm!


Bruukk!


Serangan berhenti. Ares berhasil mematahkan tangan Aldous, tetapi Ares sendiri kehilangan kedua lengannya. Misil habis. Ares masih berusaha menendang Aldous. Tetapi Aldous menggunakan explosionnya untuk menahan Ares dan melontarkannya. Ares terguling lalu tergeletak tak berdaya. Kedua lengannya hancur. Bunga api memercik dari kedua lengan Ares.

__ADS_1


Aldous bangun. Siap dengan explosion dan soul stealnya.


Felicia menangis hebat dan berlari memeluk Ares. Felicia menggoyangkan tubuh logam Ares. Ares berusaha bangun. Namun, semakin dia berusaha percikan bunga api di mana-mana. Dia kehabisan energi.


Aldous mendekat. Tubuh Felicia gemetar ketakutan melihat Aldous dengan seringai kejamnya. Felicia tidak bisa apa-apa. Felicia segera meraih ranselnya mengambil sebilah pedang dan pistolnya. Kini dengan kuda-kuda gemetar, Felicia memegang sebilah pedang dan sebuah pistol.


Ares menarik baju Felicia dan menatap Felicia.


“Jangan Felicia. Berbahaya! Kau bisa celaka! Dia terlalu kuat, larilah! Cepat! Lari Felicia!!” Kata Ares berteriak.


Felicia menolak. Felicia bersikeras untuk tetap berada di tempat.


Sementara Aldous semakin dekat. Dengan kedua tangan menyala.


“Tidak Ares! Aku akan di sini menolongmu! Tidak apa walaupun aku harus mati!” Teriak Felicia dengan wajah penuh air mata.


“Tidak Felicia! Jangan!” Ares berusaha mencegah Felicia.


Aldous kini di depan mereka berdua.


“Kau! Jangan sakiti Ares! Dia satu-satunya keluargaku!” Teriak Felicia dengan tubuh gemetar mengacungkan sebilah pedang ke arah Aldous.


Air mata mengalir deras.


“Dasar anak kecil! Kau berani menggertakku!” Aldous geram.


Kedua tangannya terangkat untuk mengeluarkan kekuatannya.


"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Feliciaberteriak sekeras yang dia bisa.


Gelombang suara milik Felicia merambat di setiap dinding-dinding maze dan menggetarkan lantai maze. Aldous di depannya yang tidak sempat menutup kedua telinga merasa kesakitan. Kekuatan Aldous pada kedua tangannya padam.


Dengan ekspresi yang tak bisa diartikan, Felicia menarik pelatuk pistolnya yang sudah teracung lurus pada kepala Aldous. Sementara tangan kirinya yang memegang pedang berayun ringan menusuk jantung Aldous.


ARRRRRGHHhhHHHHHHHH


Aldous mengerang kesakitan. Tubuhnya memancarkan api dan meleleh lava. Panasnya menyengat kulit Felicia yang masih berdiri di depan Aldous. Tubuh Felicia kaku solah tiada lagi jiwa di sana.


"Felicia! Lari dari sana! Tubuh itu akan meledak!!" Ares mengingatkan Felicia stelah analisisnya terhadap ldous selesai.


BOOOOOOOMMMMM!!!!!!


Tubuh Aldous meledak.


"Felicia!!!!!" Ares berteriak.


Tiba-tiba semuanya berubah menjadi silau dan terang benderang.


Ares perlahan menyesuaikan diri dan menatap langit-langit maze. Ares menatap lurus ke arah Felicia, Aldous tidak ada. Hanya Felicia yang tergeletak. Hanya cahaya. Tidak ada siapapun yang datang.


"Apa yang terjadi?" Teriak Ares yang kini sudah berdiri.

__ADS_1


Setelah itu sebuah suara merambat di udara.


Wahai manusia, aku Sang Cahaya. Aku datang untuk membantu orang yang berjalan di atas jalan kebenaran. Felicia, hatimu begitu suci. Baik dan santun tabiatmu. Aku akan memberimu pertolongan.


__ADS_2