
*Ketika rentang waktu berada dalam animo
Dan jangkauan letak bukan lagi masalah
Jarak menjadi kunci yang harus artikan*
Hari-hari berlalu seperti berlari. Felicia mengejar jarak dan berusaha melampauinya. Jarak seharusnya ada untuk kita bisa menyemai benih rasa rindu agar kemudian kita bisa menanamkan cinta dan harapan pada pelataran ranah hati kita masing-masing.
Tahun-tahun berlalu dengan begitu cepat. Mungkin satuan pfd (perfaktor dimensi) adalah satuan yang tepat untuk mengukurnya. Ketika waktu berlalu Felicia mengejar ketulusan dan keikhlasan di tempat yang jauh.
Ya, tempat jauh yang bahkan belum pernah Felicia kunjungi. Belum pernah ayah atau ibunya yang mengajaknya sekadar untuk berwisata. Hidup seolah bagaikan kerangkeng besi, penjara keseriusan dan ketegangan.
Semuanya seolah harus dilakukan dengan menguras pikiran. Nyatanya semua itu benar adanya dan menjadi kenyataan. Kita tak bisa pasrah kepada takdir. Kita harus berusaha agar Tuhan menilai kinerja kita. Hanya langkah kecil berlari di pelataran gereja atau masjid bagi seorang anak kecil memiliki nilai sendiri.
Setidaknya jarak bukan alasan atau batasan bagi seseorang. Felicia membuktikan semua itu dengan kegigihannya. Walaupun pada akhirnya sang pembuat ceritalah yang menentukan ke mana Felicia akan berlari.
Will mengatakan kalau kuat itu bukan hanya memiliki pengetahuan, kekuatan, kekuasaan, dan harta yang melimpah. Namun, kebaikan dan keikhlasan hati kecillah yang menjadi dasarnya.
__ADS_1
Ratu Ajanta hanya seorang manusia. Namun, dia memiliki pembawaan yang bijaksana dan penuh wibawa. Sang ratu mampu menghapus jarak dengan rakyat dan siapapun. Ratu mampu membuat semuanya seolah berada dalam keadaan yang aman dan terlindungi. Padahal ratu sendiri tidak mampu membawa pulang adiknya tetapi ratu tidak menyerah.
Distance. Jarak. Perlu dieja. Bait-baitnya memiliki teka-teki yang harus dijawab. Seperti Labirin Zelinekia. Seperti perjalanan hidup ini. Begitulah data yang tersimpan dalam memori Ares.
****
Felicia dan ksatria putih memasuki inti Ibukota Deolinikia. Suasana malam hening. Lewat pukul dua belas. Felicia memasuki kompleks proyek Dawn Deolinikia.
Kawasan proyek organisasi kejahatan yang telah bekerja sama dengan pemerintah umum untuk mencelakai keluarganya. Padahal ayahnya telah melaksanakan tugas dengan baik.
"Terlalu banyak. Mereka lebih banyak daripada ketika dulu kita melarikan diri. Petugas khusus sekitar lima puluh orang di sekitar Lab. Belum lagi pasukan khusus yang... tidak, hampir seratus tersebar di seluruh kawasan ini," Jelas dalam bisikan Ares sambil menggelengkan kepala.
Kalau saja mereka mengeluarkan suara, pasukan khusus yang mendengarnya akan segera menghabisi mereka.
Nero dan Will meminta persetujuan Ares untuk menumpas petugas dan pasukan khusus di sekitar gerbang yang masih berlalu lalang. Jumlah mereka banyak dengan senjata yang sangat canggih dan memadai.
Felicia menahan Nero dengan menarik bajunya.
__ADS_1
Nero berbalik menatap mata Felicia yang berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir, ini tugasku. Temukan apa yang kau cari ya. Aku akan baik-baik saja," Bisik Nero sambil tersenyum.
Felicia memeluk Nero, sebelum melepasnya terjun dalam kejaran pasukan khusus.
Kagaya mengawal Felicia dan Ares memasuki kawasan proyek Dawn Deolinikia. Mereka masuk semakin dalam. Pasukan khusus teralihkan oleh hiruk pikuk yang diciptakan oleh Nero dan Will.
Sampailah Felicia di depan Lab. Felicia hendak melangkah ke depan tetapi ditahan oleh Ares. Ares seperti merasakan sesuatu. Kagaya juga terdiam.
"Kekuatan yang sangat besar," Bisik Ares.
Aura kekuatan besar itu berasal dari sisi kanan mereka. Belum sempat Kagaya dan Ares menoleh sesuatu berdebum keras di hadapan mereka.
Boooommm!!!!
Felicia, Ares, dan Kagaya terjatuh di lantai.
__ADS_1