
Dua bulan kemudian...
Pelatihan bermain pedang dengan Kak Selly, Kak Kagaya, dan Max Tiger sudah dilaluinya. Berkutat bersama sihir dan alkimia juga sudah Felicia selesaikan bersama Kak Nero. Kak Will juga telah dengan senang hati memberikan pistol dan melatihnya menembak.
Benar, dua bulan yang melelahkan dan sangat berat untuk Felicia. Namun, semua itu baginya belum cukup. Dia harus kembali.
Candra yang mulai menampakkan diri dan baskara yang mulai pergi, hadir dalam kekosongan hati. Hati kecil Felicia terhenyak akan rasa kehilangan dan kebimbangan. Perasaan yang memberikan lubang besar dan dalam pada hatinya. Sendi-sendi hatinya pun kini mulai rapuh dan kaku. Pada setiap bagiannya kehilangan rasa kasih sayang dan kenyamanan.
Felicia tertunduk menatap rerumputan di bawah balkon kamarnya. Seharusnya di saat-saat seperti ini dia sedang minum teh hangat bersama kedua orang tuanya. Bersenda gurau dan membicarakan hal-hal mengasyikkan lainnya. Ibunya yang tersenyum dan ayahnya yang tertawa renyah.
Namun, kini Felicia sendirian menatap dinginnya hawa malam. Bulan tak mampu lagi
membuatnya tersenyum bahagia. Hati kecil Felicia sakit setiap kali menyadari kenyataan yang terjadi pada dirinya. Tak terasa setetes air mata turun ke pipi dari matanya.
Felicia segera mengusapnya. Dia sudah berusaha untuk tidak cengeng dan menangis di depan siapapun, termasuk di depan Ares. Felicia tidak mau melibatkan semua orang dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Sudah dua bulan lamanya dia tinggal di sini. Kerajaan Zelinekia yang damai dan tentram.
Walaupun terkadang Pangeran Axdiel datang menghantui ratu dan ksatria kerajaan. Negeri ini tetap saja menjadi tempat yang baik untuk menenangkan perasaan Felicia.
Dia bertemu banyak teman dan mendapatkan kasih sayang, serta perhatian dari banyak orang. Tetapi tetap saja, dia merasakan kalau ada sesuatu yang kurang lengkap. Sesuatu yang hilang, lenyap dari kehidupannya. Tentu saja kedua orang tuanya.
Felicia kembali memegang dadanya yang sesak. Dia harus kembali untuk mencari kedua orang tuanya. Feliciq yakin sekali kalau kedua orang tuanya masih hidup. Dia harus pergi menemui keluarganya.
Felicia harus menyelamatkan kedua orang tuanya yang berada dalam bahaya. Namun, seketika Felicia menyadari sesuatu. Felicia mengangkat kedua tangan kecilnya. Dia terlalu ringkih dan kecil. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali mengacau dan menjadi beban.
Dia juga tidak terlalu pandai untuk memutuskan langkah yang tepat dalam waktu yang singkat. Dia tidak bisa melakukan semua itu sendirian. Felicia tahu Ares selalu ada untuk dirinya tetapi dia harus bisa mandiri agar kelak bisa merawat diri sendiri dan tidak merepotkan orang lain.
Felicia menangkupkan kedua tangannya yang mulai terasa dingin. Lalu, Felicia mengusapkan kedua tangannya ke seluruh wajahnya. Air mata mengalir lagi, Felicia tak kuasa menahan kepedihan di hatinya. Felicia mendesah frustasi dengan adanya semua kejadian ini.
“Felicia sayang,” Panggil suara merdu keibuan dari belakangnya.
Tangan yang halus dan lembut menyentuh pundak Felicia.
Felicia segera mengetahui kalau suara dan sentuhan itu berasal dari seorang yang selama dua bulan terakhir ini mengisi kasih sayang di samudera hatinya.
Felicia segera mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Felicia tidak ingin orang lain melihatnya seperti ini.
“Ya, Ratu. Ada apa? Apa yang membuat Ratu berkenan datang ke kamar saya?” Tanya
Felicia.
“Tidak ada apa apa. Aku hanya kebetulan sedang berjalan-jalan. Aku ke sini hanya ingin
membicarakan beberapa hal yang mungkin penting buat dirimu, Felicia,” Ratu Ajanta mengelus rambut Felicia dengan lembut.
Felicia menunduk berusaha menuntaskan sisa-sisa tangisnya tadi.
“Apa itu Ratu?” Tanya Felicia sembari menatap kedua bola mata Ratu Ajanta yang biru safir.
Mata yang indah berwibawa, menyenangkan, tetapi tetap memancarkan ketegasan yang kentara. Felicia berusaha menunjukkan binar rasa riang gembira melalui sorot kedua matanya.
Ratu Ajanta menggeleng. Dia memeluk Felicia dengan erat. Kelembutan dari Ratu Ajanta dan kenyamanan pelukannya membuat Felicia ingat akan kehangatan ibunya.
Hal itu membuat air mata Felicia meleleh lagi.
“Felicia sayang, aku tahu semua yang kamu rasakan. Aku tahu rasanya kehilangan orang
__ADS_1
yang kita sayangi dan kita cintai,” Kata Ratu Ajanta sembari mengusap lembut kepala Felicia.
“A-aku tidak ta-hu, Ratu. Ak-u bingung dengan se-mua ini. Aku ti-dak bisa, aku ti-dak
sanggup,” Felicia tak mampu lagi berkata-kata.
Air matanya sudah terlalu deras dan tenggorokannya tercekat.
Ratu Ajanta mengecup pelan kening Felicia.
“Felicia, kamu itu kuat. Lihat kamu bahkan bisa hidup mandiri selama dua tahun di sini
tanpa kedua orang tuamu. Kau melakukan semuanya dengan segala usaha dan
keikhlasan, aku tahu itu dengan melihatmu selama ini,” Kata Ratu Ananta kepada Felicia.
“Tapi, semua itu berkat bimbingan dan bantuan Ares dan kebaikan, serta kasih sayang ratu,” Kata Felicia kepada Ratu Ajanta.
“Ya, maka dari itu kau juga harus menyayangi Ares. Dia adalah bagian dari keluargamu. Jangan sampai hilang,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia.
“Baik, Ratu,” Felicia mengangguk.
Mata Sang Ratu menatap Felicia dengan penuh kasih sayang. Felicia sudah seperti keluarganya, adik kandungnya. Ratu merasa harus memberikan nasihat-nasihat penting untuk kelangsungan Felicia di masa depan.
“Felicia, kamu sudah besar. Dan kamu cepat paham mengenai berbagai hal, karena kamu
sering mengalami kejadian-kejadian sulit. Aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin penting untuk perjalananmu menemukan kedua orang tuamu kembali,” Kata
Ratu Ajanta kepada Felicia.
Nadanya menunjukkan keseriusan.
“Semua orang pernah mengalami hal yang sulit dan hal yang mudah. Semua itu berjalan
sesuai kehendak Tuhan yang telah menggariskan kodrat kita di dunia. Sedang para dewa dan malaikat hanya memberi petunjuk dan jalan bagi makhluk yang mau
bertanya dan menyembah mereka. Itulah tugas mereka di dunia.
Dari semua itu, kita sendirilah yang menjadi tokoh utama dari suatu cerita. Kita yang tahu dan bisa menentukan ke mana cerita, takdir, dan nasib hidup kita akan di bawa. Apakah ke jalan kebenaran yang penuh kebaikan dan perdamaian? Ataukah ke jalan kejahatan yang penuh kegelapan dan kemurkaan?
Dunia ini begitu kompleks. Kau bisa tahu dengan adanya banyak kaum yang menghuni
semesta ini. Ada manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ada demon atau iblis dengan segala kegelapan dan kemurkaan.
Ada kaum elf dengan segala kedamaian dan kesejahteraan. Ada kaum orc yang ketika berada di manapun kapanpun dijadikan budak. Ada kaum malaikat dan dewa yang menjalankan tugas-tugas tertentu walaupun terkadang melakukannya tanpa alasan yang jelas.
Ketika kau mendengarkan ini, kau akan berkata bahwa semua ini tidak adil. Kau pasti
sudah mengetahui sendiri begitu kentaranya perbedaan antar golongan kaum ini. Sering ada diskriminasi dan pengecualian terutama pada kaum orc dan manusia.
Namun, kamu tahu sendiri bahwa manusia memiliki hasrat yang tinggi dan nafsu yang mengerikan ingin menguasai dunia sejak berdampingan dan menghancurkan kaum demon.
Sebenarnya, manusia bukan musuhmu, Felicia. Kupikir mereka hanya terpengaruh roh demon yang dihancurkan pada seabad lalu hingga mereka ikut terjatuh dalam kegelapan.
Felicia sayang, benar sekali keinginanmu untuk mencari kedua orang tuamu. Aku akan
selalu mendukung dan mendoakanmu. Apa kamu siap mendengar petunjuk yang akan
__ADS_1
aku berikan?” Tanya Ratu Ajanta kemudian.
“Iya, Ratu. Aku akan menempuh jalan kebenaran,” Jawab Felicia dengan nada penuh keyakinan.
“Kamu tahu, jauh di bagian Barat Deolinikia terdapat suatu labirin milik kaum minotaur yang juga masih bagian dari Kerajaan Zelinekia, The Labyrinth of Zelinekia atau Maze Zelinekia.
Bagian dari Kerajaan Zelinekia yang tersembunyi itu terjaga keasliannya. Tidak ada yang berani menjamah labirin itu. Mereka yang berani masuk, tidak akan keluar dengan keadaan selamat.
Di sana tempat minotaur dan centaur hidup. Mereka adalah sisa-sisa rakyat Kerajaan Zelinekia pada peradaban sebelumnya, peradaban yang pernah runtuh. Mereka bergantian menjaga labirin itu. Setiap setengah abad sekali, rombongan minotaur pengelana pulang ke labirin dan menempati
tempat mereka semula.
Sedangkan mereka yang sudah menempati labirin selama setengah abad, mereka akan keluar dan mengembara ke seluruh penjuru benua bahkan mengelilingi dunia dalam tentang waktu setengah abad lagi. Mereka
melakukan semua itu untuk mengetahui keadaan dunia luar dan perkembangannya.
Mereka akan mencari informasi bagaimana musuh-musuh baru dan orang-orang di zaman modern ini. Dengan begitu, mereka bisa menjaga labirin agar tetap aman di
setiap zamannya.
Namun, kamu harus mengetahui ini. Di sana di lorong terdalam, entah di bagian mana ada
seorang yang dulunya bekas rakyat terlantar kerajaan ini. Nah, kamu kan tahu kalau kerajaan ini pernah hancur.
Dan dialah yang selamat tetapi dalam keadaan tidak utuh. Dia bernama Aldous. Menurut legenda yang diceritakan turun temurun, dia adalah seorang penjaga terkuat di labirin itu. Bahkan, Selena kalah saat menghadapinya.
Itu beberapa hal yang perlu kau ketahui. Ada yang jauh lebih penting. Di dalam inti
labirin itu terdapat kekuatan besar yang di cari banyak orang. Di sanalah rahasia suci Deolinikia berada. Entah berwujud apa aku pun tidak tahu. Yang jelas aku yakin sekali kalau kekuatan rahasia itu akan memberikan petunjuk bagimu.
Kamu harus masuk ke sana, ke dalam labirin itu dan menyelesaikan tantangannya. Aku
yakin kamu pasti bisa. Orang yang menempuh jalan kebenaran akan di mudahkan dalam segala urusan,” Kata Sang Ratu Ajanta dengan penuh wibawa.
“Baiklah, Ratu. Besok aku akan pergi bersama Ares menuju labirin itu,” Kata Felicia dengan hati lega mendapat petunjuk ke manakah dia harus pergi.
“Kalau begitu, aku akan menyiapkan segala perlengkapan dan tentu saja menyervis
Ares,” Kata Ratu Ajanta.
“Terima kasih, Ratu. Kau baik sekali kepadaku,” Kata Felicia sambil memeluk erat Sang Ratu.
“Itu karena aku sudah menganggapmu sebagai keluarga, sebagai adikku. Aku selalu
mendukung setiap orang yang mau menempuh jalan kebenaran,” Kata Ratu Ajanta tersenyum kepada Felicia.
Felicia kini tahu, masih ada tempat baginya untuk pulang. Masih ada banyak orang yang
baik. Masih ada orang yang mau mengakui dirinya sebagai keluarga dan memberikannya kasih sayang. Kata-kata Ratu Ajanta benar-benar merasuk dalam hati.
Sebagian menyejukkan sebagian lagi mengisi kekosongan di dalam hati. Keberadaan Sang Ratu memancarkan aura yang memberikan keteduhan dan memberikan kenyamanan.
Air mata Felicia telah mengering sejak tadi. Seolah ada angin sejuk yang sengaja di
kirimkan untuk meniup pergi air matanya. Sabda Sang Ratu Ajanta memanglah
petunjuk terbaik kepada dirinya untuk menempuh jalan kebenaran.
__ADS_1
Semilir angin kedamaian di Deolinikia mengelus pelan rambut panjang Felicia dalam suasana malam yang lebih damai. Malam semakin larut. Ratu Ajanta pamit dan menyuruh Felicia tidur. Masih banyak yang harus dikerjakan dihari esok.