Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 14 Maze Zeolinikia


__ADS_3

“Apakah persiapan sudah selesai?” Tanya Ares kepada Felicia yang tengah merapikan barang-barang di sebuah ransel.


“Sudah,” Jawab Felicia kepada Ares.


“Apa kau yakin akan melakukan perjalanan ini? Bukankah ini terlalu berbahaya bagi


nyawamu? Kau masih terlalu kecil Felicia. Selain itu, perjalanan ini akan menjadi


perjalanan yang sangat panjang.


Aku sudah membaca bahwa The Labyrinth of Zelinekia memiliki maze yang panjang. Menurut orang yang pernah masuk dan keluar, serta buku-buku sejarah, labirin Zelinekia memiliki tujuh lapis maze dengan pola berbeda. Kukira itu terlalu rumit untuk ukuran sebuah maze,” Kata Ares menjelaskan apa yang dia ketahui.


“Aku sudah yakin sekali dengan keinginan ini aku ingin bertemu dengan rahasia suci Deolinikia dan menyelamatkan kedua orang tuaku Ares,” Kata Felicia tersenyum.


“Aku akan menempuh sejauh apapun jalan itu demi setitik kebenaran. Aku ingin sekali


untuk melakukan perjalanan ini. Ratu Ajanta sendiri yang telah memberikanku petunjuk ini. Kukira tiada alasan lagi aku berada di sini.


Dua bulan sudah cukup bagiku untuk recovery merasakan kembali hangatnya keluarga. Dan kini, saatnya aku mengembara mencari dan menemukan apa yang aku inginkan dan aku harapkan,” Jelas Felicia kepada Ares.


Ares senang melihat Felicia yang riang. Felicia terlihat lebih dewasa dibandingkan usianya yang masih sangat kecil. Felicia benar-benar bisa menjadi orang yang mandiri dan kuat. Dia seperti sosok ayahnya.


****


“Aku harap kalian akan baik-baik saja. Ares tolong jaga Felicia baik-baik. Felicia adalah satu-satunya keluarga yang kau miliki,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia dan Ares.


Gerbang istana telah dibuka. Prajurit memberi hormat kepada Sang Ratu. Sinar matahari


pagi terasa hangat, sehangat senyuman dari Ratu Ajanta. Felicia menolak untuk digendong oleh Ares karena dia juga ingin merasakan perjalanan ini.


Jadi, Felicia meminta izin kepada Ares agar Ares mengizinkannya berjalan kaki selama beberapa kilometer. Karena itu juga akan mengurangi beban Ares.


“Ini, peta kuno benua ini. Seluruh Deolinikia dan Kerajaan Zelinekia, serta bagian-bagian lainnya. Semoga membantu. Beberapa mungkin sudah kabur dan berdebu tak dapat dibaca. Namun, aku yakin ini akan bermanfaat dalam perjalanan kalian,” Kata Ratu Ajanta kepada Felicia dan Ares.


“Terima kasih Ratu Ajanta,” Ucap Felicia kepada Ratu Ajanta.


“Selamat jalan,” Kata Ratu Ajanta sambil tersenyum


Felicia dan Ares mengawali perjalanan itu dengan jalan kaki. Pada kilometer pertama,


mereka melewati perkotaan sekitar istana. Ini kali pertamanya mereka keluar dari kota utama kerajaan. Di kota-kota kecil sekitar istana, penduduk seperti pada umumnya. Seperti di kota-kota Deolinikia.


Yang membedakan, di sini semua orang tampak sejahtera dan bahagia. Dilihat dari wajah mereka yang berseri-seri. Tidak ada kerusuhan, semuanya berjalan dengan damai. Kemanan pun terjamin dengan adanya prajurit-prajurit kerajaan yang sedang berpatroli.


Tidak, tidak hanya itu. Prajurit-prajurit ini ramah dan mau membantu para pedagang


misalnya mengangkat dagangan, mengantarkan barang, dan merapikan toko, serta membantu rakyat di sekitarnya yang membutuhkan bantuan. Ini seperti dunia


impian semua orang. Kedamaian.


Mereka berjalan hingga cukup jauh. Mungkin sekitar dua puluh kilometer dari kerajaan.


Felicia sudah lelah dan matahari mulai meninggi. Akhirnya di siang hari yang


panas itu, Felicia dan Ares beristirahat dan berlindung di bawah sebuah pohon besar.


Felicia mengamati keadaan di sekitarnya. Rumput Indian mulai tampak dan mulai rapat,


serta pepohonan juga mulai jarang. Ini artinya sebentar lagi mereka akan sampai di sebuah padang rumput.


Felicia membuka ranselnya dan mencomot sebuah kue yang menjadi bekalnya. Semilir angin meniup anak rambut di dahi Felicia. Suasana padang rumput dengan angin yang melintas kuat mulai terasa.


Setelah makan, Felicia naik ke punggung Ares. Dia sudah lelah untuk berjalan. Selama satu jam mereka beristirahat. Membuka peta dan menunjuk-nunjuk bagian Barat dari benua. Ya, di mana tempat itu adalah labirin Zelinekia. Kali ini mereka akan berlari melintasi padang rumput yang begitu luas.


Di dalam gendongan, Felicia membuka peta itu kembali. Kalau dengan jarak seperti ini


dia sudah bertemu dengan padang rumput yang luas, dia mengira akan sampai di tempat berikutnya pada esok hari.


Ada sekitar sepuluh tempat berbeda yang tandanya jelas dan bisa di baca di peta. Setelah padang rumput yang luas, akan ada sebuah gurun pasir tanpa pohon.

__ADS_1


Di dalam kemudi Felicia tertidur setelah melipat peta itu kembali.


****


Felicia terbangun dalam suasana senja. Dia mengusap kedua matanya mengusir sisa rasa kantuk. Di lihatnya sekitar. Dia berada di tepi sebuah oase. Hal itu tampak pada adanya pohon-pohon kelapa dan hamparan danau di tengah pasir.


Berarti dia sudah berada di gurun pasir. Ares terlihat sedang membuat api unggun. Lalu, di atas sebuah batang pohon kelapa yang dijadikan seperti meja, tampak beberapa ikan yang di tusuk memakai ranting.


“Ares,” Panggil Felicia kepada Ares. Kedua bola mata Felicia menelusuri seluruh bagian


tempat itu mencari Ares.


“Wah, jadi kau sudah bangun. Kau tahu, Kita sudah separuh melewati gurun ini. Kebetulan karena kecanggihanku, aku bisa mendeteksi keberadaan oase ini. Aku juga menangkap ikan dan kau bisa membakarnya di sini,” Kata Ares tersenyum sambil menunjukkan api unggun yang menyala terang.


Felicia mengangguk dan mulai memanggang ikan itu di atas api. Ares duduk di atas


batang kelapa yang tumbang. Setelah ikan matang, Felicia memakannya.


“Felicia, kupikir ada jalur yang lebih dekat agar kita sampai di Labirin Zelinekia lebih awal. Dua hari, melewati hutan belantara. Bagaimana menurutmu?” Tanya Ares kepada Felicia.


“Kupikir itu ide bagus. Di bagian mana hutan itu?” Tanya Felicia.


“Sekitar sepuluh kilometer ke Barat dari sini,” Jawab Ares.


“Kalau begitu kita lewat sana saja,” Kata Felicia menyetujui.


“Baiklah, kalau begitu tidurlah. Sudah malam,” Kata Ares.


Felicia mengangguk, tetapi dirinya masih ingin terjaga menatap rangkaian gemintang yang bertaburan di galaksi. Rasi bintang begitu terang malam ini. Bintang Pleiades bercahaya sangat terang. Seterang hati Felicia yang sudah memiliki rasa ikhlas.


Satu jam Felicia masih bertahan.


Hingga Ares bangun dan memeluk Felicia.


“Felicia sayang, sudah malam. Sudah cukup, ayo tidur,” Bisik Ares di telinga kecil


Felicia.


perih. Dia harus tabah dan teguh. Semua yang terjadi adalah takdir. Masih banyak tantangan dan hal lain yang menunggu di depan sana. Apa ia mampu menerima semua takdir itu dengan ikhlas?


****


Paginya Felicia mengisi botol minumnya di oase. Memasukkan beberapa ikan sisa tadi malam ke dalam ransel untuk bekal di jalan nanti.


“Ayo kita berangkat Ares,” kata Felicia bersemangat.


Felicia naik ke gendongan Ares dan mulai berjalan.


“Kenapa kita tidak lari?” Tanya Felicia heran ketika Ares hanya berjalan sambil menggendongnya.


“Jika kita berlari di atas pasir, kita hanya membuang tenaga. Seperti halnya berlari


dalam air,” Jelas Ares kepada Felicia.


“Jadi begitu. Aku akan membaca petanya,” Felicia mulai membuka gulungan peta.


Hutan belantaranya seperti sangat lebat. Di tepian hutan tak terlihat jelas batasan antara gurun dan hutannya. Awalnya Felicia hanya menganggap kalau hal itu mungkin terhapus karena usia peta. Namun, kalau dilihat dengan saksama lagi, bagian perbatasan gurun dan hutan garisnya bergelombang.


Felicia jadi ingat hal yang pernah diajarkan oleh Nero. Tentang gelombang. Jika dalam


hal apapun ada yang tampak seperti gelombang, berarti ada suatu keadaan di mana ada perubahan drastis di sana. Seperti memadukan dua kutub yang sama dan saling


tolak menolak.


“Ares, kita harus berhati-hati ketika sampai di perbatasan hutan dan gurun. Kemungkinan ada sesuatu tersembunyi di sana. Aku tidak bisa melihat jelas batasnya di peta,” Kata Felicia kepada Ares.


“Oke, Felicia. Aku mengerti,” Ares berpikir segala kemungkinan bisa terjadi di sana.


Ares mulai berjalan ke arah hutan untuk mempersingkat perjalanan menuju Labirin

__ADS_1


Zelinekia.


****


“Felicia, bagaimana? Apa ada hal aneh menurutmu di sini?” Tanya Ares sembari mengamati keadaan sekitarnya. Beberapa kali jongkok dan mengamati pasir di tepi hutan.


Kini mereka berada di tepi hutan, tepatnya di perbatasan hutan dan gurun. Suasana sepi sekali. Tak ada satu pun hewan yang melintas. Hutan di depan mereka tidak


seperti hutan pada umumnya yang ramai akan hewan dan serangga.


“Ares coba kau ambil batu-batu itu dan lemparkan ke perbatasan gurunnya,” Kata Felicia yang sedikit memperkirakan ada jebakan tak kasat mata.


Felicia memunguti batu di sekitarnya dan mulai melempar satu per satu.


"Ares mungkin yang lebih besar," Felicia meminta Ares melemparkan batu yang lebih besar.


Ares menunggu reaksi pasir dan udara di sekitarnya selama beberapa detik. Dan benar


saja pasir di perbatasan itu perlahan berputar membentuk pusaran hingga batu tadi tenggelam dalam pasir. Pasir hisap. Jebakan mematikan gurun pasir.


Ares semakin semangat dan melempari garis perbatasan dengan batu. Ada beberapa


bagian yang aman untuk dilewati. Akhirnya mereka selamat dan bisa masuk ke


dalam hutan.


“Felicia, terima kasih ya,” Kata Ares.


“Aku hanya menebak karena gambar di peta tak begitu jelas. Yang penting kita selamat


dan tidak terjebak pasir hisap itu,” Kata Felicia kepada Ares.


Felicia berpikir bahwa kini akhirnya dia bisa bermanfaat untuk Ares.


Felicia sudah belajar banyak.


“Kalau begitu bagaimana dengan hutan ini menurutmu Felicia?” Tanya Ares.


“Hutan ini akan menjadi sangat lebat ketika kita semakin dalam. Tak ada keterangan


ataupun penjelasan hewan buas yang berkeliaran,” Jelas Felicia.


“Berarti aman?” Tanya Ares.


“Tetapi kita harus berhati-hati,” Kata Felicia memberi nasihat.


Ares mulai berlari menyibak perdu dan semak berduri. Semakin dalam dia menjelajahi hutan, semakin lebat dan gelap keadaannya. Ares sampai-sampai menyalakan lampu sihir pemberian Nero untuk penerangan. Tetapi Ares terus berlari.


Lama sekali berkutat di dalam hutan yang gelap dan lebat. Tidak ada hewan buas dan


tidak ada serangga bersuara. Hanya ada burung-burung berwarna abu-abu di ranting-ranting pohon. Burung itu begitu banyak dan tampak seperti hantu. Tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara.


“Felicia, seharusnya kita sudah keluar dari hutan ini. Kenapa kita masih di sini?” Tanya


Ares yang lelah. Berjam-jam berlari selalu kembali ke tempat yang sama.


“Kau benar, ini aneh, kita kembali ke tempat yang sama beberapa kali,” Felicia pun


mengecek kompas yang di bawanya.


Felicia berdiri kelelahan di samping Ares. Kompas itu berputar tidak karuan. Setiap


kali Ares berubah arah, kompas juga berubah arah.


“Kompas eror, tidak bisa diandalkan di hutan ini Ares,” Felicia bingung.


"Mungkin medan magnet di sini terlalu besar," Tambah Ares.


Sejenak mereka berhenti dan berpikir. Hingga menit-menit berlalu cepat dan Ares mendapatkan ide.

__ADS_1


“Kenapa tak kau coba cara Nero?” Tanya Ares kepada Felicia.


__ADS_2