Mengeja Jarak Dan Batasan

Mengeja Jarak Dan Batasan
Episode 6 Perpisahan B


__ADS_3

Tembakan itu secepat kilat bersarang di lengan kanan Professor Arion. Peluru dengan dua puluh kaliber itu membuat lengan kanan Professor Arion berlumuran darah.


Tulang humerusnya sudah hancur. Tak ada lagi harapan untuk bisa menggerakkan tangan kanannnya. Namun, Professor Arion tetap berusaha untuk tersenyum.


“Setelah ini, kau akan dihukum Prof!” Teriak salah satu anggota pasukan khusus.


“Silakan, tetapi aku juga punya beberapa rencana cadangan walaupun semua ini beresiko! Kalian tidak akan pernah mendapat teknologi tercanggih itu! Karena aku akan membuatnya berada di tangan orang yang benar!” Kata Professor Arion dengan percaya diri sambil menahan rasa sakit pada lengannya.


“Apa? Kau punya rencana lain....,” Belum sempat ketua pasukan khusus menghabiskan kata-katanya terdengar suara gemuruh mendekat.


Semakin dekat.


Bukan goncangan atau gempa, melainkan gemuruh robekan udara. Anggota pasukan khusus terkejut apalagi ketika terdengar banyak raungan dan teriakan mengerikan dari luar sana.


Suara gemuruh itu semakin dekat. Suaranya semakin jelas, seperti raksasa yang berlari.


“Apa it-.....” Bangunan bagian depan hancur lebur mengenai anggota pasukan khusus yang kini terkapar.


Robot itu mengaum begitu kerasnya. Professor Arion berusaha membantu istrinya bangun tetapi sia-sia. Istrinya sudah tak mampu lagi untuk berdiri.


Sementara Felicia kecil menangis tersedu dan tambah ketakutan ketika melihat robot beraura mengerikan yang tak lain adalah HFFFCRISHA1.


“Selamat-kanlah a-nak ki-kita, dia lebih penting untuk masa depan,” Atashya mengalah dan menyuruh suaminya untuk menolong anaknya.


Professor mengangguk.


Dia beralih ke anaknya, permata hati pertamanya. Felicia.


“Felicia, kau untuk sementara bersama HFFFCRISHA1 ya sayang...., bersama dia kamu akan aman sayang,” Professor Arion berlinang air mata ketika mengatakan itu.


Segera Professor membopong Felicia ke depan HFFFCRISHA1. HFFFCRISHA1 menerima Felicia dengan lembut. Felicia kecil meronta-ronta. Dia masih ingin bersama ayah dan ibunya. Hatinya sakit, tenggorokan ya tercekat, tak kuasa menahan rasa sedih yang begitu dalam.


“Ayahh... Ibu....,” Air mata Felicia mengalir deras.


HFFFCRISHA1 segera menggendong Felicia dan memegangnya dengan begitu erat. Felicia kecil terus memberontak berusaha melompat dari gendongan HFFFCRISHA1. Namun, Felicia menyerah karena tahu usahanya akan sia-sia.


Tangis Felicia semakin menjadi-jadi. Dia harus berpisah dengan kedua orang tuanya sedini ini. Bukankah di usia ini anak kecil bermain dan mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua?


Sang Professor tidak tega melihat anaknya dalam keadaan seperti ini. Dia masih berusaha membantu Atashya untuk berdiri.

__ADS_1


Dor!


Peluru itu telak mengenai kaki Professor. Dia tak mampu lagi berdiri dan mengerang kesakitan. Istrinya menangis dengan tersendat-sendat. Akhirnya, Sang professor menatap HFFFCRISHA1 dengan mata berkilat menahan rasa sakit. Akhirnya, Sang Professor menatap istrinya dan istrinya kemudian mengangguk.


“Haris! HFFFCRISHA1! Ini tugas terakhirmu, jaga Felicia! Cepat pergi dari sini! Tinggalkan kami!” Begitu singkat sebelum anggota pasukan khusus menarik kedua tangan sang professor untuk diborgol.


HFFFCRISHA1 mengaum keras. Dia kemudian menghancurkan apapun yang ada di kanan dan kirinya sebelum akhirnya segera berlari menembus kegelapan malam. Keluar dari ibukota dan memasuki hutan belantara Deolinikia.


Pasukan khusus kewalahan karena pasukan dan pleton-pleton lain yang berjaga di luar sana telah di hancurkan oleh HFFFCRISHA1. Bahkan Laboratorium telah dibumihanguskan bersama karyawannya.


Sambil berlari, HFFFCRISHA1 juga mengamuk dan menghancurkan sebagian bagunan dan jalan-jalan kota. Hampir setengah kota geger dan hancur oleh HFFFCRISHA1.


Robot ini seolah bersayap api. Melesat begitu cepat dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Mode penghancur milik HFFFCRISHA1 berkaitan erat dengan emosi Felicia.


Hal ini tentu saja karena HFFFCRISHA1 adalah salinan jiwa Felicia sendiri.


“Semoga kau baik-baik saja, Nak” Kata Professor Arion pelan hampir berbisik. Sang istri menangis histeris di pelukannya. Keduanya bersimpah darah penuh luka. Namun, rasa sakit yang hadir dari semua luka itu tidak bisa dibandingkan dengan luka di hati mereka yang baru saja berpisah dengan permata hati pertama mereka.


****


Kegelapan malam meremang mencapai fajar. Felicia kecil tertidur di dekapan HFFFCRISHA1. Sementara HFFFCRISHA1 tidak memelankan tempo larinya. Yang HFFFCRISHA1 tahu, dia harus terus berlari sejauh-jauhnya. Menyelamatkan Felicia adalah tugas utamanya.


Dinginnya malam tak mampu mengganggu Felicia. Di dalam dekapan erat HFFFCRISHA1, Felicia sedang bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya. Mimpi yang akan berlangsung sangat lama. Mimpi yang panjangnys tiga hari tiga malam, di mana ketika Felicia bangun dia akan menjadi lebih dewasa jauh dari usianya.


****


Dirundung sakit hati yang sangat dalam. Kegelapan menyelimuti sepekat palung terdalam samudera. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Tidak ada pilihan. Tidak ada setitik kebenaran dan sepanci kebaikan yang akan memberikan pertolongan.


Felicia kecil terus menutup matanya. Dia tidak mau lagi membuaka mata jika hanya diberi dan ditunjukkan adegan mengerikan dan menyakitkan.


Samar-samar terdengar Chopin memainkan Prelude No. 27, DevilTrill's. Nadanya berubah-ubah tiga kali dengan perubahan tidak masuk akal. Membangkitkan emosi dan rasa sakit.


Hiks hiks hiks hiks hiks...


Felicia tak kuasa mendengarkan nada-nada itu. Nada yang selalu dimainkan ayahnya selama tiga tahun terakhir.


Felicia sangat menyayangi ayahnya. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Sekarang dia berpisah dengan kedua orang tuanya.


Begitu menyakitkan. Nada-nada indah Chopin yang mempesona tak lagi terdengar bagus dan luar biasa. Kini nadanya begitu menyayat hati. Sakit, semakin sakit. Hatinya seperti diiris-iris. Air mata terus membanjiri wajah Felicia. Dia segera menutup kedua telinganya dengan kedua tangan yang mungil.

__ADS_1


Kegelapan semakin pekat. Felicia benar-benar tenggelam di pusaran kegelapan. Sebelum hatinya benar-benar gelap, sebuah sisi hatinya yang lainnya mengatakan sesuatu.


“Felicia....,” Suara itu menggema.


Felicia menutup telinganya lebih rapat.


“Felicia, sayang....,” Felicia kecil benar-benar tidak tahan. Namun, suara ini terus berulang tiga kali. Semakin telinganya tertutup rapat, semakin suara itu terdengar.


“Felicia, sayang,” Tidak suara itu bukan berasal dari luar.


Suara itu berasal dari hatinya sendiri. Sisa-sisa kenangan bersama ayahnya.


Felicia mulai berpikir bahwa dia gila.


Dia masih saja berharap kalau dia masih bersama ayah dan ibunya, padahal jelas sekali semua itu hanya khayalan belaka.


Perlahan Felicia membuka mata.


Di depannya ada kedua orang tuanya yang tersenyum menatap Felicia seperti biasa. Namun, Felicia melengos. Semua ini tidak mungkin.


Ini hanya mimpi pikirnya.


“Felicia sayang, maafkan ayah,” Kata sosok ayah di depannya.


Air mata Felicia meleleh lagi. Hangat tetesan air mata dipipinya membuat Felicia semakin terlarut dalam kesedihan.


“Felicia, maafkan ibu,” Ibunya terisak.


Felicia tak tahan, dia memeluk kedua orang tuanya.


“Felicia, kau anak baik. Kau harus mampu hidup sendiri. Kau harus bisa menghadapi semuanya. Ada HFFFCRISHA1 yang akan selalu melindungimu. Semua ini adalah musibah yang tak bisa dihindari. Sekali lagi maafkan kedua orang tuamu ini,” Kata ayahnya sembari membelai lembut rambut anaknya.


“Ayahh, bagaimana mungkin? Aku terlalu kecil untuk melakukan semua itu. Aku takut, aku sedih,” Kata Felicia sesenggukan.


“Percayalah, HFFFCRISHA1 akan selalu memberikan yang terbaik untukmu. Mintalah dia untuk memberikanmu nasihat dan saran,” Kata ibunya sembari mengecup pipi Felicia dengan penuh kasih sayang.


“Baiklah, ayahh ibuuu....” Itu kali terakhir Felicia menatap wajah kedua orang tuanya. Bentuk mereka mulai mengabur dan menghilang seiring berakhirnya mimpi tersebut.


Namun, kini hati Felicia tak lagi terasa sakit. Ada sedikit rasa lega dan percaya diri. Mungkin ini karena kata-kata dan doa dari kedua orang tuanya yang begitu dalam dan ikhlas.

__ADS_1


__ADS_2