
William langsung bergegas mencari Leonore perasaannya tidak enak tiba-tiba dia tidak mau kehilangan wanita itu yang sudah jadi istrinya.
"Will, kau mau ke mana?" panggil Rachel.
"Bukan urusanmu," balas William ketus.
Rachel mengeram kesal namun membiarkan William pergi karena bagaimanapun juga Leonore tidak akan pernah ditemukan karena Danar sudah membereskan ya.
"Lihat saja Will, Leonore tidak akan pernah kembali lagi dalam hidupmu. Kita berdua akan kembali bersama seperti dulu," tawanya lalu kembali masuk ke dalam untuk beristirahat.
Kembali pelayan tersebut mendengar ucapan Rachel mengenai keberadaan ataupun keselamatan Leonore.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku menunggu kepulangan Nona kalinya atau kalau beliau tidak kembali bagaimana?" Pelayan tersebut menjadi dilema.
Sementara itu William terus menyusuri jalan sampai menghubungi Indra agar membantunya.
"Cepat juga anak ini?" gumam William ketika melihat Indra sudah berada di luar rumah ya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Indra ketika sudah masuk ke dalam mobil.
"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak mengenai Leonore," ucapnya.
__ADS_1
"Berarti kau sudah jatuh cinta dengannya, William," tawa Indra.
"Cinta? Aku merasa tidak mencintainya?" elaknya.
"Wajah mu sudah menunjukkan semuanya Will, aku tahu kalau kamu sudah pernah menyentuhnya bukan?" tebak Indra.
"Tidak perlu kau tahu mengenai hubunganku dengannya, privasi," ngotot William.
Indra kembali tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal William. Mereka berdua terus memperhatikan keluar berharap Leonore ada di depan mereka saat ini.
"Will, kau yakin kalau kakak ipar hanya keluar?" William menghentikan mobil dia teringat wajah polos Leonore.
"Aku mau tanya tapi jangan marah, apa kakak ipar saat ini sedang mengandung?" William langsung menatap sahabatnya itu.
William tidak pernah berpikiran kalau Leonore mengandung, dia bahkan tidak mengingat kapan melakukan itu.
"Aku tidak tahu hal itu, Indra," balasnya.
"Coba ingat William, apalagi saat ini ada nenek di rumahmu bisa jadi kakak ipar pergi karena jenuh." William tepuk jidat baru menyadari itu.
"Rachel memang wanita pengacau," rutuk ya.
__ADS_1
"Kau sudah memiliki istri namun masih memelihara sesuatu di rumahmu itu." Indra kembali tertawa terbahak-bahak tidak memperdulikan wajah William sudah kesal.
"Kita lebih baik kembali ke rumah siapa tahu Leonore sudah kembali," ucapnya lalu balik.
Di tempat lain Leonore merasa lebih baik setelah beristirahat cukup lama. Ia merasa tenang tidak ada yang mengganggu kehidupannya di tempat terpencil ini.
"Jam berapa ini?" gumamnya.
Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Beberapa jam yang lalu ternyata hanya ia seorang tinggal di rumah kecil tersebut. Danar kembali ke kota untuk memberikan laporan kepada Rachel.
"Nona Rachel, saya sudah melakukan tugas tersebut sarapih mungkin," lapornya.
"Di mana kau membuat ia selamanya?" tanya Rachel emosional.
"Hutan Nona, anda tidak perlu khawatir mengenainya sekarang boleh saya meminta uang imbalannya?" Rachel langsung menunjukkan beberapa mata uang hingga Danur langsung memungut karena dia butuh uang ini membuka usaha barunya yang baru dibuka.
Rachel dengan senang hati memberikan uang lebih kepada Danur.
"Besok bawa aku ke sana untuk memastikan kalau pekerjaanmu benar," tambah Rachel.
"Baik Nona, saya membawa anda ke sana," balas Daniel datar.
__ADS_1