
Amora mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Lam bahkan pria itu tidak segan-segan menariknya lalu memaksa untuk melayani dirinya.
''Lam, kumohon jangan lakukan itu kepadaku?" mohon Amora sambil mundur ke belakang.
''Apa? Aku tidak bisa melakukannya sementara pria di luar sana begitu bebas melakukan itu kepadamu bahkan di depan mata kami semuanya,'' bentak Lam.
''Aku tidak melakukan itu Lam, pria itu yang melakukannya,'' balas Amora.
''Diam kau Amora! Aku tidak akan menyentuh yang disentuh oleh pria itu melainkan di sana.'' Lam menunjuk ke bawah dua bola mata Amora terbuka lebar.
Jantungnya berdetak kencang tidak bisa berpikir lebih dalam lagi. Saat ini dirinya terjebak dalam lingkaran Lam.
''Sekali ini aku mohon Lam,'' pinta Amora dan tidak bisa lagi bergerak ke mana-mana karena sudah dikunci Lam.
''Katakan Amora, kau mencintaiku atau tidak?" tanya Lam dingin.
Amora membuang wajahnya ke samping dan Lam udah mendapatkan jawabannya. Perasaan pria itu semakin tidak karuan langsung menarik Amora hingga jatuh ke atas tempat tidur.
''Lam, jangan!" Amora berteriak kencang namun tidak ada apapun yang terjadi dalam dirinya.
''Kau pria yang terlalu berambisi namun tidak tepat di mana tempatnya,'' ujar Indra.
__ADS_1
Indra tiba-tiba muncul dari belakang setelah mendapatkan bantuan dari William.
''Ka-kau?!" Lam meringis kesakitan karena tangannya telah dipegang erat Indra.
''Sudah kukatakan jangan menyentuh wanitaku tapi kau tetap ngotot,'' tambah Indra lalu memberikan Lam kepada anak buahnya agar segera diurus.
Kini hanya Amora dan Indra dalam ruangan tersebut tubuhnya bergetar ketakutan melihat aksi pria yang baru saja dikenal ya itu.
''Kau mau menyakitiku?" tanya Amora ketakutan.
''Tidak! Tapi aku akan menikahimu!" Amora terkejut bukan main dari kemarin hingga detik ini Indra selalu mengucapkan kata nikah.
''Oh jadi wanita ini yang membuat putraku sampai datang ke tempat seperti ini,'' ucap mami sambil memeluk Amora.
''Apa putra?'' tanya Amora gugup.
''Ya, kau kan ya merawatku beberapa hari yang lalu di rumah sakit?" tanya mami sambil mengusap wajah Amora lembut.
''Ya Nyonya, maaf sudah membuat kekacauan,'' lirihnya.
''Sudahlah yang penting masalah sudah selesai dan kalian berdua detik ini juga akan menikah.'' Mami mengerlingkan mata agar Indra melakukan sesuatu kepada Amora.
__ADS_1
''Amora, kau masih mau menerima ajakan ku kan?'' tanya Indra sambil berdehem.
''Astaga ibu, ayah bagaimana nasib mereka sekarang?" Amora langsung keluar begitu saja tidak peduli dengan Indra dan mami.
''Apa seperti itu kelakuannya, Indra?" tanya mami heran.
''Lebih dari situ mami,'' jawab Indra lalu keluar menyusul Amora.
''Ibu, ayah kalian baik-baik saja kan?" tanya Amora khawatir.
''Ya nak, pemuda ini yang menolong kami,'' tunjuk ayah Amora kepada William.
''Tuan Muda?!'' pekik ya.
''Santai saja, sebut saja namaku William karena kita sebentar lagi akan jadi keluarga. Di mana pria yang mengaku ngaku sebagai hakim di desa ini?" tanya William dingin sambil menyapu seluruh warga sedang ketakutan.
''Apa yang mau anda lakukan kepada Lam, Tuan?" tanya Amora takut.
''Berikan dia hadiah, memangnya tidak bisa memberikan hadiah kepada sesama pria?" tanya William santai.
''Apa?!" Amora sama sekali tidak bisa mengatakan apapun karena hukuman yang akan diberikan William daripada dirinya.
__ADS_1