
Sesuai janji Danur akhirnya Leonore dipertemukan namun wajahnya ditutupi dengan masker.
Rachel memperhatikannya dari atas sampai ke bawah hingga dia tidak menyukai penampilan Leonore.
''Kenapa harus ditutupi seperti ini?" tanya Rachel kesal.
''Nona jangan membukanya karena Leonore sedang memiliki penyakit serius,'' balas Danur.
''Oh Tuhan, jangan sampai wanita ini mengetahui kalau aku bukan Leonore,'' batinnya.
''Apa itu benar?" tanya Rachel memastikan.
''Leonore tidak bisa berbicara Nona, sakitnya begitu serius kalau dibuka bisa menular nanti,'' tambah Danur.
''Kenapa bisa seperti itu? Jangan dekat denganku awas kalau aku juga sakit nanti?!" ancam Rachel.
''Ketika kami tiba di hutan kami dikelilingi oleh hewan di sana ternyata seperti dugaan para warga sedang mengalami wabah,'' ucap Danur.
''Menyebalkan kalau begitu kau jaga dia jangan sampai hilang dari pengawasanmu,'' perintah Rachel.
''Baik Nona,'' jawab Danur dengan cepat.
Rachel memastikan Leonore sebelum keluar dari tempat itu sehingga suara ponselnya membuat dia harus bergegas meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
''Halo Rey?" Danur hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rachel dia tidak menyangka wanita secantik ini harus melakukan sebuah kejahatan.
''Danur?" panggil Leonore asli.
''Dia sudah pergi kau bisa bebas sekarang,'' ucap Danur.
''Aku tidak menyangka kalau kamu mau masih melindungiku,'' lirihnya.
''Sudahlah yang penting sekarang kau untuk saat ini bebas tapi kedepannya aku tidak bisa menjamin,'' tambah Danur.
''Ya aku mengerti.'' Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di ruang tengah.
''Aktingmu ternyata bagus juga ya,'' kekeh Danur.
''Aku melakukan ini untukmu,'' dengusnya.
''Tidak apa-apa kau santai saja,'' balas Lina kekasih Danur.
Setelah bicara sebentar Leonore izin istirahat di dalam kamar ia termenung memikirkan William.
''Apa pria itu mencariku atau tidak ya?" gumamnya.
Di luar sana William mengamuk tidak berhasil menemukan Leonore. Padahal begitu banyak pengawal bahkan kekuatan sudah dia kerahkan.
__ADS_1
''Apa yang kalian kerjakan dari tadi mencari satu wanita saja tidak bisa?!" sentaknya.
''Tuan, kami kehilangan jejak di simpang empat. Ternyata yang membawa Nona bukan orang sini,'' jawabnya.
''Maka dari itu kalian temukan siapa pria itu?" tambah William.
''Sabar Will, tidak semudah itu mencari apalagi di daerah ini banyak sekarang kasus yang dialami Leonore. Semoga saja Leonore tidak apa-apa di luar sana,'' potong Indra.
''Aku tidak bisa menunggu Indra. Leonore di luar sana pasti menderita. Bagaimana kalau ia kelaparan di luar sana, tempatnya berteduh juga dimana?" Indra mengangguk mengerti dia juga khawatir karena Leonore wanita yang begitu polos.
''Kita lebih baik kembali untuk sementara William, esok kita mencarinya lagi,'' ucap Indra.
''Aku tidak bisa Indra, aku merasa ada sesuatu yang mengikat kami berdua.'' Indra menaikkan alisnya mendengar ucapan sahabatnya itu.
''Kau sudah mencintainya?" Hal yang tidak terduga membuat kedua bola mata Indra melotot.
''Sudah, tidak tahu sejak kapan aku sudah mencintainya Indra,'' jawabnya spa.
''Congratulation sobat, ternyata pria karatan ini sudah jatuh cinta dengan wanita aneh.'' Indra spontan tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan William.
''Plak! Rasakan ini!'' William kesal hingga Indra harus mengusap kepalanya.
''William sakit,'' teriaknya.
__ADS_1
Para pengawal ingin tertawa melihat kedua majikan itu namun mereka tahan karena tugas belum selesai.
''Di mana kau Leonore? Tolong kembalilah karena banyak yang ingin aku katakan kepadamu,'' ucapnya dalam hati sambil melihat ke atas langit yang mendung.