
William terlihat begitu bahagia sekali sekarang keluarganya berkumpul seperti sedia kala. Bahkan kehadiran seorang putra membuatnya semakin bersemangat untuk mencintai Leonore.
Leonore hanya bisa terdiam melihat antusias William yang begitu menyayangi putra mereka berdua.
''Kau bahagia?" tanya Leonore.
''Ya, aku tidak menyangka sekarang sudah menjadi seorang ayah,'' balas William.
''Aku sudah tahu kau pasti tidak mau melepaskanku apalagi dengan keadaanku sekarang ini,'' lirihnya.
''Kenapa kau mengatakan itu?" William tidak mengerti apa yang dikatakan Leonore.
''Dokter tidak mengatakan sesuatu kepadamu?" William geleng-geleng kepala dia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan Leonore.
''Katakan apa itu?" tanya William semakin penasaran.
''Lupakan!'' Namun bagi William dia tidak akan pernah putus asa untuk mencari tahu apa yang dikatakan Leonore barusan.
''Kenapa kau berbohong kepada aku mengenai kehamilanmu ini?" Leonore menundukkan wajahnya dia menoleh samping jendela di luar sana sudah gelap.
''Kalau aku menceritakan apa kau mau bertanggung jawab waktu itu?" tanya Leonore.
__ADS_1
''Maaf, aku terlalu bodoh telah mempercayai Rachel, Leonore,'' lirih William.
Leonore baru sadar mengenai Rachel dia begitu takut terhadap wanita itu yang begitu terobsesi.
''Lupakanlah karena semuanya sudah berlalu aku tidak mau mengingat itu semua.'' William semakin bersalah terhadap Leonore.
Perasaannya semakin tidak karuan apalagi Leonore tidak mau banyak bicara kepadanya.
''Kau sudah membuat nama putra kita?" alih William.
''Belum.'' William langsung memberikan nama kepada putra mereka yang bernama Ali Mansyur.
''Dia akan terus membawa nama ini dan menjadi berkah untuknya,'' ucap William.
''Apa yang kau lakukan selama ini?" tanya Leonore mengalihkan obrolan.
''Aku menjadi seorang pria yang tidak tahu arah tujuan selama kepergianmu dari rumah. Tanpa mu rumah sepi bagaikan tidak berpenghuni.'' William tertawa kecil mengingat semuanya itu dia benar-benar bodoh.
''Mamah?" tanyanya lagi.
''Mamah yang menggantikan posisi sementara sebagai CEO.'' Leonore mengerti yang dikatakan William.
__ADS_1
Ternyata pria di hadapannya ini juga mengalami hal yang sulit sama seperti dirinya.
Obrolan mereka berdua terhenti karena tangisan baby Ali mengalihkan pandangan.
Leonore dengan cekatan langsung menggendong memberikan susu langsung dari sumbernya.
William tertegun melihat itu padahal dia sudah karena merasakannya. Ingatannya langsung terbayang pada malam kelam itu.
Suara jeritan Leonore memenuhi kepalanya bahkan kelakuannya hampir menyakiti seorang wanita yang sudah membuatnya sekarang jatuh cinta.
''Leonore, apa malam kelam itu kau pingsan?" tanya William dengan hati-hati.
''Aku udah melupakan masalah itu.'' William mengangguk mengerti dia semakin benar-benar bersalah atas perbuatannya dahulu.
Setelah mengobrol cukup lama Leonore memilih untuk istirahat karena masih lelah pasca melahirkan.
Wajah teduh sedang tidur terlelap yang belum sempat dia lihat dengan bebas. William mengusap wajah Leonore secara perlahan agar tidak mengganggu tidurnya.
''Maaf, aku tidak tahu selama ini. Dengan apa aku harus menebus semua perbuatanku kepadamu Leonore?" gumam William.
William tidur di samping baby Ali namun tidak dengan Leonore sama sekali belum bisa memejamkan kedua bola mata ya.
__ADS_1
Ia menatap wajah tampan William yang terlihat begitu lelah bahkan tidak terurus dengan baik.
''Terima kasih masih mau mencari keberadaan ku selama ini. Namun takdir kita tidak tahu bagaimana nanti kedepannya William.'' Leonore mengusap kepala William hingga membuat pria tampan itu semakin terlelap tidur.