
William turun dengan wajah yang terlihat dingin apalagi melihat wajah Rachel ada di sana. Wanita itu langsung berlari kecil ketika melihat wajah tampan William.
"Sayang, kamu tahu aku semalam menginap di sini," ucapnya sambil bergelayut manja.
"Lepaskan! Aku mau sarapan pagi!" ucapnya tidak peduli.
"Mau makan apa tadi aku sudah request sarapan pagi?" tanya Rachel lalu duduk samping William.
Leonore kembali dari dapur ia sama sekali tidak tertarik melihat sepasang kekasih itu. Selera makan pagi tidak ada apalagi mau lihat wajah Rachel yang bermuka dua.
"Sekalian saja wanita ini istrinya," batin Leonore lalu kembali masuk ke dapur karena melewati mereka berdua sama saja membuat api.
"Kau mau kemana, kembali ke sini?" perintah William.
Leonore menghentikan langkahnya langsung berbalik namun tidak mengikuti perintah William.
"Saya hendak memasak Tuan, banyak menu yang belum selesai dimasak pelayan," alasannya.
"Duduk di sini!" tambah William.
"Will, biarkan saja dia memasak kan memang itu pekerjaannya?" potong Rachel.
"Diam kau! Aku bicara dengan ia bukan kau?!" bentak William.
Rachel tergelonjak kaget mendengar bentakan William kalau bukan karena Leonore, dia mana pernah menerima bentakan seperti itu.
__ADS_1
"Awas kau Leonore. William banyak berubah karena kehadiranmu," ucapnya dalam hati.
"Apa kau akan tetap berada di sana?!" panggil William lagi.
"Ya Tuan," jawab Leonore datar.
"Kau di sana duduk!" usir William kepada Rachel.
"Kog aku di sana wanita Will? Aku kan calon istri mu?" tanyanya tidak terima.
William berusaha untuk tidak mendengar apa yang dikatakan Rahel. Sesuai dengan keinginan pria dewasa itu akhirnya mengikuti perintah
"Masih calon, Leonore sudah istriku!" Wajah Rachel merah padam.
Dia benar-benar malu di hadapan Leonore pagi ini karena terlalu banyak yang membela ya. Akhirnya Rachel pindah di bangku sebelah Leonore.
"Ikut aku!" ucap William.
"Ke mana?" tanya Leonore berusaha menolak.
"Will, biarkan saja ia di sini membantu pelayan membersihkan meja makan," potong Rachel.
"Kau sepertinya lebih cocok membantu pelayan membersihkan meja makan, Rachel," balas William.
Tidak tahu lagi bagaimana wajah Rachel saat ini karena seluruh pelayan yang ada di situ menertawakan dirinya. Berbeda dengan Leonore, ia sama sekali tidak peduli justru dirinya senang kalau disuruh membersihkan dapur.
__ADS_1
"Sampai kapan aku seperti ini?" batin Leonore sambil melihat punggung William dari belakang.
"Tiap pagi, kalau aku pergi ke kantor ikut aku lalu tunggu kepulangan ku, mengerti!" ucap William datar.
"Ya Tuan," jawabnya singkat.
William masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan sedikitpun dengan wanita yang menginap semalam di rumahnya ini.
"Jangan biarkan wanita itu mengganggu istriku, kau mengerti!" pesan William kepada anak buahnya.
"Baik Tuan," balasnya.
Rachel menghampiri Leonore inilah kesempatannya memberikan pelajaran kedua kalinya.
"Kau?" panggil ya.
"Anda memanggil saya?" tanya Leonore menunjuk dirinya.
"Ya, kemari kau?" tambah Rachel berusaha menahan amarahnya.
"Ada apa memanggilku, pekerjaan masih banyak di belakang jadi saya tidak memiliki waktu yang banyak." Rachel menahan amarahnya karena misi ya harus berhasil nanti.
"Bisa kau beli satu bal pembersih wajah? Aku tidak bisa tanpa itu?" lanjut Rachel.
"Di mana saya membelinya?" tanya Leonore tenang tidak menaruh curiga sedikitpun ada sesuatu di balik ini.
__ADS_1
"Ini alamatnya!" Leonore sama sekali tidak terkejut langsung menerima duit itu.